Prof Kusnanto Kembangkan Paradigma Baru Perawatan Diabete Melitus

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Prof. Dr. Kusnanto, S.Kp., M.Kes., Guru Besar bidang Ilmu Keperawatan saat menyampaikan orasi. (Foto: M. Alif Fauzan)

UNAIR NEWS – Prevalensi penyakit Diabetes Melitus (DM) terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Berdasarkan data dari International Diabetes Federation (IDF) pada 2019 lalu, tercatat 463 juta jiwa di dunia menderita DM. Provinsi Jawa Timur sendiri menduduki posisi ketiga dengan jumlah penderita DM terbesar nasional setelah DKI Jakarta dan Yogyakarta pada tahun 2018.

Berlandaskan hal itu, Prof. Dr. Kusnanto, S.Kp., M.Kes., menyampaikan orasinya berjudul Paradigma Baru: Meningatkan Kualitas Hidup Penderita Diabetes Melitus Berbasis Resiliensi dalam pengukuhannya sebagai Guru Besar bidang Ilmu Keperawatan Universitas Airlangga (UNAIR). Dikukuhkan pada Rabu (14/10/2020), Prof. Kusnanto menjelaskan bahwa DM ialah penyakit menahun yang akan diderita seumur hidup dan bersifat tidak menular. Menurutnya, DMmenjadi salah satu komorbid terbanyak penyebab Covid-19 yang masuk dalam top three setelah hipertensi dan obesitas.

“Kondisi seperti itujika tidak segera ditangani bisa berdampak pada aspek fisik, psikologis, sosial, dan penurunan kualitas hidup. Oleh karena itu dibutuhkan peran dari berbagai pihak dan paradigma baru sebagai pelayanan keperawatan,” terangnya.

Paradigma baru pengelolaan DM yang dikembanglan oleh Guru Besar Fakutas Keperawatan ketiga itu berfokus pada individu penderita untuk mencapai resiliensiatau kondisi bertahan hidup dan bangkit kembali. Pihaknya menerangkan bahwa ada empat tahapan untuk mencapai resiliensidalam perawatan secara mandiri itu.

Tahapan pertama adalah membangun tekad yang kuat atau intention pada penderita. Setelah itu, dosen yang lahir pada 29 Agustus 1968 itu menuturkan bahwa penderita harus meningkatkan daya tahan tubuh atau indurence yang baik. Ketiga, penderita harus melakukan adabtasiagar bisa mengatasi lingkungan yang merugikan dan menyesuaikan diri dengan kondisi yang telah berubah. Sementara tahapan terakhir adalah recoverability atau kemampuan untuk pulih atau bangkit kembali

“Setelah melakukan beberapa tahapan itu, penderita akan siap menerima kondisi penyakitnya dan tercapai kondidi resiliensi,” jelas dosen yang pernah mendapat penghargaan Juara 3 Iklim Akademik UNAIR tahun 2018.

Tidak hanya itu, Prof. Kusnanto juga menyebutkan bahwa keluarga dan lingkungan menjadi faktor penting dalam membantu penderita mencapai ketangguhan. Dukungan dari mereka mampu mengurangi rasa kesepian dan membantu mengelola stress pada penderita.

“Penderita juga bisa bergabung dalam Persatuan Diabetes Indonesia (PERSEDIA) untuk lebih meningkatkan rasa percaya diri, mandiri, dan hidup lebih sehat antar sesama penderita diabetes,” ujarnya.

Pada akhir, Guru Besar UNAIR ke-511 itu menyampaikan terima kasih kepada keluarga dan seluruh pihak yang selalu membantunya selama ini. Tidak lupa, dia juga mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Kesehatan yang telah memberian kesempatan beasiswa studi S1 dan Kementerinan Pendidikan dan Kebudayaan atas beasiswa studi S3-nya.

Penulis : Nikmatus Sholikhah

Editor  : Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu