Mewaspadai Penurunan Kadar Hormon Insulin Akibat Kelebihan Konsumsi Gula 3-5 Sendok Teh Per Hari

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ILUSTRASI gula. (Foto: unsplash.com)
ILUSTRASI gula. (Foto: unsplash.com)

Gaya hidup sehari-hari mempunyai porsi cukup besar dalam timbulnya beberapa penyakit terkait metabolisme. Gaya hidup ini terdiri atas komponen aktivitas fisik, istirahat, nutrisi/ diet, dan kemampuan mengatasi stres.

Dalam segi nutrisi, terdapat tiga komponen, yaitu jumlah, jenis, dan jadwal. Jumlah yang dimaksud adalah berapa jumlah kalori yang masuk ke tubuh. Jenis diartikan dengan bahan makanan apakah yang dikonsumsi. Jadwal adalah pembagian waktu makan dalam sehari. Apabila terjadi ketidaksesuaian nutrisi dalam hal jumlah, jenis, dan jadwal, dikhawatirkan dapat memicu timbulnya gangguan dalam tubuh.

Dalam segi jumlah, didapatkan data bahwa jumlah konsumsi kalori per kapita per hari di dunia mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Menurut World Health Organization (WHO), pada tahun 1997-1999 menunjukkan 2803 kcal per kapita per hari, tahun 2015 menunjukkan 2940 kcal per capita per hari, dan diperkirakan tahun 2030 menjadi 3050 kcal per capita per hari. Peningkatan jumlah kalori tersebut dapat menjadi salah satu faktor risiko yang menyebabkan peningkatan kejadian penyakit metabolisme seperti kencing manis, penyakit jantung, dan pembuluh darah, dan penyakit stroke.

Pada penyakit kencing manis atau juga dikenal dengan nama diabetes mellitus, konsumsi kalori per hari ini terbukti dapat menggangu fungsi dari sel yang menghasilkan hormon insulin, yaitu sel beta pankreas. Sejalan dengan peningkatan jumlah kalori dari tahun ke tahun, angka kejadian diabetes pun juga meningkat. Menurut Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) yang dilakukan Kementerian Kesehatan RI, pada tahun 2013 angka kejadian diabetes pada usia ≥ 15 tahun mencapai 1,5% dari populasi Indonesia, dan pada tahun 2018 meningkat menjadi 2,0%.

Dalam penelitian yang telah dilakukan ini diberikan diet tinggi kalori dengan jenis karbohidrat yang mempunyai high glycemic index (indeks glikemik yang tinggi). Indeks glikemik adalah ukuran untuk makanan dengan kandungan dominan karbohidart, yang dibagi 3 berdasar kecepatan penyerapan nutrisi di usus masuk dalam darah, yaitu indeks glikemik rendah, sedang, dan tinggi. Penjelasan secara sederhana tentang makanan dengan indeks glikemik rendah, yaitu makanan yang mengadung karbohidrat tersebut akan diabsopsi atau diserap lebih lama, dibandingkan dengan makanan karbohidrat dengan indeks glikemik tinggi.

Konsekuensinya, pada makanan ber-indeks glikemik tinggi, lebih cepat diserap tubuh, dan akibatnya dengan cepat dapat meningkatkan kadar gula dalam darah, dan kemudian memunculkan rasa lapar pun lebih cepat. Makanan dominan karbohidrat yang termasuk indeks glikemik rendah misalnya apel dan kacang kedelai; indeks glikemik sedang misalnya soft drink dan pizza; dan indeks glikemik tinggi misalnya nasi putih, gula, dan yang mempunyai nilai paling tinggi, yaitu glukosa.

Penelitian yang dilakukan pada hewan coba mencit ini menganalisis berat badan, kadar gula darah, kadar insulin, dan jumlah sel beta pankreas. Penelitian tidak langsung dilakukan pada manusia karena prosedur perlakuan yang diberikan dikhawatirkan dapat membahayakan manusia dan pada manusia hidup tidak dapat dilakukan pengambilan organ pankreas. Perlakuan pada hewan coba berupa pemberian makanan standar atau makanan yang biasa dikonsumsi, namun juga diberikan tambahan berupa sonde cairan glukosa yang merupakan jenis indeks glikemik tinggi. Tambahan sonde cairan glukosa tersebut, berimbas pada tambahan kalori sebesar 3-5% kalori per hari, ini setara dengan tambahan 60-100 Kcal per hari atau serupa dengan minum manis dengan gula 3-5 sendok teh per hari (Diabetes Teaching Center, 2020) . Tambahan kalori tersebut diberikan setiap hari, selama 4 minggu pada hewan coba, atau setara sekitar 3 tahun pada manusia (Dutta and Sengupta, 2016).

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan berat badan, peningkatan kadar gula darah, dan penurunan kadar insulin setelah diberikan tambahan kalori 3-5% setiap hari, selama 4 minggu. Sedangkan jumlah sel beta pankreas menunjukkan rerata kecenderungan menurun meskipun belum bermakna. Hal tersebut mengindikasikan bahwa selama periode 4 minggu pada hewan coba mencit atau setara 3 tahun pada manusia, dengan pola diet dengan jenis indeks glikemik tinggi dan jumlah kalori yang berlebihan, mulai imbul gangguan dalam metabolisme gula darah.

Berdasar hasil penelitian tersebut, perlu menjadi kewaspadaan tentang pola gaya hidup yang berkaitan dengan nutrisi. Kelebihan jumlah kalori per hari yang dilakukan terus-menerus tersebut (tanpa ada upaya pencegahan), dapat memicu terjadinya gangguan metabolisme, yang dikhawatirkan dapat mengakibatkan munculnya penyakit metabolik seperti kencing manis. (*)

Penulis: Dr. Roedi Irawan, dr, M.Kes., Sp.A(K)

Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://www.semanticscholar.org/paper/High-Glycemic-Index-Diet-Decreases-Insulin-without-Herawati-Sari/754ec5017d64d34a77234d9ae8987d8dba58eb98

Herawati, L., Sari, G.M., Irawan, R., 2020. High glycemic index diet decreases insulin secretion without altering Akt and Pdx1 expression on pancreatic beta cells in mice. Chiang Mai University Journal of Natural Sciences 19, 366–378.

https://doi.org/10.12982/CMUJNS.2020.0024

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu