Strategi UMKM untuk Bertahan kala Pandemi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi UMKM: Seorang pedagang menjajakan dagangannya di pasar. (Foto: litbang.kemndagri.go.id))
Ilustrasi UMKM: Seorang pedagang menjajakan dagangannya di pasar. (Foto: litbang.kemndagri.go.id))

UNAIR NEWS – Pandemi selain berdampak pada kesehatan, ekonomi jadi salah satu sektor yang turut terkena imbasnya. Banyak masyarakat yang kini mengurangi permintaan terhadap suatu barang sehingga perdagangan nasional maupun internasional menjadi terguncang.

Menurut data statistik yang dihimpun Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, impor maupun ekspor mengalami penurunan. Utamanya dalam sektor non-migas. Sektor pertanian menjadi sektor yang paling menguntungkan saat ini.

“Dalam kondisi apapun makanan selalu dibutuhkan untuk bertahan hidup dan tidak ada larangan apapun yang membatasi peredarannya. Ini yang bisa dimanfaatkan baik pengusaha atau pemerintah,” ujar Ria Triwastuti, S.AB., M.Int.Bus dalam webinar yang bertajuk EXIM pada Jumat (2/10/2020).

“Ternyata Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) itu memiliki kontribusi yang cukup tinggi untuk ekspor non-migas sebesar 14,37 persen saat 2018. Tapi, saat pandemi UMKM sangat terguncang. Banyak dari mereka yang terancam gulung tikar,” imbuhnya pada webinar yang diadakan Program Studi D3 Perpajakan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (FV UNAIR).

SUASANA webinar EXIM yang digelar oleh D3 Perpajakan FV UNAIR pada Jumat (2/10/2020).

Strategi UMKM agar tetap bertahan saat ini adalah Market Intelligent. Hal tersebut merupakan upaya yang bisa digunakan untung menganalisis pasar tujuan ekspor atau impor UMKM yang bersangkutan. Peraturan dari negara tujuan menjadi hal utama yang harus diperhatikan.

“Karena banyak berbagai negara di dunia yang menerapkan lockdown, otomatis mereka punya peraturan tersendiri untuk mengatur barang baik yang masuk atau keluar,” kata perempuan yang lahir di Tulungagung, 17 Desember 1988, tersebut.

Selain itu, tren permintaan pasar dan aktivitas pesaing harus diperhatikan. Pengelola UMKM harus memiliki data importir atau eksportir serta terpapar tentang info pameran yang biasa diadakan.

“Biasanya business matching itu dilaksanakan secara luring ya, untuk mempertemukan para importir dan eksportir yang ada. Tapi, untuk saat ini sedang diusahakan untuk dilakukan secara daring,” ujar dosen Program Studi D3 Perpajakan FV UNAIR itu.

Pengelola UMKM harus cakap dalam melakukan proses negosiasi, baik dalam pembayaran, tindak lanjut, maupun disepakatinya kontrak ekspor-impor. Terakhir yang perlu disiapkan UMKM adalah help desk, advokasi dan mitigasi.

“Perlu disiapkan jika ada pertanyaan-pertanyaan tertentu yang saat perjalanan menghambat komunikasi atau hal teknis lainnya,” pungkas Ria. (*)

Penulis: Icha Nur Imami Puspita

Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu