Deteksi Dini Kanker Serviks Berdasarkan Pengetahuan, Sikap dan Budaya

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh lifepack.id

Kematian karena kanker serviks di kalangan wanita masih tinggi. Pemeriksaan untuk mendeteksi kanker serviks secara dini sangat diperlukan untuk mencegah kematian. Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) adalah pemeriksaan untuk mendeteksi kanker serviks secara dini yang dilakukan oleh tenaga medis dengan memmberikan asam asetat/asam cuka 3%-5% pada serviks dilanjutkan pemeriksaan secara visual.

Teknik pemeriksaan IVA cukup mudah dan tidak menyakitkan. Namun demikian, kurang dari 5% wanita yang sudah menikah atau mereka yang telah melakukan hubungan seksual menjalani deteksi dini tersebut, sehingga tim peneliti merasa perlu untuk mengetahui faktor risiko rendahnya angka pemeriksaan tersebut. Daerah yang dipilih adalah sebuah kecamatan di Surabaya yang angka deteksi IVA-nya masih rendah. Tim melakukan penelitian pada tahun 2019. Wawancara dilakukan terhadap wanita baik yang pernah maupun tidak pernah menggunakan layanan IVA. Wawanvara dilakukan di rumah responden yang sebagian besar (67,35%) berumur lebih dari 30 tahun, menggunakan kuesioner tertutup untuk mengetahui  tingkat pengetahuan tentang IVA, sikap terhadap IVA dan budaya lokal IVA menurut persepsi responden.

Dalam penelitian tersebut  terungkap bahwa rata-rata lama pernikahan responden adalah 16,18  tahun;  jumlah rata-rata pasangan seksual seumur hidup adalah 1,05; jumlah anak dari responden  rata-rata adalah 2,27; usia pertama kali melakukan hubungan seksual rata-rata adalah  21,72 tahun. Sebanyak 33,67% responden berpengetahuan baik, 68,37% bersikap baik dan 50% menganggap budaya lokal mendukung IVA. Pertanyaan tentang pengetahuan yang paling sering dijawab tidak tepat adalah pada usia berapa IVA dibutuhkan, sedangkan mengenai sikap yang ķurang baik adalah bahwa melakukan IVA cukup hanya sekali dalam seumur hidup. Mengenai budaya, banyak responden berpikir bahwa lingkungan mereka akan menyarankan IVA perlu dilakukan jika ada gejala kanker serviks.

Ternyata pengetahuan, sikap dan budaya IVA berpengaruh terhadap penggunaan layanan IVA oleh responden.  Pengetahuan merupakan landasan seseorang melakukan IVA atau tidak. Mereka yang berpengetahuan baik 7,284 kali cenderung menggunakan layanan IVA. Hal ini sesuai dengan teori Rogers bahwa kenaikan tersebut diperoleh dari peningkatan kesadaran diri dan minat pencegahan penyakit merupakan tahap yang dilalui oleh seseorang sebelum ia mengadopsi praktik kesehatan. Penyuluhan atau penyebaran informasi bisa dilakukan secara massal di media sebagai upaya meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang deteksi dini deteksi IVA Responden yang sikapnya baik terhadap IVA 3,864 kali cenderung  menggunakan layanan. Praktek penggunaan layanan IVA yang didasari oleh sikap yang positif, maka perilaku akan langgeng (lama abadi). Mereka yang menganggap budaya mereka  mendukung penggunaan IVA  2,13 kali lebih banyak menggunakan layanan tersebut. Kesehatan dan kesejahteraan ditemukan secara fundamental dipengaruhi oleh konteks budaya (Napier, 2017).

Dalam penelitian ini responden yang tidak menjalani IVA menyatakan bahwa alasan utama tidak menjalani pemeriksaan itu karena malu. Prosedur pemeriksaan IVA, yang mensyaratkan bahwa bagian kemaluan dilihat oleh petugas kesehatan, merupakan alasan utama orang tidak mau melakukan IVA. Untuk merangsang minat masyarakat untuk melakukan sejak dini pemeriksaan IVA, program deteksi dini IVA, penyedia dan/atau perencana harus mendengarkan, belajar dari, bermitra dengan, dan merespon komunitas itu termasuk wanita usia subur, baik mereka yang memainkan peran aktif atau tidak aktif dalam komunitas.

Kebudayaan di masyarakat itu seperti meremehkan penyakit juga berhubungan dengan rendahnya tingkat pemeriksaan IVA. Peran yang lebih aktif di setiap level masyarakat dan termasuk para pejabat, sangat dibutuhkan mendidik masyarakat lebih serius tentang pentingnya menjalani pemeriksaan IVA. Pesan penting yang didapat dari hasil penelitian tersebut adalah petugas kesehatan perlu menekankan peningkatan pengetahuan wanita dan sikap wanita terhadap IVA, dan memperhitungkan budaya lokal dalam program  IVA.

Penulis : Samsriyaningsih Handayani

Informasi lengkap dari artikel ini dapat diakses pada laman berikut: https://e-journal.unair.ac.id/JNERS/article/view/21250

(Knowledge, Attitude, And Culture Influence Visual Inspection With Acetic A

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu