Evaluasi Alat Terapi Sinar di Rumah Sakit Rujukan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh RS Sentra Medika

Apakah Anda pernah menemui bayi baru lahir yang tampak kuning? Atau bayi Anda pernah mengalami hal tersebut sehingga dokter menyarankan untuk melakukan terapi sinar? Bayi baru lahir dengan keluhan kuning sering kita jumpai di kehidupan sehari-hari. Tidak jarang hal tersebut membuat orang tua cemas bahkan panik dan membawa bayinya ke dokter. Kuning pada bayi dapat merupakan hal yang normal maupun tidak normal. Dokter akan memeriksa bayi dengan seksama, beberapa akan dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan zat kuning (bilirubin) dalam darah, dan jika perlu bayi tersebut akan diberikan terapi sinar sesuai indikasi karena kadar bilirubin yang tinggi dapat berbahaya terutama untuk otak dan saraf. Lalu, apa itu terapi sinar? Lampu apa yang digunakan? Apakah ada dosisnya? Bagaimana perawatan alat terapi sinar tersebut?

Terapi sinar atau biasa disebut fototerapi adalah salah satu metode untuk menurunkan kadar zat kuning (bilirubin) dalam darah. Banyak alat fototerapi yang dijual dipasaran dan menggunakan jenis lampu yang berbeda-beda.di Indonesia sendiri mayoritas menggunakan jenis lampu fluorescent dan LED (Light-Emitting Diode). Intensitas cahaya lampu dianalogikan sebagai “dosis” dalam fototerapi untuk bayi kuning. Seperti alat lainnya, lampu pun memiliki usia pemakaian, sehingga semakin lama digunakan intensitas cahaya yang dihasilkan pun akan menurun. Jika intensitas cahaya yang diberikan saat fototerapi lebih rendah daripada yang direkomendasikan, tentu saja bayi tidak akan mendapatkan “dosis” terapi sinar yang sesuai. Hal tersebut berakibat pada terapi sinar yang tidak efektif. Di Indonesia, lampu fototerapi akan diganti jika melebihi batas waktu penggunaan yang disarankan oleh pabrik lampu tersebut atau jika lampu tersebut redup atau mati. AAP (The American Academy of Pediatrics) merekomendasikan pengukuran intensitas cahaya alat fototerapi secara rutin untuk memastikan bahwa “dosis” yang didapatkan bayi sesuai dengan yang seharusnya.  

Suatu penelitian di RSUD Dr. Soetomo Surabaya mengukur kecepatan penurunan intensitas cahaya alat fototerapi yang biasa digunakan di RS tersebut. Ada 11 lampu yang diikutkan dalam penelitian ini, 9 lampu berjenis fluorescent dan 2 lainnya adalah LED. Setiap lampu diukur 3 kali dalam kurun waktu 6 bulan dengan alat pengukur intensitas cahaya. Selama penelitian, lampu-lampu tersebut tetap dapat digunakan seperti biasa untuk fototerapi bayi-bayi kuning yang dirawat di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa memang ada penurunan intensitas cahaya pada lampu fototerapi seiring dengan lama penggunaannya. Lampu berjenis fluorescent memiliki rata-rata kecepatan penurunan intensitas cahaya sebesar 0.02 µW/cm2/nm/jam, sedangkan lampu jenis LED memiliki rata-rata kecepatan yang lebih lambat yaitu 0.015 µW/cm2/nm/jam. Penurunan intensitas cahaya tercepat dimiliki oleh salah satu lampu berjenis fluorescent, yaitu sebesar 0.08 µW/cm2/nm/jam. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terjadi penurunan intensitas cahaya pada seluruh lampu alat fototerapi yang digunakan. Oleh sebab itu, penting untuk melakukan pengecekan intensitas cahaya secara rutin tanpa menunggu batas waktu pemakaian lampu habis atau menunggu lampu menjadi redup bahkan mati. Dengan pengukuran rutin, fototerapi yang tidak efektif dapat dihindari karena tentu saja kita dapat memastikan bahwa “dosis” yang diberikan untuk bayi sesuai dengan yang dibutuhkan dan dianjurkan. 

Penulis: Mahendra Tri Arif Sampurna

Link terkait tulisan di atas: An evaluation of phototherapy device performance in a tertiary health facility https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S240584402031793X

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu