Sel Surya dari Tulang Ikan?

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi Pribadi

Jika melihat target SDGs ke-7 tentang “affordable and clean energy”, dimana target tersebut dapat dicapai melalui beberapa misi diantaranya penyediaan teknologi tepat guna yang terjangkau oleh masyarakat, intensifikasi efisiensi penggunaan energi oleh masyarakat, pemenuhan kebutuhan akan energi kepada seluruh masyakat, peningkatan volume energi terbarukan dan adanya keikutsertaan pusat studi dan penelitian bidang renewable energy yang aplikatif dalam memenuhi kebutuhan energi untuk aktivitas masyarakat sehari-hari.

Sel surya merupakan suatu perangkat sumber energi listrik terbarukan yang diterapkan diberbagai negara, baik negara maju atapun berkembang. Prinsipnya sel surya mengubah energi cahaya matahari menjadi energi listrik, kita tahu bahwasanya cahaya matahari merupakan sumber energi yang tiada habisnya, terutama bagi kita masyarakat di negara tropis yang intensitas cahaya mataharinya sangat tinggi. Lebih spesifik lagi, sel surya dalam menghasilkan tegangan listrik memanfaatkan fenoma kontak dua elektroda yang dihubungkan dengan sistem padat atau cairan dengan adanya sinar matahari yang terperangkap dalam sistem tersebut. Sehingga sel surya secara umum merupakan sebuah implementasi dari efek photovoltaic yang sebelumnya telah ditemukan oleh Henri Becquerel.

Dalam sistem sel surya terdapat komponen Perovskite solar cells (PSC) yang saat ini banyak menyita perhatian terkait dengan stabilitas, kontinyitas dan kerahaman terhadap lingkungan. PSC menangkap dan menyerap cahaya yang nantinya akan dikonversi menjadi energi listrik dalam sistim sel surya. Sejauh ini PSC yang digunakan dalam sistim sel surya adalah material berbasis mineral, salah satunya adalah CaTIO3, jika kita lihat struktur kimianya senyawa ini mengandung unsur kalsium (Ca). CaTIO3 dapat diproduksi atau sintesis dengan mereaksikan Titanium oksida dengan bahan-bahan yang mengandung kalsium tentunya.

Melihat bahan-bahan yang mengandung kalsium, kita langsung merujuk pada potensi dari hasil perairan kita yang merupakan penghasil sumber kalsium yang sangat melimpah, dimana kalsium dari hasil perairan umumnya diperolah dari tulang ikan ataupun cangkang kerang. Sejauh ini, tulang ikan dan cangkang kerrang merupakan hasil samping produk hasil perikanan yang sangat berpotensi untuk menjadi polutan jika dibiarkan begitu saya atau dengan kata lain dibuang begitu saja. Sehingga dengan konsep green productivity dan blue economy, bisnis hasil perikanan telah menerapkan konsep ini dengan mengolah tulang ikan menjadi ekstrak kolagen maupun gelatin dan menggunakan cangkang kerrang untuk bahan kerajinan tangan.  Lebih jauh dari itu, tulang ikan mengandung hydroxyapatite (Hap) yakni suatu bahan kimia wujud dari unsur kalsium di dalam biomass. Afiqah et al. (2020) dalam suatu artikel ilmiah berjudul Marine calcıum hydroxyapatıte as embryonic materıal for excellent performance of perovskite solar cell menunjukkan bahwa CaTIO3 secara mekanokimia dapat diproduksi dengan mencampur Hap yang sebelumnya telah diekstrak dari tulang ikan dengan TIO3 dalam air (deionized water) dengan bantuan ultrasonikasi, yang kemudian di lapisi dengan bahan pelapis Fluorine Tin Oxide. PSC dari penelitian tersebut menghasilkan konversi energi sebesar 5.3%, dimana kedepanya PSC dari cangkang kerang berpotensi sebagai alternatif sel surya yang konvensional.

Dengan melihat fakta tersebut, sel surya berbasis hasil perikanan tentunya tidak hanya memiliki potensi untuk berkontribusi pada pencapaian target affordable and clean energy, namun juga dapat berkontribusi dalam pencapaian target-target lainya yang berhubungan dengan sustainable environment seperti clean water and sanitation, sustainable cities and communities dan life below water, karena di beberapa sentra hasil perikanan by product cangkang kerang dibuang begitu saja di wilayah pesisir.

Penulis: Muhamad Nur Ghoyatul Amin

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: https://ijneam.unimap.edu.my/images/PDF/IJNEAM%20SPECIAL%20ISSUE%20MEI%202020/Vol_13_SI_Mei2020_107-118.pdf

Afiqah, I. Q., Aziz, N. A., Nurhaziqah, A. M. S., Hasiah, S., & Amin, M. N. G. (2020). Marıne Calcıum Hydroxyapatıte as Embryonıc Materıal for Excellent Performance of Perovskıte Solar Cell. International Journal of Nanoelectronics & Materials13.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu