Tasya Kamila Berikan Tips-Tips untuk Menjalani Pendidikan Tinggi di Masa Pandemi COVID-19

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Media Indonesia

UNAIR NEWS – International Development Student Conference 2020 Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNAIR 2020 (IDSC 2020 FEB UNAIR) memasuki pekan kedua dari rangkaian acaranya. IDSC 2020 merupakan kegiatan webinar dari rangkaian kegiatan tahunan yang bernama Economic Week 2020. Kali ini, penyanyi dan aktris Shafa Tasya Kamila diundang sebagai narasumber untuk membahas topik “The Importance of Education in Times of Crisis” pada Sabtu siang (26/9/2020). Webinar ini dimoderatori oleh Syafril Riza, S.E., M.M., CT., seorang founder dari Today Solution and Passion Enthusiast. 

Webinar berjalan dengan metode tanya jawab antara moderator dengan narasumber. Pertama, Tasya mengatakan bahwa pandemi COVID-19 ini tentu menjadi katalisator dalam perkembangan pendidikan daring di Indonesia. Namun menurutnya, tidak semua daerah di Indonesia siap dalam menghadapi metode adaptifitas ini. Ia menambahkan bahwa pendidikan daerah hingga saat ini hanya efektif di beberapa daerah saja, terutama di kota-kota besar. Tantangan berupa kekurangan infrastruktur untuk mengakomodir pendidikan daring masih terjadi di daerah 3T.

“Problema infrastruktur ini tidak hanya pada sisi pelajar dan mahasiswa saja, tapi juga terhadap pengajar juga. Nyatanya, tidak semua individu yang terlibat dalam pendidikan Indonesia memiliki akses internet yang merata dan itu merupakan isu dimana pemerintah harus turun tangan,” ujar alumni Columbia University itu.

Dalam kesempatan tersebut, moderator mengandaikan bahwa pendidikan daring ini seperti semua hal lainnya di dunia, selalu terdapat dua sisi mata uang dan Tasya mengamini pernyataan itu. Jebolan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu menjelaskan bahwa sisi positif dari pembelajaran daring ini adalah pelajar dan mahasiswa dituntut untuk lebih mandiri dalam mengikuti pembelajaran dan mencari bahan pembelajaran mereka. Di sisi negatifnya, ia mengatakan bahwa pembelajaran daring ini sangat minim terhadap human touch jadi seringkali pembelajaran jatuh terhadap ranah yang membosankan. 

“Tantangan infrakstruktur yang telah saya jelaskan tadi dan tentu distraksi yang sangat besar karena kita sedang nyaman dalam rumah kita sendiri merupakan beberapa melankoli dari pembelajaran daring yang kita harus aplikasikan sekarang,” jelasnya.

Tidak hanya itu, dalam kesempatan itu ia juga mengajak audiens IDSC dan para pengajar untuk tidak menyerah lebih dulu terhadap istilah gaptek karena teknologi dapat dipelajari dan teknologi adalah satu-satunya solusi di masa krisis ini untuk menerima dan memberi pendidikan yang berkualitas.

“Mengatur waktu belajar juga menjadi kunci untuk dapat sukses dalam menjalani pembelajaran daring ini karena distraksi berupa kenyamanan yang ada di rumah sering membuat kita lupa dengan tujuan kita. Kita juga harus lebih sering memotivasi diri sendiri bahwa jadikan masa krisis ini sebagai your moment dalam berkembang menjadi suatu individu yang mumpuni,” pesan Tasya dengan penuh semangat.

Pada akhir, Tasya juga optimis bahwa pandemi COVID-19 ini akan berakhir dan pendidikan daring ini hanya sementara. Setelah itu, semua dapat kembali ke normal dan menempuh pendidikan yang kaya dengan human touch. Ia juga mengingatkan bahwa audiens yang dapat menempuh pendidikan daring dengan minim masalah harus dapat mensyukuri privilege tersebut karena tidak semua orang memiliki kemewahan itu.

“Pandemi dapat menjadi suatu masa yang kesepian untuk beberapa orang karena kejenuhan berdiam di rumah selama waktu yang sangat lama. Oleh karena itu kita harus lebih sering stay in touch dengan orang-orang yang kita sayangi karena kesehatan mental adalah hal yang sangat kita butuhkan untuk melewati masa krisis ini,” pungkasnya.

Penulis: Pradnya Wicaksana

Edito: Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu