ASI Perah Terkontaminasi Mikroba Setelah Disimpan Selama Dua Jam dalam Suhu Ruangan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Sehatq.com

Rekomendasi WHO menyarankan memberikan ASI eksklusif selama enam bulan pada bayi, namun pada kondisi tertentu, seperti tuntutan untuk kembali bekerja bagi ibu pekerja atau melanjutkan studi menyebabkan ibu jauh dari bayinya. Agar dapat tetap memberikan ASI secara maksimal, ASI perah atau expressed breast milk yang dimasukkan ke dalam botol susu menjadi pilihan para ibu. Namun demikian seperti yang umum diketahui, ASI merupakan cairan biologi  yang menjadi medium pertumbuhan bakteri, sehingga mudah menjadi penyebab infeksi bayi jika tidak ditangani dengan benar.

Bakteri tumbuh optimal di suhu ruangan (temperatur 15–38oC), terutama di daerah tropis yang memiliki humiditas tinggi dan hangat seperti Indonesia. Disisi lain ASI juga sangat sensitif terhadap perubahan suhu yang menyebabkan hilang/rusaknya kandungan nutrisi dan komponen bioaktif tertentu. Penyimpanan ASI perah di suhu ruangan sebelum dikonsumsi banyak dilakukan di Indonesia. Beberapa institusi memang menyatakan bahwa ASI dapat bertahan di suhu ruangan selama 6-8 jam, namun sampai saat ini rekomendasi tersebut belum memiliki bukti mikrobilogis secara ilmiah di Indonesia.

Tiga puluh tiga persen para ibu menyimpan ASI perah di suhu ruangan, sementara sisanya disimpan di kulkas. Lima mililiter ASI yang dimasukkan ke dalam kantong plasti steril dan dibiarkan di suhu ruangan di ruang bayi RSUD Dr. Soetomo, setelah dipapar di suhu lingkungan selama 2 jam 16 dari 30 sampel ASI perah (76%) positif terkontaminasi bakteri (2×102–1.2×105; rata-rata 1,09×104 cfu/mL). Jumlah meningkat menjadi 83% (23 sampel) setelah disimpan di suhu ruangan (2 x106–1.4×108; rata-rata 3,2×108 cfu/mL). Dan pada jam ke enam, seluruh sampel ASI positif mengalami kontaminasi bakteri (108–60×109, rata-rata 26,2×109 cfu/mL). Jenis bakteri kontaminan terdiri dari kelompok gram negatif dari genus Staphylococcus, E. coli, Klebsiella pneumonia dan Streptococcus faecalis. Staphylococcus menjadi jenis predominan, menginfeksi semua sampel.

Berdasarkan referensi nilai rujukan mikrobiologis ASI perah yang aman dikonsumsi kepadatan bakteri mesofilik sebesar 104 cfu/mL, enterobakteri <10 cfu/mL, dan tidak boleh ada bakteri pathogen Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Streptococcus faecalis, Enterobacter sakazakii, (β-hemolytic) Streptococcus pyrogenes, Pseudomonas, Proteus dan Salmonella. Sehingga setelah dua jam disimpan di temperatur ruangan, ASI tidak bisa dikonsumsi oleh bayi karena tidak layak memenuhi kriteria aman konsumsi.

Penyimpanan ASI di dalam freezer bersuhu 4oC merupakan penyimpanan ideal di daerah beriklim panas seperti Indonesia. ASI dalam penyimpanan tersebut dapat bertahan hingga delapan hari. Pendeknya waktu penyimpanan ASI di suhu ruangan bisa disebabkan oleh cara memerah ASI. Kebanyakan ibu di Indonesia memerah menggunakan breast pump, padahal memerah menggunakan jari tangan lebih sedikt menyebabkan infeksi pathogen. Selain itu kebersihan payudara, terutama puting susu harus sering dibersihkan, karena sering mengandung bakteri dari kulit.

Untuk dapat menggunakan ASI perah yang telah terkontaminasi <104 cfu/mL diperlukan tindakan pasteurisasi jika ASI akan diberikan pada bayi dengan berat kurang dari 1,5 g. Namun jika diberikan ada bayi berat badan normal, tidak diperlukan pasteurisasi. Jika jumlah bakteri kurang dari 105, ASI perah masih bisa dikonsumsi tapi diperlukan pasteurisasi. Lebih dari itu, ASI harus dibuang karena berpotensi menyebabkan penyakit.

Jadi setelah dua jam penyimpanan di suhu ruangan, ASI perah tidak dapat lagi dikonsumsi. Jika memang harus dikonsumsi karena produksi ASI ibu sedikit, diperlukan pasterisasi, karena jumlah bakteri lebih dari 105.

Penulis: Nur Aisiyah Widjaja dan Roedi Irawan

Informasi lengkap dari artikel ini dapat diakses pada laman berikut: https://e-journal.unair.ac.id/FMI/article/view/12552/7271 (MICROBIOLOGICAL ASSESSMENT OF FRESH EXPRESSED BREAST MILK ON ROOM TEMPERATURE AT DR. SOETOMO HOSPITAL NEONATAL UNIT)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu