Targetkan Internasionalisasi Sampai Tambah Prodi Baru

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Prof. Dr. Purnawan Basundoro, S.S., M.Hum., saat diberi Rektor UNAIR keris usai dilantik menjadi Dekan periode 2020-2025 FIB. pada Rabu (30/9/2020). (Foto: M. Alif Fauzan)
Prof. Dr. Purnawan Basundoro, S.S., M.Hum., saat diberi Rektor UNAIR keris usai dilantik menjadi Dekan periode 2020-2025 FIB. pada Rabu (30/9/2020). (Foto: M. Alif Fauzan)

UNAIR NEWS – Pada pengujung 2020, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) resmi dinahkodai pimpinan baru. Rektor Universitas Airlangga mengamanahi Prof. Dr. Purnawan Basundoro, S.S., M.Hum., menjadi Dekan periode 2020-2025 FIB.,dan melantiknya pada Rabu (30/9/2020).

Saat dihubungi tim UNAIR NEWS, Prof. Pur –sapaan akrabnya–, menyatakan akan menggencarkan internasionalisasi program studi di FIB. Salah satu program yang harus dilakukan pertama adalah meningkatkan kerja sama dengan perguruan tinggi di luar negeri.

Selain itu, ia berencana mendorong seluruh program studi di FIB agar turut aktif dalam kegiatan nasional-internasional. “Salah satunya outbond, ini supaya mahasiswa ataupun dosen dapat menyerap pengalaman di luar negeri dan diterapkan di fakultas,” ujarnya pada Minggu (11/10/2020).

Kendati demikian, ia tak melupakan untuk menambah sarana prasarana guna mendukung proses pembelajaran di FIB agar lebih mumpuni. Seperti halnya penambahan koleksi referensi, fasilitas belajar mutakhir, hingga dukungan penuh untuk program-program unggulan – internasional yang hendak dilakukan sivitas akademika.

Dalam lima tahun ke depan, Prof. Pur menargetkan jumlah Professor dan Doktor di FIB harus meningkat secara signifikan. Menurutnya, dosen berstatus Profesor minimal di atas 20 persen, sedangkan Dosen berpendidikan Doktor minimal 70 persen.

Penambahan Prodi dan Perluasan Kerja Sama Internasional

Menurut Prof. Pur, dalam lima tahun ke depan semua program studi harus terakreditasi internasional. Gebrakan baru yang ia canangkan yakni pada 2021 pendirian Program S3 Ilmu Humaniora dapat terealisasi sehingga pada 2022 mulai menerima mahasiswa baru. Bahkan jika memungkinkan, tahun 2021 diusahakan sudah siap menerima mahasiswa baru.

“Saya juga merencanakan pendirian program S2 Ilmu Sejarah dengan konsentrasi Sejarah Perkotaan. Secara umum, kajian mengenai perkotaan merupakan program unggulan FIB, karena teman-teman yang mendalami kajian sastra dan budaya juga menjadikan Urban Studies sebagai konsentrasi mereka,” jelas Prof. Pur.

Lebih lanjut, menurutnya program Double Degree juga akan diperluas untuk seluruh prodi di FIB. Mengingat saat ini baru satu program studi double degree yang sudah berjalan, yaitu Program S2 Linguistik.

Riset kolaboratif dengan universitas mitra di luar negeri akan lebih digalakkan dalam rangka upgrade kapasitas dosen yang concern dalam riset. Hal itu menjadi kebutuhan mendesak dalam rangka membawa FIB ke kancah internasional.

“Seluruh potensi di FIB harus dikerahkan dalam rangka meningkatkan kapasitas. Kita akan menawarkan kerja sama dengan berbagai pihak, baik di Indonesia maupun di luar negeri dalam kerangka menuju FIB lebih baik,” ucap dosen prodi Ilmu Sejarah itu.

Selain itu, ia menjelaskan akan memaksimalkan penerapan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Jika sebelumnya sudah terlaksana, ke depan lebih ditingkatkan. Contohnya dengan meningkatkan kolaborasi setiap riset dan program potensial dengan mitra di dalam maupun luar negeri.

“Bidang pendidikan menjadi fokus utama karena merupakan core business kita, dan merupakan amanah negara dalam rangka menciptakan SDM yang unggul. Potensi pengajaran dan pendidikan harus diperluas, serta mengubah strategi pengajaran lebih efektif dan mutakhir,” tegasnya.

Inovasi dan kebijakan baru

“Saat ini proses belajar-mengajar telah dilaksanakan secara daring, tapi masih menemui beberapa kendala. Karena itu, perlu ada inovasi baru untuk menanganinya,” ungkap Profesor kelahiran Banjarnegara, 27 Mei 1971 itu.

Prof. Pur menjelaskan pihaknya berencana untuk mengembangkan konten pembelajaran serta media yang bisa diakses setiap saat, tidak bergantung pada dosen maupun waktu. Selain itu hal-hal teknis yang dapat dialihkan dengan sistem daring melalui internet akan lebih dimasifkan.

Tujuannya supaya seluruh sistem kerja berjalan lebih efektif. Otomasi mutlak diperlukan dengan mengurangi peran manusia sebanyak mungkin, mengingat situasi pandemi yang entah kapan usai. Kontrol terhadap kerja SDM juga harus dilakukan secara daring sehingga ketergantungan terhadap pengawasan pada manusia dapat dikurangi.

“Kebijakan yang akan saya terapkan, pertama membangun kebersamaan di FIB. Seluruh sivitas akademika harus menjadikan FIB sebagai rumah bersama sehingga semua harus merasa memiliki rumah bersama ini,” terangnya.

Ia juga akan membuat kebijakan untuk mempercepat urusan kenaikan jabatan akademik dosen. Mengingat kenaikan jabatan akademik merupakan hak dosen dan menjadi kewajiban fakultas untuk mengurusnya sampai tuntas dalam waktu yang singkat.

Selanjutnya, juga mengawal proses pembelajaran di era pandemi. Proses pengajaran era pandemi sangat berbeda dengan sebelumnya, tuntutannya harus berhasil dan mahasiswa memperoleh apa yang mesti mereka dapatkan. Hal tersebut akan diintegrasikan dengan kebijakan merdeka belajar yang merupakan kebijakan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Kebersamaan merupakan fondasi utama jika ingin membawa FIB menjadi lebih baik, terlebih untuk membawanya ke kancah internasional. Karena itu, kita membutuhkan persatuan, dalam bahasa Jawa kita harus saiyeg saekapraya, satu niat satu tindakan,” pungkasnya. (*)

Penulis: Muhammad Wildan Suyuti

Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu