Prof Amin Canangkan Inovasi Biotechnopreneurship Smart

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
KIRI, Prof. Mochammad Amin Alamsjah, Ir., M.Si., Ph.D., menerima keris dari Rektor UNAIR Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., MT., Ak., didampingi Ketua Senat Akademik Prof. Djoko Santoso, dr., Ph.D., Sp.PD.K-GH.FINASIM. (Foto: M. Alif Fauzan)
KIRI, Prof. Mochammad Amin Alamsjah, Ir., M.Si., Ph.D., menerima keris dari Rektor UNAIR Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., MT., Ak., didampingi Ketua Senat Akademik Prof. Djoko Santoso, dr., Ph.D., Sp.PD.K-GH.FINASIM. (Foto: M. Alif Fauzan)

UNAIR NEWS – Usai mengemban amanah Wakil Rektor Universitas Airlangga di bidang Penelitian dan Pengembangan periode (2015-2020), Prof. Mochammad Amin Alamsjah, Ir., M.Si., Ph.D. kembali mengabdi ke fakultas sebagai Dekan FPK UNAIR periode 2020-2025. Sebelumnya, pada 2009-2015 Prof Amin juga menjadi Wakil dekan di FPK UNAIR.

Perjalanan karirnya bermula bekerja di tambak di Situbondo, lalu pindah ke Banyuwangi, usai lulus. Pada 1994, Prof Amin menjadi dosen ke-13 di Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UNAIR. Ia lantas melanjutkan S2 di Universitas Brawijaya pada akhir 2000 dengan beasiswa JSPS (Japan society for Promotion Science) di Sugashima Marine Biological Laboratory. Topik penelitiannya adalah eksplorasi sumber daya laut, khususnya ular laut, mengambil protein dari bisa guna mencegah Kanker dan Alzheimer.

Prof Amin lalu melanjutkan S3 di Nagasaki University bidang pemanfaatan sumber daya kelautan pada 2002. Kemudian, dinobatkan sebagai Profesor ahli Rumput Laut dengan studi kandungan bahan aktif beberapa jenis rumput laut untuk mencegah Red Tide Diseases.

Inovasi Biotechnopreneurship Smart

Mengenai strategi dan inspirasi pengembangan FPK ke depan, Prof Amin mencanangkan program Inovasi Biotechnopreneurship Smart. Yakni, sebuah paket strategi yang berisi enam poin utama. Yakni, pertama adalah penguatan organisasi yang sehat.

”Penguatan ini Human Resources international standard governance, and infrastructure,” sebutnya.

Kedua, meningkatkan Global Networking for Global Partnership. Ketiga, mengoptimalkan pengetahuan kemampuan entrepreneurship. Dikembangkan mata kuliah berbasis entrepreneur agar mahasiswa mampu menciptakan start-up di bidang perikanan kelautan, khususnya S1 dan S2.

”S1 Akuakultur sudah terakreditasi ASIIN, capaian harus berstandarkan internasional. Lalu, bidik pusat research untuk pendanaan dengan aktif bekerja sama dengan expertise luar negeri, serta kolaborasi pengmas yang bertaraf Internasional,” sebutnya.

Keempat, fokus memilih peluang yang kredibel untuk pencapaian target sesuai dengan kompetensi UNAIR. Kelima, menggali potensi fakultas. Serta, keenam, mengelola sistem dan tim untuk mencapai tujuan utama.

Terbaik Nasional dan Target Internasional

Prof Amin menargetkan FPK UNAIR menjadi The Big Five Faculty of Fisheries and Marine in Indonesia dan QS World University Rankings by Subject. Menurutnya, diperlukan peningkatan utilisasi intellectual capital untuk menjadikan FPK masuk 5 besar FPK di Indonesia dan QS World University Rankings by Subject, terakreditasi A (BAN-PT) dan asosiasi akademik internasional.

Derasnya digitalisasi diperlukan program kolaborasi antar industri di kancah multinasional yang disebut Industry-Academia Collaboration Program (IACP). Nantinya, itu menjadi backbone pengkayaan proses pembelajaran mahasiswa.

”Nanti kita link & match hubungan yang sangat kuat dengan perusahaan multinasional bidang perikanan kelautan,” Terang Prof. Amin.

”Temasuk optimalisasi capaian Marine Station sebagai teaching industry dan pre-start up incubator business. Dan, melanjutkan program magang yang bisa dilakukan semua mahasiswa FPK UNAIR,” tambahnya.

Prodi Bisnis Perikanan

Prof. Amin melihat UMKM berbasis perikanan serta eksportir di Indonesia perlu ditingkatkan melalui Fisheries Business School (FBS). Meningkatkan pemahaman Digital Marketing, entrepreneur finance, pemahaman consumer behavior, serta hukum kekayaan intelektual yang bisa menjadi ikon FPK UNAIR sangat perlu dilakukan dalam mempersiapkan lulusan. Sebelum itu, Prof Amin mengupayakan program studi baru Fisheries Business (Bisnis Perikanan)dengan kualifikasi MBA (setara Magister Manajemen).

”Kemungkinan terealisasikan di tahun ke-5 atau ke-10,” ujarnya.

“Masih dipelajari dulu, menilik sistem Bisnis Perikanan di Amerika, Moscow, India, dan Norwegia. Harapannya lulusan dapat berkecimpung di bisnis perikanan, baik kontribusi signifikan di pemerintahan/swasta, baru kita bisa mendeklarasikan FBS,” harapnya. (*)

Penulis: R. Dimar Herfano Akbar

Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu