Deteksi Gen Enterotoksin Tipe B pada MRSA yang Diisolasi dari Susu Mentah di Jawa Timur-Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Suara.com

Kasus resistensi methicillin Staphylococci (MRS) telah ditemukan sejak tahun 1962 dimana kasus pertama dari methicillin resistance Staphylococcus aureus (MRSA) terdeteksi pada manusia dengan perkembangan eksponensial. Berbagai penelitian telah melaporkan adanya deteksi strain MRSA pada hewan atau produk makanan yang berasal dari hewan, salah satunya adalah susu sapi dengan variasi prevalensi yang berbeda. Pada dasarnya methicillin resistant (MR) pada S. aureus terjadi karena adanya perubahan protein pengikat penisilin (PBP2a) sehingga menurunkan afinitas antibiotik β laktam yang diinduksi oleh gen mecA pada kromosom kaset stafilokokus (SCCmec).

Konfirmasi resistensi methicillin (MR) merupakan faktor yang signifikan dalam potensi virulensi S. aureus, seperti hubungan MRSA dengan keberadaan gen penghasil eksotoksin seperti enterotoksin. Staphylococcus aureus sendiri merupakan bakteri komensal yang banyak ditemukan pada kulit dan mukosa ruminansia, yang memiliki keterkaitan dengan mastitis subklinis atau klinis yang dapat ditularkan ke manusia melalui kontaminasi susu, susu yang belum diolah dan produk susu lainnya. Konsumsi Staphylococcal enterotoxins (SE) yang diproduksi oleh beberapa strain Staphylococcus melalui konsumsi susu mentah dan produk susu dapat menyebabkan terjadinya penyakit yang ditularkan melalui susu (MBD), dimana kejadian tersebut telah dilaporkan dalam banyak penelitian. SE memiliki tingkat kestabilan yang baik terhadap perlakuan panas dan pembekuan/pengeringan, tetapi juga memiliki ketahanan terhadap enzim proteolitik dan pH rendah sehingga dapat berfungsi penuh dalam saluran pencernaan setelah dikonsumsi bahkan pada dosis yang sangat rendah yaitu 20 ng -1 μg/ml. Enterotoksin stafilokokus B (SEB) termasuk jenis yang berbahaya karena mampu menginduksi efek antigenik super.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi keberadaan dan mengevaluasi keberadaan galur MRSA pembawa gen SEB yang mencemari susu sapi di Jawa Timur dengan menggabungkan 2 metode deteksi MRSA yaitu Difusi cakram Cefoxitine dan Difusi cakram Oxacillin dengan Oxacillin Resistance Screen Agar (ORSA), kemudian Metode PCR untuk mendeteksi keberadaan gen SEB pada isolat MRSA. Informasi penelitian ini sangat penting untuk mendukung pengambilan keputusan strategis dan teknis oleh instansi terkait untuk mitigasi dan pencegahan dampak pada aspek kesehatan masyarakat.

Staphylococcus aureus merupakan bakteri yang sering ditemukan pada permukaan mukosa pernafasan dan pada saluran urogenital manusia maupun hewan. Staphylococcus aureus adalah bakteri komensal yang bersifat oportunistik menular pada manusia dan hewan. Staphylococcus aureus adalah agen patogen yang dapat menyebabkan berbagai penyakit infeksi dari kulit hingga infeksi sistemik pada host imunokompeten yang mengakibatkan kematian. S. aureus dapat ditularkan melalui susu dan menyebabkan penyakit yang ditularkan melalui susu. Dalam penelitian ini diidentifikasi kontaminasi S. aureus sebanyak 76 isolat (50,7%) dari 150 sampel susu sapi, persentase ini cukup tinggi.

Infeksi MRSA menyebar ke seluruh dunia dalam jumlah yang terus meningkat selama 10 tahun terakhir. Prevalensi MRSA di kawasan Asia seperti Jepang dan Singapura mencapai lebih dari 50% sedangkan di Amerika, Australia, beberapa negara Eropa berkisar antara 25-50%. Prevalensinya di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia belum banyak diketahui karena penelitian tentang MRSA masih sedikit. Jumlah MRSA yang terdeteksi pada penelitian ini adalah 20 isolat dari 24 isolat yang diuji atau 13% dari total sampel susu sapi. Hasil ini mirip dengan beberapa penelitian lain yang dilaporkan mengisolasi keberadaan 10,3% isolat MRSA. Sumber penularan MRSA adalah karena kontak dengan manusia atau hewan pengangkut, dimana sapi yang terinfeksi MRSA bertindak sebagai reservoir dan kemudian menularkan ke hewan lain atau manusia. Kolonisasi MRSA pada sapi dapat menjadi faktor risiko bagi orang-orang yang memiliki kontak dekat dengan sapi yang terinfeksi MRSA seperti dokter hewan, peternak, pemerah susu, dan orang yang bekerja di rumah pemotongan. Deteksi MRSA dalam susu merupakan masalah yang perlu diperhatikan dan memerlukan praktik manajemen peternakan yang ketat, serta prosedur sanitasi yang tepat seperti penyimpanan, penanganan dan transportasi.

Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa adanya pencemaran susu sapi oleh MRSA dimungkinkan karena berbagai faktor, salah satunya adalah rendahnya higin pemerahan. Selain itu, deteksi gen SEB pada isolat MRSA sangat berbahaya bagi aspek kesehatan masyarakat, yang akan meningkatkan potensi penyebaran keracunan makanan stafilokokus yang sulit diobati.

Penulis korespondensi: Dr. Mustofa Helmi Effendi, drh., DTAPH
Informasi detail dari kajian ini dapat dilihat pada tulisan kami di: http://www.sysrevpharm.org//fulltext/196-1598013862.pdf?1598750309

Ramandinianto, S.C., Khairullah, A.R., Effendi, M.H., Tyasningsih, W. and Rahmahani, J.  Detection of Enterotoxin type B gene on Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) isolated from raw milk in East Java, Indonesia. Sys Rev Pharm 2020;11(7):290-298.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu