Ahli Biomolekualar UNAIR Paparkan Mutasi Genom SARS-CoV-2 di Indonesia dan Tingkat Keganasannya

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Poster Kegiatan Webinar yang Diadakan oleh ADPRC-OHCC UNAIR

UNAIR NEWS – Sepulah bulan sejak ditemukannya kasus  pertama COVID-19 yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2, per tanggal 23 Oktober tingkat kematian di seluruh dunia mencapai lebih dari 1,2 juta jiwa dari total kasus positif 41 juta jiwa menurut data dari WHO. Di Indonesia sendiri, tercatat lebih dari 377 ribu kasus positif dengan angka kematian yang hampir mencapai 13 ribu jiwa. Sejak whole genome sequencing pertama yang berhasil diisiolasi dari sequncing Wuhan China pada awal Januari 2020, komunitas ilmiah  global dari 58 negara termasuk Indonesia telah bersatu untuk memeperlajari virus corona  baru ini dengan mengirimkan lebih dari 104 ribu genom SARS-CoV-2 ke GISAID.

Untuk membahas hal tersebut, Airlangga Disease Prevention and Research Center-One Health Collaborating Center (ADPRC-OHCC) UNAIR pada Sabtu (24/10/2020) kembali mengadakan webinar bertajuk  “Evolusi SARS-CoV-2 dan Epidemiologi COVID-19” dengan mengundang para pakar yang ahli dibidangnya.

Ahli Biomolekular UNAIR, Prof. Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih. M.Si. diawal pemaparannya menyebut, sebagai akademisi kita mempunyai tiga tanggungjawab utama yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Sebagai peniliti, lanjutnya, keberadaan virus corona yang menyebaban  COVID-19 ini masih dianggap misteri, oleh karenanya kami berupaya untuk mempelajari virus tersebut bahkan sampai ke struktur terkecilnya (molekular).

“Secara database Internasional, Indonesia sudah mampu bersaing dalam pelaporan genom SARS-CoV-2, dimana dari laporan terkahir Indonesia telah melaporkan 114 genom SARS-CoV-2.  Data tersebut memang masih sangat kecil jika dibandingkan dengan data total seluruh  kasus infeksi yang terjadi di dunia,” ujar Wakil Rektor UNAIR Bidang Akademik, Kemahasiswaan dan Alumni tersebut.

Selain itu, sambungnya, tercatat UNAIR melalui Intitute Tropical Disease (ITD), dari data sebanyak 19 whole genome sequencing di Jawa Timur UNAIR menyumbangkan laporan sebanyak 11 data. Lokasi mutasi yang terjadi sampai saat ini, menurut laporan Koyama (2020), mutasi genom dari virus COVID-19 bisa berada pada struktur envelope, membran dan spike virus serta akibat dari tipe mutasinya dapat berupa berat atau ringan.

“Saat ini UNAIR fokus meneliti pada mutasi bagian spike, hal tersebut bukan tanpa alasan, yang mana spike merupakan kandidat vaksin dan spike merupakan pintu gerbang untuk terbukanya sel inang,” jelas Prof. Nyoman.

Strain D614G yang sudah tersebar di hampir seluruh dunia dan sudah sangat banyak diteliti. Akan tetapi, untuk strain mutasi Q677H menjadi hal yang fokus diteliti UNAIR sejak awal ditemukannya di Surabaya pada Maret hingga April 2020. Strain tersebut yang pada awalnya hanya ditemukan pada tiga negara, sekarang sudah dilaporkan sampai ke 27 negara.

“SARS-CoV-2 mengalami mutasi secara adhesi, yang mana terjadi penambahan kodon-kodon kerangka penyususan. Hal tersebut terbukti dengan adanya tambahan asam amino penyusun kerangka yang tidak ditemukan pada virus SARS-CoV sebelumnya, seperti pada kelelawar,” tandas Prof. Nyoman.

Pada akhir Prof. Nyoman menyapaikan sampai saat ini, penelitian mutasi D614G belum terbukti untuk meningkatkan patogenitas namun tingkat penyebarannya memang sudah sangat luas hampir di seluruh dunia. (*)

Penulis: Muhammad Suryadiningrat

Editor: Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu