Prof Hendrian Ungkap Peran Biomolekular dan Artificial Intelligence dalam Deteksi Kanker Mata

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Prof. Dr. Hendrian Dwikoloso Soebagjo, dr., Sp.M.(K) saat menyampaikan orasi ilmiah guru besar pada Rabu (21/10/20). (Foto: M. Alif Fauzan)

UNAIR NEWS – Organisasi kesehatan dunia WHO memperkirakan peningkatan kasus kanker baru di dunia dalam dua dekade mendatang meningkat dari 14 juta menjadi 22 juta per tahun. Angka kejadian kanker di Indonesia terjadi peningkatan dari tahun 2013 dengan rasio 1,4  menjadi 1,8 per 1000 orang di tahun 2018. Demikian juga terjadi peningkatan pasien kanker di Provinsi Jawa Timur, semula 1,6 pada tahun 2013  menjadi 2,2 per 1000 orang pada tahun 2018.

Retinoblastoma adalah kanker mata yang murni berasal dari organ mata dan termasuk jenis kanker yang paling ganas, bersifat agresif, menyebabkan kebutaan, kecacatan, hingga kematian pada anak-anak dibawah usia 5 tahun, 4 persen dari total keseluruhan kasus keganasan pada anak dengan angka kejadian 1 per 15.000-35.000 kelahiran hidup.

Dalam orasi ilmiahnya saat dikukuhkan sebagai guru besar Universitas Airlangga (UNAIR) pada Rabu (21/10/20), Prof. Dr. Hendrian Dwikoloso Soebagjo, dr., Sp.M.(K) menguraikan risetnya mengenai peran biomolekular dan artificial intelligence dalam mendeteksi kanker mata retinoblastoma di era normal baru.

Menurut profesor asal Surabaya tersebut, data pasien retinoblastoma di RSUD Dr. Soetomo Surabaya, selama tujuh tahun dari Januari 2013 hingga Desember 2019, didapatkan  113 pasien dengan  usia antara 5 – 72 bulan dengan rerata usia 28.3 bulan terdapat 82,3 persen non-herediter retinoblastoma, 49.56 persen pasien dengan kondisi lanjut retinoblastoma ekstraokular, sedangkan 50,44 persen dengan stadium retinoblastoma intraokular yang sudah lanjut.

“Sehingga tidak banyak yang dapat dilakukan terhadap pasien-pasien ini, selain memberikan terapi suportif dan paliatif. Karena sifat agresif dari tumor retinoblastoma, banyak sekali kerugian materiel dan imateriel yang dihadapi dalam penanganan pasien dengan kondisi stadium lanjut ini,” tutur Guru Besar Fakultas Kedokteran (FK) aktif ke-115 tersebut.

Dalam kesempatan tersebut Prof. Hendrian menjelaskan bahwa retinoblastoma harus menjadi diagnosis banding pada seluruh anak-anak dengan keluhan mata juling, leukokoria, mata merah, serta gambaran mata kucing saat dilakukan pengambilan foto oleh kamera dengan flash. Hal tersebut dapat dijembatani oleh teknologi Aplikasi Artificial Intelligence, Retinal Camera, dan okular ultrasonografi.

Dalam penelitiannya, Prof Hendrian mengembangkan aplikasi dan riset alat deteksi dini penyakit pada mata berdasarkan foto mata dengan memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence. Aplikasi tersebut memanfaatkan alat deteksi dini penyakit mata berupa foto atau citra mata.

“Kelebihan implementasi ini adalah biaya yang lebih murah karena tidak memerlukan kamera khusus untuk citra medis, sehingga memudahkan deteksi dini pada kelainan mata,” tutur alumnus UNAIR tersebut.

Masalah deteksi dini mata, lanjut Prof Hendrian, sudah sepatutnya dilakukan secara holistik atau menyeluruh melalui adanya kemitraan. Oleh karena itu butuh dukungan dalam bentuk networking dengan kemitraan dalam bidang kesehatan, pemerintah, dan unsur organisasi non-pemerintah. (*)

Penulis : Asthesia Dhea Cantika

Editor : Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu