Kenali Hipotiroid pada Anak

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi hipotiroid pada anak. (Sumber: Alodokter)

Lebih dari 1,7 juta orang di Indonesia berpotensi mengalami gangguan tiroid. Data yang dikumpulkan oleh Unit Koordinasi Kerja Endokrinologi Anak Kemenkes RI dari tahun 2000-2013, Indonesia mempunyai kasus positif gangguan tiroid pada bayi yang baru lahir sebanyak 1:2.736. Jumlah ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan rasio global yaitu 1:3000 kelahiran.

Bagaimana kerja hormone tiroid?

Hormone ini penting untuk brain development, kerja otot, baik otot lurik atau polos, pertumbuhan lempeng epifisis, mengatur suhu, metabolism tubuh, dsb. Pada proses release dari otak, awalnya daerah hipotalamus akan menghasilkan TRH (Thyroid Releasing Hormone) lalu hal ini menstimulus hipofisis mengahsilkan TSH (Thyroid Stimulating Hormone) dan menstimulus release dari Thyroxin dari kelenjar tiroid.

Ada berapa macam hipotiroid pada anak?

Hipotiroid ini dapat terjadi sejak lahir (kongenital) atau acquired ( didapat). Hipotiroid Kongenital adalah kondisi di mana fungsi kelenjar tiroid pada anak menurun atau tidak berfungsi sejak lahir. Kelainan kelenjar tiroid ini bisa diikuti kelainan bentuk (anatomis) yang lebih kecil atau tidak terbentuk. Kelainan tiroid ini mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental anak melambat. Hipotiroid yang didapat terjadi pada penyakit auto imun misalnya Tiroiditis Hashimoto.

Apakah fungsi hormon tiroid ini?

Masalah hipotiroid pada bayi sangat penting. Jika tidak segera mendapat penanganan, bayi dengan hipotiroid kongenital akan mengalami gangguan tumbuh kembang hingga retardasi mental. Untuk diketahui, hormon tiroid memegang peran penting dalam perkembangan susunan saraf pusat di otak, mengatur panas tubuh, metabolisme, serta membantu jantung, otot, dan organ tubuh lainnya berfungsi dengan baik.

Apa saja gejala hipotiroid pada anak ini?

Berikut tanda-tanda atau gejala yang bisa muncul pada bayi dengan hipotiroid kongenital, antara lain:

-Pusar bodong

-Muka sembab

-Bibir tebal

– Lidah besar dan keluar

-Kesulitan bicara

-Jarang menangis

-Konstipasi

– Tubuh pendek (Gambar 2)

Apakah diperlukan Skrining pad pencegahan hipotiroid ini?

Pada beberapa tipe hipotiroid, gejala bisa jadi lebih samar. Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) itu adalah satu satu cara untuk mendeteksi hormon tiroid. Periode emas untuk skrining hipotiroid kongenital adalah 48-72 jam setelah bayi lahir. Pengobatan sesegera mungkin akan mencegah bayi mengalami retardasi mental. Terapi hipotiroid adalah dengan pemberian tiroksin. Obat ini perlu dikonsumsi secara teratur setiap hari, agar kadar tiroksin dalam darah tetap stabil. Tes darah rutin diperlukan untuk memastikan kadar hormon tiroid berada dalam kisaran normal.

Dengan SHK dan terapi dini, penderita hipotiroid kongenital pun bisa tumbuh dan berkembang seperti anak-anak lainnya. Pemerintah mengeluarkan Permenkes Nomor 25 Tahun 2014, tentang upaya kesehatan anak, serta Permenkes Nomor 78 Tahun 2014 tentang Skrining Hipotiroid Kongenital.

Bagaimana pelaksanaan SHK?

Pelaksanaan SHK dilakukan dengan metode wheel prick. Pertama daerah tempat tusukan, yaitu tumit dibersihkan, dihangatkan dengan handuk, lalu di swab dengan kapas alcohol. Tusukan dilakukan dengan jarum yang disiapkan. Darah yang menetes tebal ditampung di kertas saring. Kertas saring lalu diangin-angin dan dapat dikirimkan ke laboratorium rujukan SHK.

Parameter yang dicek dari pemeriksaan ini adalah Thyroid stimulating hormone. Pada SHK primer didapatkan TSH meningkat Hal ini yang akan dicermati dari program SHK.

Pada siapa saja dilakukan SHK ini?

SHK ini dilakukan pada semua bayi baru lahir, baik cukup bulan maupun kurang bulan. Bayi lahir dari ibu yang hormone tiroid cukup tidak akan menunjukkan gejala. Namun seiring dengan bertambahnya usia, apabila kondisi hipotiroid ini tidak segera terdeteksi maka bayi akan kekurangan hormone tiroid. Pada sekitar usia 3 bulan gejala mulai menjadi jelas. Apabila gejala muncul, maka sudah terjadi neurologis yang bersifat permanen dan mempengaruhi kecerdasan bayi.Hal ini sangat disayangkan. Untuk mencegahnya dapat dengan melakukan SHK ini pada semua bayi baru lahir.

Dengan adanya SHK ini diharapkan kasus hipotiroid kongenital primer dapat terdeteksi lebih awal sehingga morbiditasnya dapat diturunkan.

Penulis: Nur Rochmah

Artikel lengkapnya dapat dilihat pada link jurnal berikut ini:

http://www.apjpch.com/?page=article&number=94&article=How%20common%20is%20Hypothyroidism%20in%20Children%20with%20Epilepsy%20on%20Antiepileptic%20Drugs

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu