Memetakan Ketidaksetaraan Kasus Morbiditas dan Mortalitas Akibat Diare di Masa Kanak-kanak

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Alodokter.com

Di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, satu dari sepuluh kematian pada anak-anak di bawah usia lima tahun disebabkan diare. Variasi antar negara dalam insiden dan kematian akibat diare disebabkan oleh intervensi yang berbeda dalam melindungi, mencegah infeksi, dan mengobati penyakit pada anak-anak. Mengidentifikasi daerah-daerah dengan beban tertinggi dan pemetaan faktor risiko terkait dapat membantu mengurangi dan mencegah kasus diare pada masa kanak-kanak di masa mendatang.

Kami menggunakan analisis geostatistik berbasis model Bayesian dengan dataset geolocated yang terdiri dari 15.072.746 anak-anak usia kurang dari lima tahun dari 466 lokasi survei di 94 negara berpenghasilan rendah dan menengah, dikombinasikan dengan temuan Global Burden of Diseases, Injuries, and Risk Factors Study (GBD) 2017, untuk memperkirakan distribusi prevalensi diare, insiden, dan mortalitas dari tahun 2000-2017. Dari data ini, kami memperkirakan beban diare di berbagai tingkat subnasional (disebut unit) dengan mengumpulkan hasil imbang secara spasial, dan kami menyelidiki pendorong pola sub-nasional dengan membuat perkiraan faktor risiko gabungan.

Penurunan terbesar kematian akibat diare terlihat di Asia Selatan dan Tenggara serta Amerika Selatan. Meskipun banyak anak-anak di Afrika tetap berisiko tinggi meninggal akibat diare, wilayah dengan kematian terbanyak berada di luar Afrika, dengan unit kematian yang tertinggi berlokasi di Pakistan. Indonesia menunjukkan tingkat ketidaksetaraan geografis terbesar, dimana beberapa daerah memiliki tingkat kematian hampir empat kali lipat dari rata-rata nasional.

Penurunan angka kematian berhubungan dengan perbaikan air, sanitasi, dan kebersihan atau pengurangan kegagalan tumbuh kembang anak-anak. Kebanyakan daerah berisiko tinggi ditemukan memiliki kebersihan yang buruk, kegagalan tumbuh kembang yang tinggi, atau cakupan terapi rehidrasi oral yang rendah. Kami juga mengidentifikasi strategi intervensi yang potensial untuk populasi-populasi yang rentan. Mengingat sumber daya yang terbatas di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, menghitung beban diare dan faktor resikonya secara akurat sangatlah penting untuk presisi program-program kesehatan masyarakat.

Penulis: Ninuk Hariyani, drg., M.Kes., MPH., PhD.

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: https://doi.org/10.1016/S0140-6736(20)30114-8

Reiner RC, Hay SI,Wiens KE, et.al. Mapping geographical inequalities in childhood diarrhoeal

morbidity and mortality in low-income and middle-income countries, 2000–17: analysis for the Global Burden of Disease Study 2017. Lancet 2020; Vol.395(10239), pp.1779-1801.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu