Dikukuhkan, Guru Besar FIB UNAIR Serukan Perlawanan terhadap Stereotip dan Homogenisasi Perempuan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Prof. Diah Ariani Arimbi PhD guru besar Fakultas Ilmu Budaya UNAIR saat menyampaikan orasi pengukuhan guru besar, Kamis (8/9/2020). (Sumber: M. Alif Fauzan)

UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) kembali mengukuhkan empat guru besar pada Kamis (8/10/2020). Pada momen tersebut, Prof. Diah Ariani Arimbi, S.S., M.A., Ph.D. dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) menjadi salah satu dosen yang berhasil menaiki mimbar orasi pengukuhan guru besar UNAIR.

Dikukuhkan sebagai guru besar bidang Ilmu Kajian Budaya dan Gender, Prof. Diah dalam orasinya menyerukan perlawanan terhadap stereotip dan konstruksi gender yang merugikan, khususnya pada perempuan.

Guru besar aktif ke-2 FIB tersebut menyoroti bagaimana kehadiran perempuan masih sebatas dilihat pada fisiknya saja. Padahal sebagai manusia, perempuan juga memiliki kehadiran mental, sosial, budaya, dan identitas yang harusnya dihormati oleh masyarakat.

“Karena itulah perjuangan menuju kesetaraan gender masih begitu panjang,” kata lulusan S2 English Language and Literature, University of Northern Iowa, Amerika Serikat tersebut.

Dalam cita-cita Sustainable Development Goals (SDGs) 2015-2030, Prof Diah menerangkan bahwa perempuan masih rentan mengalami marginalisasi akibat praktik pernikahan anak, catcalling, body shaming, bullying, maupun personal ridicule (ejekan yang bersifat personal, Red). Sehingga perempuan kini masih menjadi sosok minor yang terombang-ambing dalam pusaran budaya.

Sementara itu pada konstruksi identitas kultural, Prof. Diah mengambil contoh pada perubahan standar kecantikan Indonesia yang nyatanya mendorong pada homogenisasi perempuan. “Dahulu dalam Kitab Kakawin Arjunawijaya kecantikan perempuan digambarkan pada mereka yang bertangan panjang, rambut hitam bergelombang, dan warna kulit kuning layaknya kunyit,” terang guru besar UNAIR ke-502 tersebut.

Akan tetapi standar kecantikan kini telah berubah mengikuti arus masuknya budaya-budaya asing. Mereka yang berkulit putih, berambut lurus, bertumbuh langsing, berhidung mancung kini dianggap sebagai satu-satunya standar representasi kecantikan perempuan. Sehingga perempuan kini seolah terdoktrin dan terhomogenisasi pada identitas tertentu yang urung mencerminkan kepribadiannya.

Lulusan S3 Women and Gender Studies, University New South Wales, Australia tersebut bahkan turut menyoroti kasus Tara Basro yang dipidanakan akibat postingannya yang mempertontonkan bentuk tubuhnya sendiri. Padahal, postingan tersebut merupakan pesan bagi perempuan untuk lebih mencintai bentuk tubuhnya serta mengampanyekan penolakan terhadap body shaming.

Lebih jauh, Prof. Diah juga berharap agar kesetaraan gender baik bagi laki-laki maupun perempuan dapat berjalan melintasi ruang, waktu, wilayah, maupun budaya.

“Saya memimpikan berbagai wajah perempuan Indonesia dengan berbagai warna dan rupa. Meski perjuangan kita masih panjang, tapi saya berterima kasih kepada pejuang gender yang menyuarakan kesetaraan dan hak-hak perempuan di antara masyarakat,” tandasnya. (*)

Penulis: Intang Arifia

Editor: Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu