Tim Delegasi MYMA FH UNAIR Sabet Peringkat 2 di Diponegoro Law Fair 2020

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Potret anggota tim delegasi MYMA FH UNAIR yang mendapatkan Peringkat 2 di Diponegoro Law Fair 2020, Nenes Renata (kiri atas), Rahajeng Dzakiyya (kanan atas), Harven Filippo (kiri bawah), dan Dita Elvia (kanan bawah). (Foto: Dok. Pribadi)

UNAIR NEWS – BSO Masyarakat Yuris Muda Airlangga (MYMA) FH UNAIR kembali menoreh prestasi di tahun 2020, kali ini tim delegasi MYMA FH UNAIR berhasil mendapatkan medali perak di Diponegoro Law Fair 2020, sebuah lomba debat hukum tingkat nasional. Kompetisi tahunan ini diadakan secara daring pada tanggal 23-25 Oktober 2020. Anggota dan peran dari tim delegasi ini adalah Nenes Renata (2019) sebagai pembicara pembuka dan kesimpulan, Dita Elvia (2018) sebagai pembicara pro sekaligus Ketua Delegasi, Harven Filippo (2019) sebagai pembicara kontra, dan Rahajeng Ikbar (2019) sebagai researcher.

Untuk mengulik kisah prestasi mereka lebih lanjut, tim redaksi memutuskan untuk mewawancarai Ketua Delegasi Dita Elvia pada Selasa malam (27/10/2020). Dita mengatakan bahwa tema yang diusung pada Diponegoro Law Fair tahun ini adalah “Teknologi dan Negara Hukum Berlandaskan Pancasila”. Mahasiswa angkatan 2018 itu menambahkan bahwa mosi perdebatan yang diusung merupakan aplikasi dari gabungan mata kuliah yang diajarkan di Ilmu Hukum, seperti Hukum Perdagangan Internasional, Hukum Lingkungan, dan Hukum Pertambangan.

“Terdapat 10 mosi perdebatan yang harus kami persiapkan di perlombaan ini sejak tanggal 7 September karena kita tidak akan tahu mosi apa yang kami perdebatkan di setiap babak, jadi harus kita persiapkan semua. Contoh mosinya yang kami dapat waktu babak semi final adalah “Penghentian Larangan Ekspor Nikel sebagai Upaya Hilirisasi Pertambangan di Indonesia” dan ketika babak final, mosi yang diperdebatkan adalah “Penggunaan Autonomous Weapons System dalam Konflik Bersenjata Internasional”,” paparnya.

Dita menuturkan bahwa terdapat suatu tantangan baru dalam mengikuti kompetisi debat hukum daring. Banyak hal yang harus diadaptasi mulai dari keharusan untuk melakukan latihan secara daring dan mekanisme debat yang sangat berbeda dengan kompetisi debat hukum secara luring. Namun ia mengatakan bahwa tim perwakilan sangat senang dan bangga karena tetap dapat menoreh suatu bentuk prestasi yang membanggakan di tengah keterbatasan ini.

“Tentu ini merupakan kebanggaan yang sangat besar ya untuk saya dan kawan-kawan. Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk dosen-dosen dan kakak-kakak di MYMA yang telah membantu kami menoreh Juara 2 ini. Harapan kami adalah teman-teman lainnya dapat tetap termotivasi untuk menoreh prestasi-prestasi yang membanggakan sekalipun pandemi belum usai,” tutupnya.

Perlu diketahui bahwa ini bukan kali pertama Harven, Dita, Nenes, dan Ajeng, menjuarai lomba debat hukum. Brawijaya Law Fair dan Parahyangan Law Competition adalah beberapa contoh lomba yang sudah pernah dijuarai oleh mereka

Penulis: Pradnya Wicaksana

Editor: Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu