Kajian Implementasi Environmental Management Accounting (EMA): Kasus di PT Semen Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Kompasiana.com

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi praktik Akuntansi Manajemen Lingkungan (Environment Management Accounting/EMA) di PT Semen Indonesia (PT. SI) sebagai usaha untuk mengakses Eco-efficiency, dimana PT. SI sebagai produsen semen sangat potensial sekali produk dan proses produksinya berpengaruh terhadap lingkungan.

Isu tentang lingkungan memang sangat menonjol sekali dalam dua dekade terakhir, baik di level internasional maupun nasional. Masyarakat mulai memperhatikan tentang problem lingkungan seperti polusi, pemanasan global, dan penurunan lapisan ozon (Rout, 2010). Tekanan yang begitu kuat di dunia internasional tentang lingkungan ini menyebabkan perusahaan manufaktur yang proses produksinya berpotensi mengotori lingkungan sangat concern sekali tentang keramahan lingkungan ini. Tekanan dari pemangku kepentingan ini  mengharuskan perusahaan mengeksplorasi model pelaporan baru yang mengakomodasi informasi tentang lingkungan dan keberlanjutan yang dikenal dengan akuntansi manajemen lingkungan. Akuntansi manajemen lingkungan ini lahir untuk mengakomodasi kebutuhan informasi tentang lingkungan di perusahaan. Kebutuhan akan informasi lingkungan ini disebabkan oleh semakin meningkatnya kesadaran lingkungan (environmental awareness) di masyarakat, selanjutnya kesadaran tersebut dibutuhkan untuk keberlanjutan perusahaan (sustainable development). Disinilah kemudian dikenal konsep Eco Efficiency.

Akuntansi Manajemen Lingkungan atau EMA didefinisikan sebagai “the identification, collection, analysis and use of two types of information for internal decision making: (1) physical information on the use, flows and destinies of energy, water, wastes, and materials (PEMA), and (2) monetary information on environment-related costs, earnings and savings (MEMA)” (IFAC, 2005). EMA ini dibagi menjadi dua aspek informasi yaitu informasi fisik (Physical Environmental Management Accounting atau PEMA), dan informasi moneter (Monetary Environmental Management Accounting atau MEMA).  Penelitian di PT SI ini melihat bagaimana perusahaan menerapkan PEMA dan MEMA dalam melaporkan aktivitas produksinya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa PT. SI dalam menerapkan eco efficiency lebih disebabkan karena adanya permintaan dari stakeholder seperti pemerintah, pemegang saham asing, dan masyarakat sekitar. Dalam praktiknya, PT. SI masih terfokus pada memonitor terutama informasi fisik dari departemen non akuntansi (PEMA), sementara informasi keuangan (MEMA) disajikan dalam laporan yang terpisah. Alokasi biaya untuk biaya lingkungan masih terpendam di dalam biaya overhead pabrik dan tidak disajikan secara terpisah.  Hal ini mengakibatkan informasi keakuratan informasi akuntansi lingkungan melalui MEMA masih rendah.

Namun demikian karena penelitian kualitatif ini baru dilakukan sekali, dan banyak keterbatasan dalam proses penelitiannya, maka hasil penelitian ini tentu saja tidak ditujukan untuk digeneralisasi, tapi masih bisa ditransfer ke perusahaan lain. Penelitian lanjutan masih diperukan untuk dapat memberikan gambaran yang utuh tentang penelusuran biaya lingkungan sehingga PT. SI akan dapat menggunakan konsep MEMA dan PEMA dengan lebih baik. PT. SI diharapkan akan dapat mengoptimalkan penggunaan MEMA dan PEMA untuk menngidentifikasi biaya lingkungan mereka secara lebih teliti. Penelitian ini juga dapat memberikan sumbangan pada penelitian lingkungan dan kinerja manajemen dengan cara mengintegrasikan kedua konsep tadi.

Penulis: Titisari Kusumawardhani dan B. Basuki

Informasi detail dari artikel ini dapat diakses pada link berikut: http://www.testmagzine.biz/index.php/testmagzine/article/view/4223

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu