Rekonstruksi Tulang Kepala yang Membesar pada Hidrosefalus

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Bulelengkab.co.id

Makrosefali atau pembesaran kepala akibat hidrosefalus yang ukurannya ekstrem masih ditemui di negara-negara berkembang karena keterlambatan pengobatan, hidrosefalus yang berkembang pesat dan masalah sosial ekonomi keluarga. Kepala yang sangat besar ini akan memberikan dampak kepada penderita dan keluarga yang merawat. Pengaruh pada penderita adalah hendaya dalam bergerak karena kepala yang berat, kulit yang sangat tipis, penekanan pada kulit bagian belakang karena posisi tidur dan bobot kepala, dan efek lanjut berupa luka dekubitus pada kulit kepala. Bagi keluarga, bayi dengan kepala yang sangat besar akan menyulitkan perawatan, sulit untuk digendong atau dimobilisasi, kesulitan menjaga higienitas kulit kepala, serta kesulitan proses perawatan lainnya. Untuk mengatasi masalah tersebut, ada satu teknik operasi rekonstruksi yang dapat dilakukan oleh ahli bedah saraf anak, yaitu kranioplasti reduksi. Teknik ini bertujuan mengurangi ukuran kepala dan mengurangi bobot kepala yang terlalu berat sehingga diharapkan dapat memudahkan perawatan. Untuk mengetahui keamanan dan hasil dari teknik kranioplasti reduksi ini dilakukan penelitian di institusi yang pernah mengerjakan.

Teknik yang digunakan dalam prosedur operasi ini adalah teknik barrel-stave untuk mengurangi ukuran makrosefali hidrosefalus yang ekstrem. Teknik dikejakan pada makrosefali yang ekstrim (lingkar kepala di atas tiga standar deviasi normal), lebih banyak komponen cairan otak dibandingkan dengan komponen parenkim otak, dan berat badan serta usia bayi sudah mampu menahan beban operasi berupa operasi yang cukup lama dan risiko kehilangan darah. CT scan 3 dimensi dengan rekonstruksi tulang kepala diperlukan untuk memperkirakan arah dan banyaknya pemotongan tulang, kelengkungan tulang dan dasar tengkorak, serta besar maksimum pengurangan yang dapat dilakukan. Setelah dibuat desain yang diinginkan, operasi dilakukan dengan persiapan darah yang cukup dan pengawasan anestesi yang ketat.

Beberapa pitfall yang perlu diperhatikan adalah jumlah cairan otak yang akan dikeluarkan untuk mengurangi besarnya ruang intrakranial, lipatan dura terutama pada daerah sinus, dan jumlah perdarahan dari tulang yang seringkali sulit dihentikan. Pada anak atau balita yang telah terpasang selang VP shunt sebelumnya, risiko infeksi dan pembuntuan slang juga harus diperhatikan. Manipulasi terhadap slang VP shunt dilakukan seminimal mungkin untuk mengurangi risiko. Paparan slang juga dilakukan dengan hati-hati agar tidak terbuka atau terpotong saat melakukan pemotongan tulang kepala. Reposisi slang setelah dilakukan pemotongan tulang kepala juga perlu diperhatikan agar slang tidak tertekuk sehingga mengalami pembuntuan.

Tiga pasien pasca-pengalihan menjalani rekonstruksi bedah. Anak- anak dengan lingkar kepala lebih atau sama dengan dua standar deviasi di atas rata-rata pada usia tertentu, tidak ada luka aktif di area operasi, presentasi “potensi cairan yang dapat dilepas” yang cukup yang memungkinkan pengurangan dura dan tidak ada infeksi shunt aktif yang memenuhi syarat. Prosedur bedah termasuk modifikasi pi, teknik laras-stave, dan pengalihan cairan serebrospinal dan pengumpulan subdural. Data klinis dicatat. Tiga pasien dengan rentang usia 2 bulan hingga 2 tahun menjalani operasi. Dua pasien harus menjalani pemasangan VP shunt setidaknya satu bulan sebelum operasi dan satu pasien memiliki prosedur ETV 3 bulan sebelum pengurangan. Lingkar frontal-oksipital sebelum operasi berkisar antara 50 hingga 63 cm. Pengurangan maksimum yang bisa dicapai adalah 15 cm. Satu pasien (2 bulan) meninggal dalam waktu 24 jam karena kegagalan untuk mengatasi kehilangan darah yang berlebihan. Dua pasien ditindaklanjuti selama 3 bulan dan 6 bulan tanpa komplikasi. Pengurangan cranioplasty menggunakan teknik barrel-stave adalah pilihan untuk anak-anak dengan kepala besar yang ekstrim yang memiliki masalah mekanis atau kosmetik. Risiko dan pitfall harus dipertimbangkan dan dirawat dengan cermat, terutama usia dan kehilangan darah. Gangguan tumbuh kembang yang telah ada tidak membaik dengan operasi rekonstruksi tulang ini.

Walaupun metode ini aman, perlu diperhatikan beberapa pitfall yang dapat mengakibatkan komplikasi. Penjelasan yang detil tentang risiko harus ditekankan kepada orang tua. Metode pengurangan besar tulang kepala pada hidrosefalus ini tidak bertujuan untuk memperbaiki kondisi otak yang sudah rusak oleh hidrosefalus. Gangguan tumbuh kembang yang terjadi tidak dapat diatasi hanya dengan mengurangi besarnya kepala.

Penulis: Dr. Wihasto Suryaningtyas, dr., Sp.BS

Informasi lengkap dari artikel ini dapat diakses pada laman berikut: https://e-journal.unair.ac.id/FMI/article/view/21237

Wihasto Suryaningtyas, Muhammad Arifin Parenrengi. Cranial Vault Reduction Cranioplasty For Severe Hydrocephalus. Folia Medica Indonesiana, Vol. 56 No. 2 June 2020 : 154-158

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu