Gangguan Kecemasan Masyarakat Indonesia Selama Pandemi COVID-19

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi masyarakat bermasker saat pandemi Covid-19 di Indonesia. (Sumber: Medcom.ID)

Kebijakan penanggulangan penyebaran COVID-19 di Indonesia telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan. Pelaksanaan pembatasan sosial berskala besar berpotensi memicu terjadinya anxiety (gangguan kecemasan), depresi, dan stress di masyarakat.

Faktor lain yang dapat menyebabkan seseorang mengalami gangguan kecemasan adalah lingkungan, emosional, dan faktor fisik. Selain itu, penyebaran informasi yang tidak benar (hoax) serta teori konspirasi juga dapat memperburuk kondisi kesehatan mental masyarakat.

Penelitian yang telah dilakukan di berbagai negara melaporkan bahwa gangguan kecemasanmengakibatkan anomali psikologis selama pandemi COVID-19. Dampak negatif dari gangguan kecemasan yang dialami individu adalah menurunkan imunitas tubuh sehingga rentan terkena penyakit. Gangguan kecemasan tersebut bahkan dapat membuat seseorang melakukan bunuh diri. Jika terus dibiarkan, hal tersebut dapat menjadi masalah baru bagi kesehatan masyarakat sehingga perlu perhatian khusus.

Level Gangguan Kecemasan Masyarakat Indonesia Selama Pandemi

Penelitian terkait gangguan kecemasan masyarakat Indonesia menunjukkan bahwa terdapat empat variabel yang mempengaruhi tingkat gangguan kecemasan masyarakat Indonesia selama pandemi. Yaitu usia, gender, pendidikan, dan pekerjaan.

Penelitian tersebut dilakukan dengan menggunakan metode penyebaran kuesioner secara online kepada masyarakat Indonesia. Survei dilakukan selama delapan hari dan mendapatkan responden sebanyak 8.031 responden dari seluruh provinsi di Indonesia.

Dari hasil penelitian tersebut, diketahui bahwa pada responden kelompok usia 20-29 tahun 4,33 kali lebih mungkin mengalami gangguan kecemasan dengan level yang lebih tinggi dari gangguan kecemasan yang dialami oleh kelompok usia 50 tahun. Sementara responden kelompok usia 40-49 tahun 2,32 kali lebih mungkin untuk mengalami gangguan kecemasan dengan level yang lebih tinggi dibandingkan gangguan kecemasan yang dialami oleh kelompok usia 50 tahun.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa orang yang lebih tua cenderung jarang mengalami tingkat gangguan kecemasan yang tinggi. Orang yang lebih tua biasanya telah mengalami banyak kejadian dalam hidup mereka sehingga mereka bisa belajar dan pengalaman masa lalu dan beradaptasi dengan situasi yang baru.

Terkait dengan gender, hasil penelitian menunjukkan bahwa laki-laki memiliki kemungkinan yang lebih rendah mengalami gangguan kecemasan pada level sedang hingga tinggi dibandingkan perempuan. Dengan kata lain, laki-laki dapat mengatasi situasi stres yang dialami selama pandemi dengan lebih baik dibandingkan perempuan.

Berdasarkan pendidikan, responden dengan pendidikan menengah ke bawah 3,117 kali lebih mungkin mengalami gangguan kecemasan pada level yang lebih tinggi dibanding responden yang berpendidikan tinggi. Salah satu hal yang mempengaruhi kondisi tersebut adalah, pada orang yang berpendidikan tinggi, mereka dapat mengakses informasi yang benar sehingga dapat menenangkan dirinya. Selain itu, mereka juga bisa lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan dengan mempertimbangkan berbagai perspektif.

Kemudian, hasil penelitian terkait pekerjaan ditemukan bahwa responden yang bekerja di sektor swasta mengalami gangguan kecemasan level tinggi. Sementara responden yang bekerja sebagai pegawai negeri seperti TNI dan polisi sebagian besar mengalami gangguan kecemasan level rendah hingga sedang.

Hasil penelitian juga menyebutkan bahwa responden yang bekerja sebagai petani, nelayan, atau buruh memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk mengalami gangguan kecemasan tingkat sedang dibanding ibu rumah tangga. Kelompok pekerja tersebut juga mengalami gangguan kecemasan dengan level yang cenderung lebih tinggi dari kelompok pekerja lainnya.

Salah satu hal yang dapat menyebabkan kondisi tersebut adalah terkait dengan karakteristik pekerjaan petani, nelayan, dan buruh yang bertentangan dengan protokol kesehatan seperti memakai masker, jaga jarak fisik, dan menghindari keramaian. Pekerjaan tersebut juga tidak dapat dibatasi karena mereka harus  bekerja agar bisa memenuhi kebutuhan keluarganya.

Berbeda dengan kelompok tersebut (petani, nelayan, dan buruh), kelompok pekerjaan yang lain relatif dapat dimodifikasi berdasarkan peraturan yang ada. Seperti pegawai swasta yang dapat bekerja dari rumah dengan mengubah detail beberapa tugas. Pelayanan publik juga dapat mengalabi beberapa penyesuaian agar sesuai dengan protokol kesehatan, yang memungkinkan masyarakat tidak perlu hadir saat mereka membutuhkan layanan.

Penelitian dilakukan dengan menyebarkan kuesioner online kepada masyarakat Indonesia. Pengumpulan data dilakukan selama delapan hari dan menghasilkan responden sebesar 8.031 responden. Setiap pertanyaan pada kuesioner menggunakan skala likert. Pada tahap akhir dilakukan uji multivariate dengan menggunakan regresi logistic multinominal.

Penulis : Hario Megatsari

Sumber :

Megatsari, H. et al., 2020. The community psychosocial burden during the COVID-19 pandemic in Indonesia. Heliyon, Volume 6, pp. 1-5.

https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2020.e05136https://www.cell.com/heliyon/fulltext/S2405-8440(20)31979-4?_returnURL=https%3A%2F%2Flinkinghub.elsevier.com%2Fretrieve%2Fpii%2FS2405844020319794%3Fshowall%3Dtrue

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu