Dikukuhkan Gubes, Prof Kun Paparkan Potensi EGCG dan Laser Dioda dalam Perawatan Karies Gigi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Prof. Dr. Kun Ismiyatin drg., M. Kes., Sp.KG (K) saat menyampaikan orasi ilmiah pengukuhan guru besar, Rabu (21/10/20). (Foto: M. Alif Fauzan)

UNAIR NEWS – Prof. Dr. Kun Ismiyatin drg., M. Kes., Sp.KG (K), menjadi salah satu guru besar yang dikukuhkan di Aula Garuda Mukti Universitas Airlangga pada Rabu (21/10/2020). Dalam orasi ilmiahnya, Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi aktif ke-28 itu memaparkan inovasi penggunaan Epigallocatechin-Gallate (EGCG) dan laser dioda sebagai terapi antibakteri dan penyembuhan karies gigi.

Prof Kun mengawali pidato dengan menjelaskan penyebab karies gigi adalah fermentasi zat gula yang terkandung di dalam karbohidrat oleh bakteri Streptococcus mutans menjadi berbagai macam asam, terutama asam laktat. Gigi akan berlubang dan menjadi pintu masuk bakteri yang berujung infeksi endodontik atau peradangan pulpa (pulpitis).

Ia memaparkan, infeksi bakteri karies gigi menyebabkan penyakit sistemik, seperti gangguan pada liver, penyakit kardiovaskular, diabetes mellitus (DM), penyakit ginjal, rheumatoid arthritis, alzheimer’s, hingga komplikasi kehamilan.

“Keberhasilan pencegahan penyakit sistemik dapat dicapai dengan cara pencegahan, perawatan, serta didukung keberhasilan perawatan konservasi gigi. Diperlukan inovasi baru sejalan dengan perkembangan teknologi ilmu konservasi gigi,” jelas Prof Kun.

Dikatakan Prof Kun bahwa paradigma lama perawatan di bidang konservasi gigi yang menggunakan senyawa kimia dapat menyebabkan efek sitotoksitas. Oleh sebab itu, Prof. Kun mengawali penelitian dengan menggunakan seduhan teh hijau dengan kandungan utama Epigallocatechin-gallate (EGCG) pada pulpitis akut. Lewat penelitiannya, terbukti EGCG bersifat anti bakteri, anti inflamasi, antioksidan dan anti nyeri pada peradangan pulpa.

“Khasiat EGCG tidak diragukan lagi sebagai kandidat bahan obat dalam perawatan konservasi gigi,” paparnya.

Perempuan kelahiran Balikpapan tersebut melakukan penelitian menggunakan sinar Light Amplification by Stimulated Emission of Radiation (Laser) dengan fotosensitizer eksogen klorofil bersifat non antiseptik dan non antibiotik untuk mencegah sitotoksisitas dan efek resistensi antibiotik. Hasil menujukkan laser dioda 405 nm menyebabkan degradasi Extracellular Polymeric Substance (EPS) biofilm S. mutans sebesar 98 %, Lactobacillus acidophilus 99,33%, E. Faecalis 97,51%,  S.aureus 98%, C.albicans  sebesar 97,4%, dan respon biostimulasi sel.

“Sedangkan paparan laser dioda 650 nm dapat menyebabkan proliferasi sel fibroblast, diferensiasi sel odontoblas menjadi odontoblast like cell, dan meningkatkan proliferasi human periodontal ligament fibroblast (HPdLF),” jelasnya.

Paparan laser dioda 405 nm dan 650 nm dapat dikembangkan sebagai terapi antibakteri, penyembuhan, menggantikan struktur dentin yang rusak, proliferasi dan diferensiasi sel fibroblast pulpa gigi, sehingga dapat menyebabkan regenerasi kompleks dentin pulpa, dan penyembuhan ligament periodontal.

“Harapan saya penggunaan EGCG dan laser dioda dapat menurunkan risiko terjadinya sejumlah penyakit dan kondisi sistemik. Demikian juga sebaliknya, dengan mengupayakan pencegahan dan pengobatan penyakit sistemik, dapat menurunkan faktor risiko karies dan infeksi endodontik,” papar Prof. Kun. (*)

Penulis : R. Dimar Herfano Akbar Editor   : Binti Q Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu