EDUPRO 2020 Ulas Vaksinasi dan Penanganan Penyakit Equine Influenza dan Virus Corona

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Tim EDUPRO 2020

UNAIR NEWS – Manajemen kesehatan kuda menjadi perhatian penting dalam melakukan pemeliharaan kuda. Tidak jarang beberapa penyakit infeksius maupun non infeksius merugikan para pemilik kuda. Parahnya, keterbatasan informasi dan  minimnya dokter hewan yang memfokuskan diri pada kesehatan kuda juga menjadi problem tersendiri. Dari hal itulah, Kelompok Minat Provesi Veteriner (KMPV) Airlangga Equine Club Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, kembali mengadakan EDUPRO 2020 dengan mengangkat tema “Vaccination and Treatment of Equine Influenza and Equine Corona Virus” pada Minggu (11/10).

Pada kesempatan tersebut, Prof. Dr. Fedik Abdul Rantam drh., selaku pemateri menyampaikan bahwa Equine Influenza dan Equine Corona Virus selalu berhubungan dengan sistem imun kuda. Pada awal bahasan, Prof. Fedik menyebut bahwa sistem kekebalan tubuh anak kuda yang baru lahir diperoleh melalui kolostrum induknya, yakni melalui proses yang disebut transfer pasif.  

Tidak hanya itu, Guru Besar FKH UNAIR tersebut, juga mengulas bahwa protein dalam kolostrum dapat dengan mudah melewati lapisan saluran usus segera setelah lahir. Namun, tandasnya, dalam 12-24 jam sel-sel khusus dalam usus anak kuda tidak lagi melewatkan molekul-molekul besar ke dalam aliran darah.

“Peternak dapat meminta dokter hewan untuk menentukan tingkat perlindungan anak kuda melalui tes darah yang mengukur konsentrasi antibodi immunoglobulin G(IgG) dalam serum,” ujar Prof. Fedik.

Ahli virologi UNAIR itu juga memaparkan bahwa pada kuda dewasa atau kuda betina bunting  yang sebelumnya tidak divaksinasi terhadap influenza, vaksinasi dapat berupa rekomendasi produk produsen dengan rangkaian dua atau tiga dosis.

“Vaksinasi untuk Equine Influenza dapat meningkatkan kekebalan saat menghadapi wabah dan dapat menjadi strategi yang berharga jika wabah terdeteksi sukup dini. Kuda yang telah divaksinasi dapat divaksinasi ulang terutama jika vaksin sebelumnya telah diberikan lebih dari tiga bulan. Pada kuda yang tidak divaksinasi, atau kuda dengan riwayat vaksinasi yang tidak diketahui, kekebalan awal setelah pemberian produk intranasal, mungkin direkomendasikan untuk digunakan,” papar Prof. Fedik.

Selain itu, tambahnya, permulaan imunitas adalah tujuh hari setelah pemberian vaksin intranasal. Kuda yang telah terinfeksi dan pulih secara alami, cenderung memiliki kekebalan terhadap strain tertentu selama lebih dari satu tahun. Tetapi, sambungnya, vaksinasi booster dianjurkan enam bulan setelah penyakit terjadi karena variasi strain influenza.

Equine Corona Virus

Coronavirus menjadi masalah yang lebih umum pada kuda, mempengaruhi 10-83% populasi dengan tingkat kematian potensial 7-27% kuda dewasa. Para peneliti  masih terus menyelidiki untuk menemukan vaksin yang tepat.

“Pada penelitian yang menggunakan vaksin dari sapi, para peneliti tidak merekomendasikan vaksin tersebut untuk melawan virus corona. Penelitian di masa depan direncanakan untuk menyelidiki imunitas yang di mediasi sel dan mukosa dari vaksin virus corona sapi MLV,” tandas Prof. Fedik.

Sebelum mengakhiri pembicaraan, Prof. Fedik menyampaikan bahwa vaksinasi didasari pada manajemen kesehatan yang baik antara lain nutirisi. “Penting sekali untuk mempertahankan homeostasis pada kuda pada setiap level umur,” pungkasnya. (*)

Penulis: Muhammad Suryadiningrat

Editor: Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu