Dikukuhkan Sebagai Guru Besar UNAIR, Prof. Tutik Tuturkan Peranan Potensial Nutrasetikal dalam Pencegahan Stres Oksidatif

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Prof. Dr. Dra. Sri Puji Astuti Wahyuningsih, M.Si saat menyampaikan orasi ilmiahnya pada pengukuhan guru besar UNAIR di Aula Garuda Mukti, Kampus C UNAIR. (Foto: Muhammad Alif fauzan)

UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) kembali mengukuhkan Guru Besar pada Kamis (8/10/20). Kali ini Prof. Dr. Dra. Sri Puji Astuti Wahyuningsih, M.Si menjadi salah satu yang dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Fisiologi Hewan.

Prof Tutik, sapaan akrabnya, telah resmi menjadi Guru Besar Baru Fakultas Sains dan Teknologi UNAIR. Bertempat di Aula Garuda Mukti Kantor Manajemen Kampus C UNAIR, Prof. Tutik menyampaikan pidato pengukuhannya yang berjudul “Peran Potensial Nutrasetikal dalam Pengaturan Fungsi Imun dan Stres Oksidatif”.

Menurutnya, radikal bebas terbentuk karena aktivitas metabolik. Adanya radikal bebas dalam bentuk oksigen reaktif memiliki sifat pengikatan terhadap asam deoksiribonukleat (ADN). Hal tersebut juga dapat menyebabkan autooksidasi atau peroksidasi lipid dan dapat mengaktivasi kematian sel terprogram.

“Semakin banyak radikal bebas masuk dalam tubuh, maka semakin banyak pula sel imun yang rusak,” jelasnya.

Radikal bebas dapat mengganggu fungsi sel sehingga fungsi sel menjadi tidak normal. Hal tersebut menurunkan sistem pertahanan tubuh menurun sehingga tubuh menjadi lemah dan mudah sakit. Selain itu radikal bebas bisa memicu terbentuknya sel-sel baru abnormal sebagai pemicu tumor maupun kanker.

Tubuh sebenarnya telah membuat antioksidan endogen yang dapat menangkal radikal bebas. Proses pembuatan antioksidan endogen ini berupa pembentukan enzim antioksidan seperti superoksida dismutase (SOD) dan katalase (CAT), glutathione peroxidase (GPx), dan glutathione reductase (GSH).

Lebih lanjut, Prof. Tutik menjelaskan bahwa Okra mengandung flavonoid, quercetin, lutein, zeaxanthine, dan vitamin C. Vitamin C pada okra dalam jumlah yang tinggi memiliki aktivitas scavenger yang dapat mengurangi radikal bebas.

“Okra juga mengandung polisakarida yang berpotensi untuk memodulasi fungsi imun melalui aktivasi sel imun,” jelasnya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak metanol polong okra memiliki aktivitas hepatoprotektif dengan indikator biokimia serum. Ekstrak okra juga dapat memulihkan jaringan hati yang rusak menjadi normal.

Disamping itu, ekstrak metanol dari polong okra hijau juga dapat memperkecil toksisitas timbal. Okra memiliki potensi nefroprotektif dengan mengurangi toksisitas timbal asetat.

“Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak metanol dari okra polong memiliki aktivitas antioksidan dan memainkan peran perlindungan terhadap keracunan timbal,” ujarnya.

Pada akhir, Prof. Tutik memaparkan bahwa nutrasetikal merupakan makanan atau bahan alternatif atau fungsional yang dapat mengatur fungsi imun sehingga mencegah terjadinya stres oksidatif. Nutrasetikal lebih murah dan ketersediaannya lebih mudah.

“Konsumsi nutrasetikal memiliki berbagai fungsi pengaturan kekebalan tubuh yang pada akhirnya bergantung pada keseimbangan antara oksidan dan antioksidan untuk dapat mencegah masuknya penyakit dan meningkatkan kesehatan,” tutupnya. (*)

Penulis: Sandi Prabowo

Editor: Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu