Mayoritas Pasien Psoriasis Miliki Gangguan Harga Diri, Depresi, dan Gangguan Kualitas Hidup Dermatologi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ILUSTRASI pasien psoriasis. (Foto: health.grid.com)
ILUSTRASI pasien psoriasis. (Foto: health.grid.com)

Psoriasis adalah penyakit keradangan kulit kronis yang memengaruhi kesehatan fisik serta harga diri, depresi, dan kualitas hidup. Selama ini belum banyak yang dilakukan evaluasi tentang harga diri, tingkat depresi, dan kualiatas hidup dermatologi terhadap pasien psoriasis. Sedangkan harga diri, depresi, dan kualitas hidup dermatologi dapat memengaruhi kehidupan pribadi, keluarga, dan sosial, serta menentukan produktivitas pasien psoriasis.

Telah dilakukan penelitian yang bertujuan mengevaluasi hubungan derajat keparahan psoriasis dengan harga diri, depresi, dan indeks kualitas hidup dermatologi (dermatologi life of quality index /DLQI) terhadap pasien psoriasis di Unit Rawat Jalan dan Rawat Inap Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, Indonesia.

Penelitian ini melibatkan 37 pasien psoriasis. Dilakukan penilaian Indeks Keparahan Area Psoriasis (Psoriasis Area Severity Index/PASI) untuk menentukan keparahan psoriasis. Harga diri pasien psoriasis dinilai dengan menggunakan Rosenberg Self-Esteem Scale, tingkat depresi pasien psoriasis dinilai dengan Hamilton Rating Scale for Depression. Kualitas hidup pasien psoriasis dinilai dengan Indeks Kualitas Hidup Dermatologi (Dermatology Life Quality Index/DLQI).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada pasien psoriasis yang memiliki harga harga diri tinggi, tetapi 73% pasien psoriasis memiliki harga diri standar dan 27% pasien psoriasis memiliki harga diri rendah. Terdapat hubungan negatif yang bermakna antara keparahan psoriasis dengan harga diri (p = 0,035, r = -0,215). Artinya, semakin tinggi derajad keparahan psoriasis, semakin rendah harga diri pasien.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa mayoritas pasien psoriasis, yaitu 89,1% pasien mengalami depresi, terbagi atas 35,1% mengalami depresi ringan; 27% mengalami depresi sedang; 16,2% mengalami depresi berat, dan 10,8% mengalami depresi sangat berat. Namun, hubungan antara keparahan psoriasis dengan derajat depresi tidak bermakna (p = 0,107, r = 0,124). Jadi, tanpa ditentukan oleh derajat keparahannya mayoritas pasien psoriasis mengalami depresi. Artinya, derajat psoriasis ringan, sedang, atau berat, mayoritas mengalami depresi.

Selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas pasien psoriasis, yaitu 97,2% pasien psoriasis mengalami gangguan kualitas hidup dermatologi (DLQI), namun hubungan positif antara derajat keparahan psoriasis dengan DLQI tidak bermakna secara statistik (p = 0,315, r = 0,256). Artinya, mayoritas pasien psoriasis mengalami gangguan kualitas hidup dermatologi tanpa dikaitkan dengan keparahan psoriasisnya. Pasien psoriasis dengan derajat ringan, sedang, atau berat, mayoritas mengalami gangguan kualitas hidup dermatologi.

Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa psoriasis berhubungan dengan harga diri yang rendah, depresi, dan penurunan kualitas hidup dermatologi. Semakin tinggi derajat keparahan psoriasis semakin rendah harga diri pasien psoriasis. Walaupun tidak ada hubungan yang signifikan antara keparahan psoriasis (PASI) dengan depresi dan kualitas hidup dermatologi, justru hal itu menekankan bahwa tanpa ditentukan derajat keparahan penyakit psoriasis (baik keparahan psoriasis ringan, sedang, atau berat), mayoritas pasien psoriasis mengalami depresi dan penurunan kualitas dermatologi.

Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa diperlukan perawatan yang komprehensif terhadap pasien psoriasis, baik perawatan terhadap penyakit psoriasis di bagian tubuh yang terkena, maupun perawatan atau konsultasi kepada psikiater untuk membantu meningkatkan harga diri, menurunkan depresi, sehingga kualitas hidupnya meningkat. Semua pasien psoriasis tanpa memperhatikan tingkat keparahan sebaiknya dinilai tingkat harga diri, depresi, dan kualitas hidupnya. Jika pasien mengalami gangguan pada harga diri, mengalami depresi, mengalami gangguan kualitas hidup, diperlukan perawatan yang komprehensif, bukan hanya perawatan oleh spesialis penyakit kulit dan kelamin, melainkan juga perlu perawatan oleh psikiatri. (*)

Penulis: Dr. Afif Nurul Hidayati dr.,Sp.KK(K), FINS-DV, FAADV

Informasi lebih lengkap dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

http://jpad.com.pk/index.php/jpad/article/view/1356.

Association of psoriasis severity degree with self-esteem, depression and dermatology life quality index

ND Rahmayanti, AN HidayatiE Ervianti, Muhdi N*.

Department of Dermatology and Venereology, Faculty of Medicines, Universitas Airlangga/ Dr. Soetomo General Hospital, Surabaya, Indonesia.
* Department of Psychiatry, Faculty of Medicine, Universitas Airlangga/ Dr. Soetomo General Hospital Surabaya, Indonesia.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu