Hambatan Pertumbuhan Bakteri Penyebab Periodontitis Kronis oleh Patch Gingiva Mukoadhesif Ekstrak Kulit Manggis

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Kulit manggis. (Sumber: merdeka.com)

Penyakit periodontal di Indonesia memiliki prevalensi sebesar 96,58% dan banyak dijumpai  dalam bentuk gingivitis dan periodontitis. Periodontitis kronis berhubungan dengan akumulasi plak dan kalkulus dalam rongga mulut seiring meningkatnya bakteri Gram negatif pada biofilm subgingival seperti Porphyromonas gingivalis (P.gingivalis)serta Fusobacterium nucleatum (F.nucleatum). Terapi mekanis seperti scaling dan root planing terkadang memerlukan pemberian antibakteria agar perawatan lebih efektif.

Kulit manggis (Garcinia mangostana) dapat menjadi alternatif bahan antimikrobial karena mengandung senyawa aktif berupa saponin, flavonoid dan tanin serta xanton. Pemberian ekstrak kulit manggis secara topikal diketahui dapat mengurangi kedalaman poket pasca dilakukan scaling dan root planning. Kulit Garcinia mangostana juga telah terbukti memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri P. gingivalis dan F. nucleatum. Penghantaran obat melalui mukosa (mukoadhesif) salah satu bentuknya adalah patch. Patch mukoadhesif fleksibel saat diaplikasikan sehingga tidak mengganggu fungsi fisiologis mulut, tidak mudah larut dalam saliva, bahan obat yang terkandung lebih mudah diserap tubuh dan tepat sasaran karena diberikan secara lokal.

Formulasi obat juga berkembang seiring ditemukannya teknologi nanopartikel yang mampu menembus ruang antar sel dan dinding sel serta fleksibel untuk dikombinasi dengan teknologi lain sehingga bahan aktif yang dikandung lebih cepat dan mudah mengenai sasaran. Penelitian yang dilakukan oleh Shantiningsih dan Fitriyah membuktikan bahwa penghantaran obat dan bahan herbal dalam bentuk patch gingiva mukoadhesif memberikan hasil yang baik, sehingga perlu diujikan untuk hambatan pertumbuhan bakteri penyebab periodontitis kronis khususnya P. gingivalis dan F. nucleatum.

Manggis yang digunakan  didapatkan dari wilayah Blitar, Jawa Timur, untuk Pembuatan ekstrak dilakukan dengan mengeringkan dan menghaluskan kulit manggis. Bubuk kulit manggis dimaserasi dengan etanol 96% dalam perbandingan 1:2 lalu disaring. Cairan diuapkan dengan Rotary Vacum Evaporator kemudian di freeze drying, dilanjutkan pembuatan nano partikel. Patch mukoadhesif dibuat dengan menaburkan CMC-Na 1,5 gram kedalam 30 ml air lalu didiamkan hingga menggembang dan diaduk hingga menjadi massa gel, ditambahkan air panas 60,3 gram sedikit demi sedikit kedalam basis gel, merupakan campuran I. Campuran II dibuat dengan melarutkan mentol 0,5 gram dengan ethanol 96% secukupnya, ditambahkan ekstrak kulit manggis dan diaduk hingga larut. Propilen glikol sebanyak 2,5 gram ditambahkan dan diaduk. Campuran II ditambahkan kedalam campuran I dan diaduk hingga homogen. Sediaan ditimbang sebanyak 70 gram, dimasukkan dalam cawan petri dan dikeringkan dalam oven temperatur 45ᵒC.

Patch mukoadhesif diuji daya hambat bakteri dengan metode difusi,  zona hambat diukur dari diameter zona bening dengan jangka sorong. Diameter zona hambat ekstrak kulit manggis hampir sama dengan diameter patch gingiva mukoadhesif ekstrak kulit manggis. Diameter zona hambat patch gingiva mukoadhesif nanopartikel ekstrak kulit manggis lebih besar dibanding patch gingiva mukoadhesif ekstrak kulit manggis.  Kandungan saponin dari ekstrak kulit manggis  meningkatkan permeabilitas membran bakteri sehingga terjadi hemolisis, tanin dan xanton akan menghambat replikasi bakteri, serta flavonoid akan mengganggu proses metabolisme bakteri.

Kandungan kitosan dalam nanopartikel berfungsi sebagai penetration enhancer dengan membuka tight junction pada epitel bila diaplikasikan secara in vivo. Nanopartikel kitosan membantu kemampuan antibakteri ekstrak kulit manggis dengan 3 mekanisme, yaitu interaksi muatan positif molekul kitosan dengan muatan negatif pada membran sel sehingga terjadi perubahan sifat permeabilitas membran sel yang membuat tekanan osmotik sel tidak seimbang dan akhirnya menghambat pertumbuhan bakteri. Mekanisme kedua adanya hidrolisis peptidoglikan dinding sel, karena interaksi elektrostatis sehingga elektrolit intraseluler seperti ion kalium dan molekul seperti protein dan asam nukleat keluar dari sel. Mekanisme yang ketiga, kemampuan kitosan mengikat logam membentuk khelasi yang memblok aliran nutrisi bakteri sehingga pertumbuhan bakteri terhambat.

Hasil uji pada P.gingivalis menunjukkan tidak ada perbedaan daya hambat ekstrak kulit manggis dengan patch gingiva mukoadhesif ekstrak kulit manggis tetapi perbedaan signifikan ada pada patch gingiva mukoadhesif ekstrak kulit manggis dengan patch gingiva mukoadhesif nanopartikel ekstrak kulit manggis. Ekstrak kulit manggis dengan partikel kecil lebih mudah berdifusi ke dinding sel, nanopartikel meningkatkan kapasitas obat di dalam sistem pembawanya. Nanopartikel ekstrak kulit manggis berfungsi sebagai antibakteri kuat karena mempunyai kemampuan lebih mudah masuk ke dinding sel.  Tidak ada perbedaan daya hambat ekstrak kulit manggis dengan patch gingiva mukoadhesifekstrak kulit manggis, perbedaan signifikan pada patch gingiva mukoadhesifnanopartikel ekstrak kulit manggis dengan patch gingiva mukoadhesif ekstrak kulit manggis.  Patch gingiva mukoadhesif ekstrak kulit manggis (Garcinia mangostana) mampu menghambat pertumbuhan bakteri P. gingivalis dan F. nucleatum. (*)

Penulis : Rini Devijanti Ridwan

Informasi dan detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di :

http://www.jidmr.com/journal/wp-content/uploads/2020/09/3-FTD20_1140_Rini-Devijanti-Ridwan_Indonesia2.pdf

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu