Keparahan Gigi Berlubang dengan Kondisi Elektrolit Air Liur dalam Mulut Anak dengan Cerebral Palsy

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh cdc.gov

Cerebral Palsy dideskripsikan sebagai kelainan perkembangan pergerakan dan postur tubuh akibat gangguan dalam perkembangan otak saat janin atau bayi sehingga menyebabkan keterbatasan aktivitas. Kelainan pergerakan atau motorik pada cerebral palsy sering diikuti dengan gangguan sensasi, kognisi,komunikasi, persepsi, perilaku, kejang , kelemahan, kekakuan atau paralisis otot ,keseimbangan yang buruk atau gangguan berjalan yang irregular  dan gerakan yang tidak terkoordinasi atau tidak disengaja. Berdasarkan Data Riskesdas pada tahun 2010 didapatkan prevalensi anak yang terkena Cerebral Palsy dengan usia 24-59 bulan adalah 0,09%.

Dengan adanya gangguan pergerakan pada anak Cerebral Palsy maka kemampuan untuk merawat kebersihan rongga mulut anak dengan Cerebral Palsy sangat rendah. Maka dari itu gigi berlubang merupakan salah satu masalah yang sering timbul pada anak Cerebral Palsy, baik di saat geligi sulung maupun gigi dewasa. Dimana pada beberapa studi terdahulu ditemukan bahwa angka kejadian gigi berlubang pada anak dengan Cerebral Palsy lebih tinggi, bila dibandingkan anak normal.

Penyebab gigi berlubang dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, salah satunya dalam studi ini diteliti mengenai saliva (air liur) pada anak Cerebral Palsy. Air liur memiliki kemampuan untuk melindungi gigi melalui beberapa sifatnya  meliputi, asam basa air liur, kemampuan air liur menetralkan asam, kandungan kalsium, fluoride, dan fosfor. Jumlah volume dan kekentalan air liur juga mempengaruhi angka kejadian gigi berlubang.

Pada anak dengan cerebral palsy keadaan hipohidrasi atau kurangnya asupan air sering ditemukan, karena mereka memiliki gangguan pergerakan, komunikasi, kognisi dan sensasi sehingga mereka tidak dapat mengkomunikasikan dan merasakan sensasi apa yang dirasakan.  Keadaan ini mengakibatkan anak cerebral palsy sangat tergantung pada inisiatif orang tua atau pengasuh untuk mendapatka asupan. Keadaan hipohidrasi pada anak cerebral palsy dapat menyebabkan terjadinya penurunan jumlah volume air liur, total konsentrasi protein, dan peningkatan osmolalitas dari air liur. Osmolalitas sendiri adalah jumlah partikel solut yang terkandung dalam satu kilogram air.

Berdasarkan studi yang telah dilakukan didapatkan bahwa adanya penurunan jumlah air liur pada anak cerebral palsy sebesar 74%, dimana adanya gerakan tidak terkontrol pada anak cerebral mengakibatkan kesulitan dalam pengukuran jumlah air  liur. Maka dari itu pengukuran osmolalitas menjadi pilihan untuk mengukur resiko gigi berlubang pada anak Cerebral Palsy yang memiliki korelasi secara signifikan dengan jumlah air liur.

Studi dilaksanakan di Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) dan Yayasan Peduli Cerebral Palsy (YPCP) Surabaya melibatkan 33 anak Cerebral palsy, beberapa pemeriksaan dilakukan antara lain; perhitungan jumlah gigi berlubang (DMF-T) sesuai dengan kriteria WHO,  pengumpulan air liur tanpa terstimulasi untuk pengukuran osmolalitas dan jumlah ion Na+, Cl-, K+. Dari pemeriksaan terhadap 33 anak cerebral palsy didapatkan 17,6% berada pada fase geligi sulung, 35,3% berada pada fase geligi bercampur dan 47,1% berada pada fase geligi permanen. Serta ditemukan bahwa anak Cerebral Palsy dalam fase geligi sulung memiliki angka kejadian gigi berlubang sangat tinggi.

Salah satu faktor resiko terjadinya gigi berlubang adalah penuruan jumlah air liur. Penurunan jumlah air liur anak cerebral palsy berhubungan dengan kurangnya asupan air atau keadaaan hipohidarsi. Hipohidrasi akan mengakibatkan ketidakseimbangan osmotik pada kelanjar airliur sehingga terjadi penurunan fungsi kelenjar airliur. Penurunan fungsi kelenjar airliur sejalan dengan penurunan  jumlah airliur dan meningkatkan osmolalitas. Peningkatan osmolalitas behubungan dengan angka kejadian gigi berlubang pada anak cerebral palsy. Dimana osmolalitas yang tinggi maka level elektrolit rendah. Jika level elektrolit airliur (ion Na+, Cl-, K+) menurun, maka resiko kejadian gigi berlubang meningkat.

Penulis: Mega Moeharyono Puteri

Informasi detail dari artikel ini dapat diakses pada laman berikut: http://jurnal.pdgi.or.id/index.php/ijpd/article/view/309

(Hubungan osmolalitas dan level elektrolit saliva terhadap prevalensi karies anak cerebral palsy)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu