Efek Exercise pada Jaringan Periodontal Gigi Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ILUSTRASI diabetes melitus. (Foto: klikdokter.com)
ILUSTRASI diabetes melitus. (Foto: klikdokter.com)

Diabetes mellitus adalah salah satu penyebab utama kematian di dunia. Prevalensi penderita diabetes mellitus di dunia saat ini adalah 195 juta jiwa dan akan terus meningkat setiap tahun. Sekitar 97% di antaranya adalah penderita DM tipe 2. Menurut Hasil Riset Kesehatan Dasar Departemen Kesehatan RI, pada 2008 penderita DM di Indonesia mencapai 12 juta orang.

Diabetes mellitus (DM) adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf, dan pembuluh darah. Menurut ADA (2009), diabetes mellitus merupakan suatu penyakit kronik akibat pankreas tidak menghasilkan cukup insulin atau tubuh tidak dapat memanfaatkan insulin yang diproduksi secara efektif, dan menyebabkan konsentrasi glukosa dalam darah meningkat.

Diabetes mellitus tipe 2 merupakan hasil dari kombinasi ketidakmampuan sel untuk merespons insulin (resistensi insulin) dan kompensasi sekresi insulin yang tidak memadai akibat kegagalan relatif sel B, sehingga menyebabkan kegagalan penyerapan glukosa ke dalam otot dan hati.

Diabetes mellitus dan penyakit periodontal saling terkait, yaitu individu yang menderita diabetes berisiko tinggi terkena diabetes. Penatalaksanaan diabetes mempunyai tujuan akhir untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas DM, yang secara spesifik ditujukan untuk mencapai 2 target utama, yaitu: menjaga agar kadar glukosa darah berada dalam kisaran normal dan mencegah atau meminimalkan kemungkinan terjadinya komplikasi diabetes. Pada dasarnya ada dua pendekatan dalam penatalaksanaan diabetes, yang pertama pendekatan tanpa obat dan yang kedua adalah pendekatan dengan obat.

Pendekatan tanpa obat dapat berupa pengaturan diet dan olah raga. Sedangkan, pendekatan dengan obat, yaitu berupa terapi insulin atau terapi obat hipoglikemik oral atau kombinasi keduanya. Sehingga, dapat disimpulkan kerangka utama penatalaksanaan DM, yaitu perencanaan makan, latihan jasmani, terapi farmakologis dan penyuluhan atau konseling pada penderita diabetes oleh para praktisi kesehatan.

Penyakit periodontal adalah penyakit jaringan penyangga gigi yang dipicu oleh akumulasi plak gigi. Gambaran klinisnya disebabkan oleh respons radang dan respons imun yang dihasilkan. Ada dua kategori diagnostik penyakit periodontal, yaitu gingivitis dan periodontitis. Gingivitis adalah adanya peradangan gingiva yang ditandai dengan kemerahan gingiva, bengkak, dan perdarahan. Periodontitis adalah adanya peradangan pada tempat di mana perlekatan gigi ke tulang alveolar sehingga mengakibatkan berkurangnya perlekatan akar gigi pada tulang. Secara klinis, periodontitis biasanya ditandai dengan adanya poket, kehilangan attachment, dan pendarahan pada pemeriksaan dengan probe, dan terdapat kegoyangan gigi.

Penyakit ini merupakan penyakit yang disebabkan bakteri dan dipengaruhi banyak faktor, di antaranya adalah faktor local, faktor sistemik, genetik, serta lingkungan. Beberapa faktor risiko yang terkait, antara lain: faktor sistemik seperti Diabetes Mellitus, dan HIV; faktor genetik, yaitu jenis kelamin dan etnik; faktor lingkungan seperti oral hygiene, merokok, stres psikologis.

Diabetes mellitus merupakan faktor risiko terjadinya penyakit periodontal, dan kontrol kadar glukosa darah menjadi faktor yang penting dalam hubungan kedua penyakit ini. Penderita diabetes mellitus dengan kontrol glikemik yang buruk memiliki risiko lebih besar dalam perkembangan kerusakan periodontal. Hubungan antara diabetes dan penyakit periodontal terkait dengan hal-hal yang umum terjadi pada diabetes, seperti gangguan resistensi, perubahan vaskular, perubahan mikroflora oral, dan metabolisme kolagen yang abnormal. Mekanisme efek diabetes terhadap jaringan periodontal tergambar dalam komplikasi mikrovaskular maupun makrovaskular, karena jaringan periodontal merupakan jaringan yang kaya akan vaskularisasi. 

Keadaan hiperglikemia pada diabetes mellitus tipe 2 menyebabkan pembentukan sitokin pro inflamasi yang sering dianggap sebagai penyebab inflamasi kronis pada diabetes. Penatalaksanaan kondisi hiperglikemia pada diabetes mellitus dengan exercise dapat menghasilkan mekanisme pertahanan antioksidan di berbagai jaringan, termasuk pada jaringan periodontal. Exercise juga bermanfaat dengan membangkitkan adaptasi spesifik, seperti peningkatan antioksidan atau aktivitas enzim yang memperbaiki kerusakan oksidatif, meningkatkan resistensi terhadap stres oksidatif dan menurunkan level kerusakan oksidatif .

Exercise juga memiliki efek menguntungkan pada sensitivitas insulin baik pada subjek yang sehat dan juga pada orang dengan resistensi insulin. Pelatihan (training) jangka panjang dapat meningkatkan terhadap sensitivitas insulin melalui beberapa adaptasi pada transportasi glukosa (glucose transport). Temuan lain menunjukkan bahwa olahraga dapat menginduksi peningkatan level sitokin antiinflamasi, misalnya IL-10 dan IL-6 dan sitokin inhibitor (seperti reseptor IL-1 antagonis, TNF-α reseptor). Dengan kata lain, exercise yang dilakukan secara regular dapat menyebabkan mekanisme anti inflamasi.

Dengan menurunnya sitokin pro inflamasi, pada periodontal terjadi peningkatan aliran darah, penurunan level kerusakan tulang, perbaikan jaringan periodontal sehingga status periodontal pada pasien yang melakukan exercise secara teratur menjadi baik. Dengan demikian, diharapkan dengan melakukan exercise secara rutin, dapat mempertahankan kadar glukosa darah dan mencegah komplikasi diabetes mellitus, termasuk pada jaringan periodontal gigi, sehingga menurunkan risiko penyakit periodontal. (*)

Penulis: Karina Mundiratri, drg., Sp.Pros

Informasi detail dari tulisan ini dapat dilihat di:

https://doi:10.35124/bca.2020.20.S1.2907

Mundiratri, Karina; Herdianti, Nur Cecilia; Irmawati, Anis. Effect Of Exercise On Periodontal Tissues Of Diabetes Mellitus Type 2 Patient : A Review. Biochem. Cell. Arch20 (1), 2907-2912

https://doi:10.35124/bca.2020.20.S1.2907

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu