Obesitas, Lingkar Pinggang dan Adiponektin

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi obesitas. (Sumber: SehatQ)

Obesitas disebabkan oleh penumpukan jaringan lemak subkutan di dalam tubuh akibat kelebihan asupan energi yang tidak diimbangi dengan kecukupan aktivitas fisik. Banyak faktor menjadi penyebab obesitas, namun diduga gaya hidup tidak sehat berkontribusi tinggi selain faktor genetik. Penumpukan lemak di perut banyak menjadi sorotan para peneliti, dan banyak dikaitkan dengan kormobiditas obesitas, termasuk penyakit kardiovaskuler, diabetes tipe 2 dan bahkan kanker.

Jaringan lemak atau adiposa di perut mengalami hipertrofi dan infiltrasi makrofag sehingga menyebabkan inflamasi kronik derajat rendah yang terus menerus sehingga menyebabkan kegagalan fungsi insulin. Selain itu dalam kondisi sehat adiposa juga bertindak sebagai organ endokrin yang menghasilkan adipokin, diantaranya leptin, resistin, adiponektin, dan sebagainya. Adipokin ini bertindak mengatur metabolisme tubuh dan juga sistem imun. Namun karena penumpukan berlebih, fungsi adipokin menjadi terganggu.

Diagnosis obesitas remaja ditegakkan menggunakan indeks massa tubuh (IMT) berdasarkan umur dan gender, jika lebih dari pensentil 95 pada grafik pertumbuhan NCHS-CDC 2000. Namun demikian IMT tidak menggambarkan distribusi lemak tubuh penderita, sehingga tidak semua penderita obesitas memiliki penumpukan lemak perut atau disebut obesitas sentral, yang ditegakkan berdasarkan pengukuran lingkar pinggang.

Adiponektin merupakan salah satu adipokin yang bersifat anti-infl amasi, anti-aterogenik, dan berperan dalam sensitisasi insulin yang didapatkan di jaringan lemak, sehingga distribusi lemak tubuh menentukan kadar adiponektin di dalam darah. Obesitas menyebabkan penurunan produksi adiponektin, namun disisi lain meningkatkan produksi sitokin pro-inflamasi sehingga menyebabkan komplikasi Kesehatan. Penurunan kadar adiponektin disebabkan inflamasi menghalangi ekspresinya di tingkat transkripsi gen pengkode selain juga karena sirkulasi berlebihan asam lemak dalam darah.

Adiponektin menentukan komplikasi sindrom metabolik, maka jika kadarnya turun 1μg/mL kadar adiponektin terjadi peningkatan risiko sindrom metabolik 1,2 kali lipat. Namun pemeriksaan adiponektin memerlukan biaya dan tidak selalu tersedia di semua fasilitas, karenanya deteksi dini melalui pengukuran antropometri diperlukan untuk intervensi dini.

Meskipun tidak ditemukan hubungan kadar adiponektin dengan pengukuran lingkar pinggang, studi lain membuktikan bahwa kadar adiponektin dipengaruhi oleh lingkar pinggang terutama pada remaja laki-laki. Bahkan perubahan kadar adiponektin di dalam darah mengikuti perubahan ukuran lingkar pinggang dan memiliki hubungan yang konstan, karenanya setiap kenaikan lingkar pinggang 1 unit (cm) maka terjadi penurunan adiponektin sebesar 0.39 mg/L.

Penurunan kadar adiponektin bahkan menjadi penyebab tersendiri terhadap kejadian metabolik sindrom yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa darh, penurunan kadar HDL-c, kenaikan trigliserida, dan peningkatan tekanan darah baik sistol maupun distol. Kadar adiponektin berkisar 3–30µg/ml, diekspresikan terutama di liver sehingga produksinya berbanding terbalik dengan peningkatan lingkar pinggang. Pada perempuan, kadarnya ditemukan lebih tinggi dibandingkan laki-laki.

Adiponektin mampu menghambat proliferasi sel otot polos vaskuler. Peningkatan kadar adiponektin berhubungan dengan peningkatan kadar kolesterol HDL yang merupakan faktor protektif terhadap penyakit kardiovaskuler.

Namun demikian kadarnya sangat dipengaruhi oleh ras, usia, jenis kelamin dan genetik. Kondisi hipoadiponektinemia (jika kadar kurang dari 6.65 µg/ml) berhubungan dengan kejadian sindrom metabolik. Penurunan berat badan pasien obesitas melalui modifikasi diet rendah lemak rendah karbohidrat dan aktivitas fisik mampu meningkatkan kadar adiponektin.

Keseluruhan paparan di atas menunjukkan bahwa kenaikan lingkar pinggang menjadi indikator turunnya kadar adiponektin di dalam darah, dan perlu kewaspadaan terhadap kormobiditas obesitas, termasuk insiden dislipidemia, hipertensi dan hiperglikemia. Karena penurunan adiponektin meningkatkan resiko sindrom metabolik. Untuk itu diperlukan intervensi berupa terapi diet sehat seimbang, olahraga fisik dan perbaikan pola tidur.

Penulis: Roedi Irawan

Artikel lengkapnya dapat dilihat pada link berikut ini:

https://e-journal.unair.ac.id/MGI/article/view/14523/10152

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu