Penggunaan Gen Spa untuk Penentuan Strain dari MRSA yang Diisolasi dari Hidung Anjing

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh inilah.com

Spesies paling patogen dari genus Staphylococcus adalah Staphylococcus aureus. Bakteri ini sering berkoloni di kulit, selaput lendir orang sehat dan terutama saluran pernapasan bagian atas tetapi tidak selalu menimbulkan gejala klinis. Staphylococcus aureus merupakan salah satu patogen oportunistik yang mampu menyerang saluran pernafasan dan permukaan kulit atas pada mamalia. Spesies ini merupakan spesies Staphylococcus yang paling banyak diteliti karena sering menyebabkan infeksi dan peningkatan prevalensi strain Staphylococcus aureus yang resisten terhadap antibiotik.

Penyakit yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus disebabkan oleh kerja berbagai faktor virulensi, oleh karena itu regulasi tersebut kompleks dalam hal mengatur ekspresi gen yang menyandi faktor virulensi tersebut. Pada manusia, MRSA dikenali sebagai bakteri patogen zoonosis karena diisolasi dari 18% luka yang disebabkan oleh anjing ternyata memiliki karakteristik yang sama dengan MRSA pada anjing. Pengendalian penyebaran MRSA yang dapat menyebabkan resistensi terhadap antibiotik dan infeksi invasif dapat dilakukan dengan program pemantauan. Pengetikan molekuler dan Antibiotipe adalah fungsi kunci untuk investigasi epidemiologi.

Tujuan dari jenis epidemiologi adalah untuk mengetahui hubungan antar garis yang diisolasi dari tempat dan waktu tertentu, misalnya pada saat terjadi wabah. Pada saat wabah ditemukan peningkatan infeksi dan/atau pola resistansi ditemukan berbeda dari data sebelumnya. Pencarian dan perbandingan garis penyebab wabah dimaksudkan untuk menentukan jenis dan jumlah strain yang terlibat, penerapan terapi yang tepat, pembatasan penyebaran bakteri dan evaluasi keberhasilan program pengendalian infeksi. Polymerase Chain Reaction (PCR) diterima sebagai standar emas untuk mendeteksi karakteristik genotipe patogen. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka dilakukan penelitian tentang identifikasi gen penyandi protein A (gen spa) pada Staphylococcus aureus yang berasal dari usap mukosa hidung anjing dengan menggunakan teknik PCR.

Berdasarkan analisis terhadap 45 sampel usap mukosa hidung anjing, diperoleh 5 koloni bakteri positif yang memfermentasi manitol pada media Mannitol Salt Agar dan berbentuk kokus, bergerombol dan Gram positif pada pemeriksaan mikroskopis. Hasil identifikasi dengan uji katalase, koagulase, uji Voges Proskauer (VP) dan uji hemolisis diperoleh koloni dengan sifat-sifat penghasil enzim katalase dan koagulase, menghasilkan asetil-metil-karbinol dan pembentukan β-hemolisis pada media Agar Darah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koloni bakteri positif Staphylococcus aureus berjumlah 5 dari 45 usapan mukosa atau sekitar 11%. Dari 45 uji identifikasi sampel didapatkan 5 isolat yang positif Staphylococcus aureus. Uji sensitivitas antibiotik pada isolat Staphylococcus aureus.

Berdasarkan hasil penelitian isolat Staphylococcus aureus dapat ditemukan usap mukosa hidung anjing sebesar 11%. Dari empat puluh lima sampel usap mukosa hidung anjing, ditemukan lima isolat Staphylococcus aureus. Terdapat keragaman amplikon pada gen spa pada hasil PCR Staphylococcus aureus yang berasal dari strain MRSA dan strain MSSA dari mukosa hidung anjing. Hasil PCR untuk lima isolat yaitu tiga pita 220 bp, 290 bp dan 600 bp, dan ditemukan bahwa isolat yang memiliki pita ganda menunjukkan lebih dari satu alel pada gen spa. Gen spa dapat menjadi indikator penentuan strain Staphylococcus aureus sebagai penanda untuk dicari pendekatan epidemiologi molekuler.

Penulis: Dr. Mustofa Helmi Effendi, drh., DTAPH.

Informasi lengkap dari artikel ini dapat diakses pada laman berikut: https://www.researchgate.net/publication/343162196

Yunita, M.N., Mustofa Helmi Effendi, Reina Puspita Rahmaniar, Sitti Arifah and Sheila Marty Yanestria. 2020. Identification of SPA Gene For Strain Typing Of Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) Isolated From Nasal Swab of Dogs. Biochem. Cell. Arch.  20 (1):  2999-3004.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu