Menilik Tantangan dalam Melestarikan Batik Sebagai Identitas Budaya Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Merdeka.com

Salah satu produk lokal dalam industri tekstil khas Indonesia adalah batik. Batik adalah kebanggaan besar dan merupakan jati diri Bangsa Indonesia, yang merupakan pesan kuat untuk dunia, khususnya bagi negara yang mengklaim diri sebagai pencetus batik, karena kekayaan intelektual tersebut telah dinyatakan oleh UNESCO sebagai warisan Bangsa Indonesia.

Popularitas batik mulai meningkat pada akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19. Munculnya batik cap menandai era industrialisasi. Selain itu, sejak industrialisasi dan globalisasi mulai memperkenalkan teknik otomatisasi, muncul batik jenis baru, yakni batik printing. Batik printing ini banyak mempengaruhi arah industri perbatikan karena prosesnya yang lebih cepat dan harganya jauh lebih murah dibandingkan batik tulis.

Dalam hal ekonomi, batik sudah banyak dijual di seluruh dunia, tidak hanya di Asia Tenggara, melainkan juga di Eropa, Afrika, Amerika, dan lain sebagainya. Pengunjung merasa bangga dapat membawa pulang kain tersebut sebagai hadiah untuk keluarga, teman-teman, orang tersayang, dll. Industri tekstil batik memberikan banyak aset dan keuntungan bagi masyarakat sekitar. Manfaat positif yang luar biasa tersebut mampu mendongkrak ekspor-impor yang dapat meningkatkan devisa negara. Meskipun demikian, banyak tantangan yang muncul, yakni terkait dengan aspek kualitas lingkungannya serta dampak globalisasi yang membawa pengaruh negatif bagi industri batik, seperti munculnya hambatan dan tantangan dalam pengembangan sektor industri dalam negeri, karena sebagian besar masyarakat cenderung memilih produk impor daripada produk lokal.

Terkait dengan aspek lingkungan, kain batik masih perlu mengatasi masalah sehubungan dengan limbah kimia, termasuk limbah Alkaline, Biological Oxygen Demand (BOD), suhu air limbah dan padatan tersuspensi yang dianggap merusak kualitas lingkungan meskipun beberapa klaim menyatakan bahwa produk batik ramah lingkungan. Beberapa produk batik terbukti kurang ramah lingkungan dan tidak berkelanjutan yang disebabkan oleh penggunaan bahan kimia yang berlebihan. Proses produksi merupakan sumber utama munculnya sampah, yang dihasilkan selama proses pewarnaan, pencelupan, pencucian, dan pengemasan. Selain itu, dalam menghadapi globalisasi, diperlukan modifikasi untuk menjadikan batik sebagai kain yang bebas dari limbah kimiawi yang memaksa industri lokal untuk menjunjung tinggi produksi kain yang ramah lingkungan.

Faktanya, globalisasi adalah interaksi dan pertukaran dunia, baik melalui teknologi, politik, budaya maupun perdagangan. Selama satu dekade terakhir ini, banyak terjadi impor ilegal dari China senilai Rp290 miliar. Selain itu, kehadiran teknologi informasi semakin mempercepat arus globalisasi, yang kemudian menimbulkan beragam ancaman yang harus diatasi semata-mata untuk kepentingan masyarakat lokal. Arus cepat globalisasi ini menyebabkan menurunnya kecintaan masyarakat terhadap produk lokal, kemampuan konsumen untuk memilih serta membeli produk lokal pun menurun.

Globalisasi telah membawa nuansa dan nilai budaya yang mempengaruhi selera dan gaya hidup masyarakat. Melalui media, penerimaan informasi dan berita barat menjadi semakin gencar, yang kemudian mendorong masuknya peradaban baru yang datang dari seluruh penjuru dunia. Tidak dapat disangkal bahwa globalisasi kini telah menjadi kata yang telah didengar secara luas di seluruh dunia sejak awal abad ke-21. Harapannya, gkobalisasi ada untuk menyatukan seluruh komunitas di mana perubahan akan dirasakan secara kolektif, sedangkan di lain sisi, globalisasi juga mempengaruhi banyak orang di seluruh wilayah, negara, menggulingkan industri tekstil dan menghilangkan budaya lokal, mempengaruhi gaya hidup dan lingkungan kita.

Berbagai upaya telah dilakukan baik oleh pemerintah daerah maupun pusat untuk mengatasi hal tersebut. Selain itu, banyak peneliti telah melakukan studi yang berskala besar yang bertujuan untuk mencari tahu masalah dengan harapan studi tersebut dapat memperkenalkan solusi mengenai strategi untuk mempertahankan budaya lokal dalam menghadapi globalisasi. Tampaknya langkah-langkah tersebut hanya ada di buku teks, tetapi tidak memiliki jawaban yang nyata untuk menangkis ancaman globalisasi terhadap nilai-nilai budaya lokal, terutama dalam perdagangan seperti ekspor-impor.

Oleh karena itu, upaya penanggulangan harus dilakukan agar budaya Indonesia tetap berjaya. Berbagai cara dapat dilakukan dalam melestarikan budaya, namun yang terpenting adalah kesadaran harus dipupuk dan rasa memiliki serta mencintai budaya lokal harus dimiliki setiap orang Indonesia. Tulisan ini memiliki tiga tujuan, yaitu meneliti kualitas dan kelestarian lingkungan batik, serta mengkaji kapasitas dan kemauan masyarakat setempat untuk membeli produk batik. Baik pemerintah daerah maupun pusat harus bekerja bahu membahu untuk memiliki teknologi baru yang berkembang seiring dengan nilai filosofis budaya yang lebih baik guna meningkatkan kualitas batik.

Penulis: Jean Jacques Fanina, Falih Suaedi

Sumber Scopus:

https://www.scopus.com/record/display.uri?eid=2-s2.0-85091908033&origin=resultslist&sort=plf-f&src=s&st1=CHALLENGES+IN+PRESERVING+BATIK+AS+INDONESIA%27S+CULTURAL+IDENTITY+FACING+GLOBAL+DEMAND+OF+SUSTAINABLE+ECO-FRIENDLY+FABRIC&st2=&sid=eb8d6b036992991550f0992daca0d4a4&sot=b&sdt=b&sl=134&s=TITLE-ABS-KEY%28CHALLENGES+IN+PRESERVING+BATIK+AS+INDONESIA%27S+CULTURAL+IDENTITY+FACING+GLOBAL+DEMAND+OF+SUSTAINABLE+ECO-FRIENDLY+FABRIC%29&relpos=0&citeCnt=0&searchTerm

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu