Low Tibial And Fibular Osteotomy sebagai Terapi Post Traumatic Osteoarthritis Ankle Tipe Varus

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi traumatik. (Sumber: Hello Sehat)

Osteoarthritis (OA) pada ankle terjadi pada sekitar satu persen penduduk dewasa di dunia. Berbeda dengan OA pada panggul dan lutut, OA pada ankle sering disebabkan oleh trauma. Terdapat berbagai penyebab OA pada ankle, malunion dan fraktur intra-artikular meupakan penyebab tersering terjadinya OA ankle. Faktor lain seperti Flat foot pada orang dewasa merupakan faktor predisposisi terjadinya osteoarthritis tipe valgus dan osteoarthritis varus idiopatis.

Kelainan supramalleolar juga merupakan penyebab umum osteoartritis pada ankle, yang merupakan 80% sekuel dari post traumatik. Pilihan pengobatan meliputi tindakan konservatif seperti bracing, injeksi untuk mengurangi nyeri, hingga prosedur operasi seperti osteotomi tibialis dan fibula, artroskopi, serta prosedur lebih lanjut seperti artroplasty atau arthrodesis pergelangan kaki.

Arthrodesis pada ankle menyebabkan gangguang fungsional, seperti gangguan pola jalan, dan menyebabkan degeneratif sekunder pada sendi. Disamping kelemahan tersebut, di Indonesia, artrodesis menjadi pilihan pengobatan tanpa adanya implan artroplasti pergelangan kaki untuk dewasa muda. Osteotomi tibiofibular adalah alternatif tindakan yang dapat mempreservasi sendi agar tidak terjadi kekakuan, dan telah dikenal sebagai pilihan yang lebih menguntungkan bagi mereka yang masih berusia produktif.

Evaluasi angular deformity dapat dievaluasi menggunakan acuan sudut Tibial Ankle Surface (TAS) atau sudut lateral distal tibialis, sudut kemiringan talas, dan sudut Talas Lateral Surface (TLS), mirip dengan sudut tibial distal. TAS menghubungkan dari tibial axis ke tibialis plafon (normal 89 derajat); Kemiringan talar dalah sudut antara  tibialis plafon  dan kubah pada  talar (normal <4 derajat); dan TLS  menghubungan axis tibialis dan garis dari aspek anterior dan  aspek posterior  tibialis plafon (normal 81,5 derajat).

Pada penelitian yang dilakukan  oleh Tatakura et al, menunjukkan bahwa  follow up pada 18 pasien OA ankle yang di lakukan operasi low tibial osteotomy  selama 6 tahun  menunjukkan hasil yang sangat memuaskan. Sedangkan dalam penelitian lain, Tanaka et al, terdapat perbaikan pada gambaran radiologis dimana sudut TAS terkoreksi dari 82, 7 derajat sebelum operasi menjadi 98, 2 derajat dan sudut TLS dari 78, 5 derajat menjadi 84, 7 derajat. Kemiringan varus juga membaik dari 7,3 derajat menjadi 5,0 derajat pasca operasi.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Takakura menunjukkan bahwa low tibial osteotomy menurunkan nyeri dan memperbaiki fungsi, serta mampu mengoreksi deformitas varus pada 9 pasien. Cheng melaporkan hasil yang memuaskan pada 18 pasien yang yang menjalani operasi low tibial osteotomy. Hal ini semakin diperkuat oleh penelitian Kupp et al, dikemukanan bahwa terdapat 94 pasien OA ankle yang menjalani tindakan low tibial osteotomy, mengalami perbaikan nyeri yang signifikan baik secara statistik dan klinis yang dihitung menggunakan American Orthopaedic Foot and Ankle Society ankle-hindfoot score setelah follow up selama 3,6 tahun.

Kasus yang didapatkan di RSUD Dr. Soetomo ini adalah laki- laki usia 22 tahun, dengan keluhan nyeri pada ankle kiri, nyeri dirasakan memberat dalam beberapa tahun terakhir, nyeri dirasakan terus menerus. Nyeri terkadang menyebabkan pasien hingga tidak dapat berjalan. Pasien sebelumnya memiliki riwayat trauma dan mendapatkan terapi pemasangan implan 8 tahun yang lalu. 2 tahun setelah pelepasan implan, nyeri dirasakan semakin bertambah. Dari pemeriksaan radiologis ankle, didapatkan OA ankle dengan sudut tibio ankle joint surface (TAS) sebesar 74o (normal 88o-93o), yang menyebabkan deformitas varus.

Dilakukan pemeriksaan pre operatif dari tingkat disabilitas pasien dengan menggunakan kuesioner American Academy of Orthopaedic Surgeon- Foot and Ankle Measurement (AAOS FAM). Didapatkan hasil pemeriksan sebesar 89 dari total angka 100 (semakin besar tingkat disabilitas pasien ditandai dengan tinggi nya angka total). Berikutnya dilakukan prosedur rekonstruksi alternatif dari arthrodesis. Penulis melakukan prosedur osteotomy pada distal tibia diatas syndesmotic, serta osteotomy pada sepertiga tengah fibula.

Tibial osteotomy dilakukan secara open wedge, untuk kemudian dilakukan koreksi hingga sudut TAS normal tercapai, dengan bantuan fluoroscopy durante operasi. Kemudian, dilakukan pemberian cortical allograft untuk mengisi gap osteotomy serta cancellous bone graft. Dilakukan instrumentasi menggunakan clover leaf® plate untuk kestabilan fiksasi.

Pasca operasi, didapatkan hasil yang memuaskan baik secara radiologis maupun  fungsional. Nyeri berkurang secara progresif, serta didapatkan sudut TAS sebesar 89o. Evaluasi fungsional pasca operasi melalui kuesoner American Academy of Orthopaedic Surgeon- Foot and Ankle Measurement menunjukkan perbaikan nilai secara signifikan (pra 89, pre 38). Evaluasi minggu ke 12 pasca operasi pasien telah mencapai full weight bearing dan beraktivitas normal. Evaluasi radiologis 4 bulan pasca operasi telah didapatkan fusi dari graft.

Kasus osteoartritis pergelangan kaki pasca trauma merupakan kasus yang jarang ditemui, terutama pada usia muda. Problematika ketersediaan implan artroplasty di Indonesia merupakan sebuah problem yang dapat diatasi dan ditangani dengan operasi rekonstruksi yang baik untuk dapat memberikan kepuasan pada pasien. Departemen Orthopaedi dan Traumatologi RSUD Dr. Soetomo / Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga mampu dan telah berhasil menangani kasus ini dengan baik dengan perencanaan yang baik.

Penulis: Brilliant Citra Wirashada, Mochammad Zaim Chilmi, Andre Triadi Desnantyo, Lukas Widhiyanto

Artikel lengkapnya dapat dilihat pada link berikut ini:

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7513647/

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu