Baby Led Weaning Sebabkan Bayi Alami Anemia Defisiensi Besi dan Gangguan Pertumbuhan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ILUSTRASI bayi. (Foto: popmama.com)
ILUSTRASI bayi. (Foto: popmama.com)

Makanan Pendamping ASI atau MPASI diberikan pada bayi karena nutrien ASI sudah tidak dapat memenuhi kebutuhan nutrien bayi 100%, baik makronutrien maupun mikronutrien. Sehingga, periode ini menjadi periode kritis karena bayi mudah mengalami gangguan pertumbuhan. Hal ini disebabkan nutrien dalam ASI mengalami penurunan, terutama protein, zat besi, dan zinc. Pemberian MPASI juga membantu melatih bayi mengenali rasa dan tekstur, serta melatih oromotor skill bayi.

WHO merekomendasikan pemberian MPASI pertama kali adalah bubur halus yang bertekstur lembut dan agak encer, kemudian ditingkatkan secara bertahap menjadi bubur kasar hingga makanan keluarga dengan variasi makanan yang beragam pada usia 12 bulan. Pemberian MPASI harus responsive feeding, yaitu memberikan makan bayi secara langsung. Metode ini dikenal metode traditional spoon feeding. Dalam 10 tahun terakhir, terdapat metode yang dikenal sebagai ‘baby-led weaning’ atau BLW menjadi sangat populer di Indonesia.

BLW kali pertama diperkenalkan Gill Rapley dan Tracey Murkett dan diklaim pemberian MPASI melalui metode ini mampu mendorong bayi menerima makanan, tekstur, dan rasa lebih besar, serta dapat memberikan intake makanan yang “lebih sehat” dan lebih rendah mengalami obesitas. Pada pemberian metode BLW, bayi langsung menerima makanan keluarga kali pertama MPASI. Makanan diberikan dalam bentuk makanan yang dapat dipegang langsung, dan belajar makan sendiri tanpa disuapi oleh orang tua/pengasuh, sehingga bayi memiliki kenali penuh dalam menentukan jenis dan jumlah asupan. Namun, belum ada bukti secara ilmiah keunggulan metode ini kepada bayi, khususnya pada kadar hemoglobin, serum transferrin dan ferritin, serta pengaruhnya pada pertumbuhan bayi.

Penelitian komparasi yang dilakukan di Surabaya dengan subjek bayi usia 6-12 bulan sebanyak 15 bayi menerima MPASI secara BLW dan 15 bayi menerima MPASI secara traditional spoon feeding menunjukkan bayi yang mendapatkan MPASI secara BLW memiliki kadar Hb, serum ferritin dan serum transferrin yang lebih rendah daripada bayi yang menerima MPASI secara traditional spoon feeding, dan berisiko tinggi mengalami anemia defisiensi besi sebesar 26-kali (p<0.05). Hampir 90% bayi yang menerima MPASI dengan metode BLW mengalami defisiensi besi.

Dari segi pertumbuhan, bayi dengan pemberian MPASI secara BLW berisiko tinggi mengalami gangguan pertumbuhan. Underweight dan severe underweight dialami bayi 14 bayi yang menerima MPASI secara BLW. Resiko stunted dialami bayi sebesar 1.67 kali. Bayi yang menerima MPASI secara BLW juga beresiko tinggi mengalami underweight atau berat badan kurang dan sebesar 26-kali (p>0.05).

Dengan demikian, pemberian MPASI dengan BLW sangat tidak disarankan karena mempertinggi resiko kejadian ADB dan gangguan pertumbuhan selama periode 12 bulan pertama kehidupan, yaitu stunted, wasting dan underweight. Namun, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk deteksi dini gangguan perkembangan dan skor IQ bayi yang menerima BLW. (*)

Penulis: Meta Herdiana Hanindita, Nur Aisiyah Widjaja, Roedi Irawan, Boerhan Hidayat

Staf Divisi Nutrisi dan Penyakit Metabolik SMF Ilmu Kesehatan Anak

RSUD Dr. Soetomo/FK Unair

Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada tulisan kami di link jurnal: chimie-biologie.ubm.ro/carpathian_journal/Vol_11(5)_2019.pdf

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu