JUARA 1 KTI, Inovasi Mahasiswa UNAIR Percepat molting Kepiting Soka

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ILUSTRASI kepiting soka. (Foto: Antara)
ILUSTRASI kepiting soka. (Foto: Antara)

UNAIR NEWS – Salah satu komoditas kepiting bakau yang paling diminati serta bernilai jual yang sangat tinggi adalah kepiting soka. Kepiting soka merupakan kepiting bakau yang sedang mengalami fase ganti kulit (molting).

Berlatar hal tersebut, dua mahasiswi Akuakultur Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (FPK UNAIR) Mei Rifqi Mursyidah dan Mirda Elisafitri membuat Karya Tulis Ilmiah dan berhasil menjadi Juara I tingkat nasional dalam Aquafest Institut Pertanian Bogor.

Karya mereka berjudul “CaVaMolt: Inovasi Molting Stimulan Dari Krokot (Pertula cooleracea L.) dan Cangkang Kerang (Bivalvia) pada Budidaya Kepiting Bakau Berbasis SilvoFishery System”. Mei Rifqi selaku ketua mengungkapkan bahwa masyarakat sering mencari jenis kepiting soka atau kepiting bakau yang sedang molting.

Melalui CaVaMolt, produk stimulan molting kepiting bakau bisa digunakan untuk mempercepat proses molting stimulan kepiting Bakau. Biasanya, sebut Mei, proses molting bisa lebih dari 50 hari. Dengan CaVaMolt, prosesnya bisa dipangkas menjadi sekitar dua hari saja.

Produk yang terbuat dari daun Krokot dan Cangkang Kerang memiliki potensi mempercepat proses molting. Mei mengatakan daun krokot mengandung hormon Ecdysteron, sedangkan ekstrak cangkang kerang mengandung zat kapur. “Menurut jurnal, daun krokot ini hampir sama dengan daun bayam, bisa mempercepat molting stimulan,” ujarnya.

SEBANYAK dua Mahasiswi Akuakultur FPK UNAIR. Dari kiri : Mei Rifqi Mursyidah bersama dengan Mirda Elisafitri. (Ilustrasi: Mei dan Mirda)
SEBANYAK dua Mahasiswi Akuakultur FPK UNAIR. Dari kiri : Mei Rifqi Mursyidah bersama dengan Mirda Elisafitri. (Ilustrasi: Mei dan Mirda)

Berawal dari Mirda, anggota tim, dirinya melihat video dan berita tentang lahan mangrove. Berikutnya, Mirda dan Mei berdiskusi untuk mengoptimalkan lahan mangrove tidak hanya dijadikan tempat konservasi, namun bisa dijadikan ladang bisnis. Salah satu solusinya dengan menerapkan budidaya kepiting bakau dengan sistem SilvoFishery. Masyarakat masih mencari kepiting soka dengan langsung menangkap di alam dan tidak melakukan kegiatan budidaya.

”Sistem SilvoFishery merupakan sistem di mana 80 persen kegiatan konservasi mangrove dan 20 persen untuk kegiatan budidaya. Terutama budidaya Kepiting Bakau yang habitat aslinya di Mangrove,” katanya.

Mahasiswi asal Lamongan tersebut memberikan tips menyusun KTI. Pertama, mencari permasalahan dulu sehingga bisa mencari solusi. Kedua, seringlah membaca jurnal dan melakukan bimbingan. Bukan hanya itu, Mirda sebagai presenter tim mengungkapkan ada beberapa persiapan presentasi lomba daring.

Pertama, menyiapkan materi sebaik mungkin, lalu berlatih kemampuan presentasi. Selain itu, tips ampuh presentasi lainnya, yakni dengan menulis narasi penjelasan di kertas, lalu dibaca. Dalam 15 menit, Mirda mengatakan perlu manajemen waktu presentasi.

“Perbanyak penjelasan dan hanya menampilkan poin dan gambar,” ujar ketua Insektisida Mangrove PKM–M UNAIR 2020 itu.

Ketika presentasi dengan sistem daring, Mirda menyarankan untuk tidak menampilkan self-video. “Jadi, videonya di-hidden saja anggap kita presentasi sendiri hehe,” pungkasnya. (*)

Penulis: R. Dimar Herfano Akbar

Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

Feri Fenoria Rifai

Feri Fenoria Rifai

Leave Reply

Close Menu