Faktor Pre-natal dan Post-natal yang Berkaitan dengan Kejadian Stunting di Area Pesisir Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh generasimaju.co.id

Stunting di Indonesia masih memiliki angka kejadian yang lebih tinggi daripada standar WHO. Standar WHO untuk kejadian stunting secara global adalah 20%, namun angka kejadian stunting di Indonesia masih mencapai angka 29,6% (RISKESDAS, 2013).

Malnutrisi yang terkait dengan stunting merupakan masalah yang signifikan. Salah satu faktor penyebab stunting adalah malnutrisi jangka panjang yang terjadi pada 1000 hari pertama kelahiran sejak awal konsepsi hingga usia dua tahun. Faktor risiko stunting adalah pre-natal dan post-natal. Faktor pre-natal berperan penting dalam mencegah stunting dan berdampak lama pada pertumbuhan anak. Faktor lain termasuk mendapatkan vaksinasi lengkap, kurangnya pendidikan ibu, inisiasi menyusui yang terlambat, dan memiliki penyakit menular. Sanitasi yang buruk, kemiskinan, ketimpangan sosial, dan kerawanan pangan juga menjadi faktor penyebab stunting.

Status gizi ibu selama 1000 hari pertama kehidupan sejak konsepsi merupakan salah satu faktor risiko terjadinya stunting. Anemia kehamilan trimester kedua mempengaruhi pertumbuhan bayi setelah melahirkan. Bayi yang ibunya tidak anemia pada trimester kedua memiliki berat badan lebih, serta memiliki panjang tubuh dan lingkar kepala yang lebih besar. Mengkonsumsi tablet zat besi setiap minggu selama kehamilan dikaitkan dengan peningkatan berat dan panjang neonatus. Pertambahan berat badan yang memadai dalam kehamilan juga berkontribusi terhadap berat dan panjang neonatus.

Hasil penelitian longitudinal menunjukkan bahwa bayi dengan berat badan lahir rendah tidak dapat mengalami pemulihan tinggi badan pada tahun pertama walaupun bayi tersebut berada dalam keluarga yang lebih sejahtera. Pemberian ASI juga mempengaruhi pertumbuhan bayi setelah melahirkan. Komponen protein dan lemak dalam ASI mempengaruhi pertumbuhan panjang bayi. Anak-anak yang pendek memiliki risiko yang jauh lebih tinggi untuk mengalami masalah kesehatan jangka panjang dibandingkan mereka yang tidak mengalami stunting. stunting juga berkontribusi terhadap kematian, morbiditas, dan kecacatan anak, termasuk gangguan pertumbuhan fisik dan kognitif.

Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional. Populasi penelitian adalah anak usia 6-24 bulan dan menggunakan teknik multistage random sampling. Wilayah populasi yang digunakan untuk penelitian adalah puskesmas dan posyandu (pos pelayanan terpadu). Pengacakan dilakukan di tingkat puskesmas sehingga diperoleh tiga puskesmas. Kemudian dilakukan pengacakan di tingkat posyandu yang terletak di tiga puskesmas untuk mendapatkan 10 posyandu. Masing-masing posyandu diambil sampel masing-masing 10 sampel dengan kriteria inklusi yaitu memiliki buku KIA lengkap (ada data berat badan saat hamil, tinggi badan, berat badan saat akhir kehamilan, kadar hemoglobin kedua trimester kehamilan, konsumsi tablet zat besi, berat dan panjang lahir bayi). Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar pengumpulan data. Data yang dikumpulkan meliputi informasi pribadi, riwayat antenatal, antropometri bayi, dan riwayat diet bayi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor pre-natal yang berkaitan dengan kejadian stunting pada balita adalah kecukupan konsumsi zat besi selama kehamilan dan status ananemia ibu hamil saat trimester kedua. Sedangkan faktor post-natal yang berkaitan dengan kejadian stunting adalah pemberian ASI eksklusif pada balita. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ibu hamil yang mengalami anemia selama trimester kedua, akan melahirkan bayi dengan kejadian stunting 4,3 kali lebih tinggi dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak mengalami anemia. Selain itu, balita yang tidak mendapatkan ASI eksklusif memiliki kejadian stunting yang 3,75 kali lebih tinggi dibandingkan dengan balita yang mendapatkan ASI eksklusif. Konsumsi zat besi juga sangat menentukan kejadian stunting yang dialami oleh balita, yaitu ibu yang tidak mengkonsumsi zat besi selama hamil dengan jumlah yang cukup sesuai anjuran, akan melahirkan balita yang mengalami stunting 3,39 kali lebih tinggi dibandingkan dengan ibu yang mengkonsumsi zat besi (tablet FE) sesuai anjuran.

Hasil penelitian ini dapat menjadi gambaran tentang pentingnya ibu hamil untuk mengkonsumsi tablet zat besi sesuai anjuran. Dengan mengkonsumsi tablet zat besi, maka dapat mencegah ibu hamil mengalami anemia. Zat besi sangat dibutuhkan untuk ibu hamil agar kadar hemoglobin sebagai pembawa oksigen dapat tercukupi. Sehingga asupan oksigen yang diterima oleh janin juga tercukupi. Dengan hasil penelitian ini diharapkan bahwa ibu-ibu hamil dapat patuh kepada anjuran petugas kesehatan untuk mengkonsumsi tablet zat besi yang sudah diberikan setiap kali melakukan pemeriksaan kehamilan. Pencegahan stunting merupakan tanggungjawab semua orang, karena anak adalah masa depan bangsa. Generasi penerus yang sehat akan menentukan kualitas bangsa di masa mendatang.

Penulis: Ilya Krisnana

Informasi detil dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di : https://sljch.sljol.info/articles/abstract/10.4038/sljch.v49i3.9138/

Krisnana I, Widiani, NM, Sulistiawati, S. Prenatal and postnatal factors related to the incidence of stunting in the coastal area Surabaya, Indonesia. Sri Lanka Journal of Child Health. 2020;49(3):223-229.  

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu