Enterokolitis pada Anak dengan Penyakit Hirschsprung

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Peduli Sehat

Penyakit Hirschsprung merupakan suatu penyakit kongenital berupa gangguan motilitas usus yang terjadi akibat kegagalan pembentukan sistem saraf enterik pada bagian usus tertentu, terutama usus besar (kolon). Penyakit ini menyebabkan adanya obstruksi atau sumbatan dari saluran pencernaan, terutama oleh feses, yang ditandai dengan membesarnya perut anak. Obstruksi tersebut sangat berpotensi mengakibatkan peradangan pada usus atau yang lebih dikenal dengan enterokolitis.

Banyak literatur mengatakan bahwa untuk suatu penyakit bawaan lahir, Penyakit Hirschsprung tergolong cukup sering dialami oleh bayi-bayi baru lahir yang terjadi pada sekitar satu bayi dari setiap 5.000 kelahiran hidup, terutama pada bayi laki-laki. Enterokolitis diketahui sebagai penyebab kematian tersering pada Penyakit Hirschsprung dengan angka mortalitas dan morbiditas yang mencapai hampir 50%. Bayi dan anak dengan Penyakit Hirschsprung yang pernah mengalami enterokolitis juga akan cenderung mengalami enterokolitis berulang. Atas dasar tingginya angka mortalitas dan morbiditas tersebut, kami mulai berpikir bahwa tentunya ada faktor risiko tertentu yang dapat menyebabkan terjadinya enterokolitis pada penderita Penyakit Hirschsprung, khususnya di Indonesia.

Berdasarkan beberapa penelitian yang pernah dilakukan, banyak faktor risiko yang berperan dalam terjadinya enterokolitis pada Penyakit Hirschsprung, di antaranya keterlambatan dalam mendiagnosis Penyakit Hirschsprung, jenis kelamin perempuan, panjang segmen usus yang aganglionik, anak dengan trisomi 21 atau Down’s Syndrome, anak dengan kelainan kongenital lain (kelainan jantung, sistem saraf pusat, saluran kemih, atau saluran pencernaan), riwayat enterokolitis sebelumnya, riwayat Penyakit Hirschsprung pada anggota keluarga, kondisi pascaoperasi Penyakit Hirschsprung, dan anak yang menjalani operasi Penyakit Hirschsprung dengan teknik bertahap atau Multi-Stage Pull-Through (MSPT). Namun, data mengenai faktor risiko ini masih sangat terbatas, khususnya di Indonesia, dan semua faktor risiko tersebut tidak berperan langsung secara bersamaan dalam suatu kasus Penyakit Hirschsprung dengan enterokolitis. Oleh karena itu, pada studi ini, kami ingin mengidentifikasi faktor-faktor risiko apa saja yang berpotensi menyebabkan enterokolitis pada anak dengan Penyakit Hirschsprung, khususnya di Indonesia.

Pada penelitian ini, kami melibatkan 40 anak dengan Penyakit Hirschsprung yang dirawat di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, pada bulan Januari 2015 hingga September 2018. Kami memasukkan semua pasien anak dengan Penyakit Hirschsprung, baik yang pernah maupun yang tidak pernah mengalami enterokolitis, dan yang sudah pernah menjalani operasi untuk mengatasi Penyakit Hirschsprung yang dialami.

Hasil penelitian yang telah kami lakukan ini menunjukkan bahwa dari sembilan faktor risiko yang telah disebutkan sebelumnya, hanya satu faktor risiko yang berperan dalam menyebabkan enterokolitis pada Penyakit Hirschsprung, yaitu riwayat enterokolitis sebelumnya. Bahkan, penelitian kami juga menunjukkan bahwa dua faktor lainnya di luar sembilan faktor yang ada, yakni jumlah operasi pembedahan yang dilakukan dan jumlah metode operasi yang dilakukan dalam satu kali operasi, juga tidak menjadi faktor risiko penyebab terjadinya enterkolitis pada Penyakit Hirschsprung. Meskipun begitu, dalam penelitian kami, pasien Penyakit Hirschsprung yang menjalani satu kali operasi saja dan menggunakan satu metode operasi dalam satu kali operasi lebih banyak yang mengalami enterokolitis dibandingkan dengan yang lebih dari itu. 

Dua studi lain yang masing-masing dilakukan di Amerika secara multicenter dan di Cina menunjukkan hal yang sama bahwa riwayat enterokolitis sebelumnya berperan dalam menyebabkan enterokolitis di kemudian hari pada anak dengan Penyakit Hirschsprung. Hal ini diduga karena adanya pengurangan asam lemak rantai pendek pada usus yang terlibat dalam Penyakit Hirschsprung yang selanjutnya akan mengakibatkan terganggunya keseimbangan pada populasi mikrobiota usus anak. Gangguan keseimbangan ini pula yang kemudian mengganggu imunitas mukosa usus dan menyebabkan enterokolitis yang lebih banyak terjadi pada pasien Penyakit Hirschsprung, baik yang menjalani satu kali operasi saja maupun yang menggunakan satu metode operasi dalam satu kali operasi.

Pada akhirnya, kami menyimpulkan bahwa riwayat enterokolitis sebelumnya merupakan faktor risiko terjadinya enterokolitis pada anak dengan Penyakit Hirschsprung. Selain itu, pasien yang menjalani satu kali operasi saja dan pasien yang dioperasi menggunakan satu metode operasi dalam satu kali operasi memiliki frekuensi kejadian enterokolitis yang lebih tinggi. Namun, faktor lain yang terdapat dalam penelitian kami tetap perlu dipertimbangkan sebagai faktor risiko agar dapat meningkatkan kewaspadaan seorang dokter dalam menangani Penyakit Hirschsprung yang tentunya sangat mungkin berkembang menjadi enterokolitis. 

Penulis: Dr. Alpha Fardah Athiyyah, dr., Sp.A(K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: https://e-journal.unair.ac.id/JBE/article/view/15464

Witarto, A. P., Athiyyah, A. F., Hariastawa, I. G. B. A., & Ranuh, I. G M. R. G. (2020). Risk factors influencing enterocolitis development in pediatric patients with hirschsprung’s disease. Jurnal Berkala Epidemiologi, 8(3), 218–227. 

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu