Ini Cara Deteksi Awal Kusta Subklinik

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh FK UNAIR

Penyakit kusta merupakan penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Indonesia adalah salah satunya negara dengan kusta tertinggi, ke-3 setelah India dan Brazil. Pada 2013, Indonesia memiliki 16.856 kasus baru kusta. Dalam mendiagnosis kusta, pemeriksaan klinis fisik tidak selalu dapat mendeteksi fase awal penyakit. Oleh karena itu diperlukan suatu diagnosa alat yang dapat mendeteksi infeksi Mycobacterium leprae secara dini sehingga pengobatan dapat dilakukan secara optimal. Air liur mengandung banyak molekul protein dan asam nukleat yang mencerminkan status fisiologis dan patologis.

Melalui air liur, anti fenolik glikolipid 1 (anti-PGL1) dan diperiksa yang merupakan antibodi spesifik terhadap PGL1 M. leprae yang terdapat di dinding sel. Anti- PGL1 diproduksi sebagai bentuk respon imun terhadap M. leprae. Individu dengan anti-PGL1 positif terbukti mengalami enam kali risiko lebih besar terkena kusta. Pemeriksaan serologis dengan ELISA untuk deteksi anti-PGL1 sangat potensial untuk dijadikan alat bantu deteksi dini penyakit kusta subklinis (keberadaan basil), hasil ini berguna untuk memantau dan mencegah kemungkinan kusta. Jurnal dan studi pustaka lainnya dicari dengan kata kunci tertentu. Anti-PGL1 saliva cukup representative untuk infeksi M. leprae. Pemeriksaan anti-PGL1 dalam air liur dapat membuka potensi diagnosis yang aman, sensitif, dan non-invasif penyakit kusta terutama di daerah endemis.

Penulis: Nastiti Faradilla Ramadhani, drg.

Artikel dapat diunduh pada link: http://connectjournals.com/toc2.php?abstract=3183000H_2963A.pdf&&bookmark=CJ-033216&&issue_id=Supp-01%20&&yaer=2020

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu