Deteksi Molekuler dan Variasi Morfologis Blastocystis Sp pada Sapi Potong

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh DKPP Provinsi Jawa Barat

Telah dilakukan penelitian yang mendeteksi secara molekuler dan morfologi Blastocystis sp pada sapi potong di Kabupaten Siak Sri Indrapura Riau Indonesia. Blastocystis adalah parasit protozoa yang hidup di system pencernakan beberapa vertebrata dan berpotensi sebagai parasit zoonosis. Manusia atau hewan terinfeksi Blastocystis karena menelan stadium kista yang mencemari air dan air sebagai sumber penularan. Sapi merupakan salah satu hewan yang dapat terinfeksi Blastocystis sp. Secara morfologi, Blastocystis sp. isolat dari manusia maupun hewan tidak dapat dibedakan, tetapi dengan perkembangan teknologi molekuler, keragaman genetik dari tiap isolate dapat dibedakan. Blastocystis sp. dapat didiagnosis dari feses dengan pemeriksaan natif menggunakan cahaya mikroskopis atau dengan kultur in vitro berdasarkan morfologi. Namun, morfologi Blastocystis sp. dari manusia dan hewan lain serupa dan bentuknya bervariasi yaitu vakuolar, granular, amoeboid dan kista. Selain bentuk, ukuran Blastocystis sp juga bervariasi, sehingga apabila hanya dengan diagnosis mikroskopis sangat sulit. Metode molekuler dengan Polymerase Chain Reaction (PCR) adalah metode yang paling sensitif dengan spesifisitas tinggi untuk mendiagnosisnya.

Tinja segar dikumpulkan dari 100 sapi potong di Siak Sri Indrapura Riau Indonesia, dan dideteksi dengan metode mikroskop, kultur dan PCR. Morfologi Blastocystis sp dari feses segar dan kultur diamati di bawah mikroskop cahaya dan diukur diameternya. Deteksi molekuler digunakan untuk memastikan bahwa organisme tersebut adalah Blastocystis. DNA diekstraksi sampel positif untuk dilakukan PCR dengan spesifik primer  b11400 FORC dan b11710 REVC. Produk PCR dielektroforesis pada gel agarose 2% dan diperkirakan mempunyai ukuran sekitar 310 bp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua 100 sampel (100%) dari baik pada feses  segar dan kultur feses  positif diketemukan Blastocystis sp. Dari kultur feses yang positif, hasil PCR juga menunjukan positif secara molekuler. Hal ini menunjukan sapi-sapi yang menjadi sampel penelitian terinfeksi oleh Blastocystis sp.

Morfologi Blastocystis sp pada sapi potong yang diamati menunjukan bentuk vakuolar, granular dan kista dengan diameter berkisar 2,78 – 35,35 μm (rata-rata 14,76 μm). Ukuran Blastocystis sp yang terdeteksi feses segar lebih besar dari ukuran dalam kultur dan bentuk vakuolar merupakan bentuk sel yang paling umum diketemukan. Dari hal itu, dapat disimpulkan bahwa prevalensi infeksi Blastocystis sp pada sapi bali di Kabupaten Siak Sri Indrapura Riau Indonesia sangat tinggi.  Morfologi Blastocystis sp bervariasi secara luas, dengan bentuk vakuolar, granular dan kista dan ukurannya berkisar sekitar 2,78 – 35,35 μm (rata-rata14,76 μm). Infeksi  Blastocystis sp pada sapi bali di Kabupaten Siak Sri Indrapura Riau Indonesia berpotensi sebagai transmisi zoonosis.

Penulis: Lucia Tri Suwanti

Berikut Link artikel yang telah terbit di Journal Internasional: Eco. Env. & Cons. 26 (April Suppl. Issue): 2020; pp. (S209-212) ISSN 0971-765X

http://www.envirobiotechjournals.com/EEC/26aprilsuppl/EEC-35.pdf

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu