Indonesia Menghadapi Tantangan Tsunami Informasi COVID-19

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Dr. Liestianingsih Dwi D, Dra., M.Si hadir di Webinar Serial Ilmu Komunikasi Bahas pentingnya komunikasi kesehatan di era COVID-19. (Foto: Dimar Herfano)
Dr. Liestianingsih Dwi D, Dra., M.Si hadir di Webinar Serial Ilmu Komunikasi Bahas pentingnya komunikasi kesehatan di era COVID-19. (Foto: Dimar Herfano)

UNAIR NEWS – arus komunikasi di tahun 2020 semakin meningkat. Terlebih informasi terkait pandemi COVID-19. Edukasi untuk masyarakat Indonesia menjadi sangat penting dan diperhatikan terutama soal informasi tersebut. Dikhawatirkan banyak hoax di Indonesia terkait informasi pandemi.

Departemen Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR) mengadakan webinar yang mengusung tema Digital Family: Komunikasi Kesehatan di Era COVID-19. Webinar selama 2 jam melalui Zoom meeting pada Kamis (25/9/2020) itu menghadirkan dua pemateri. Yakni, Dosen Ilmu Komunikasi Dr. Liestianingsih Dwi D, Dra., M.Si dari UNAIR dan Rizanna Rosemary MHC, PhD dari Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.

Dr. Liestianingsih menjelaskan kembali rentetan waktu munculnya COVID-19 di dunia dan di Indonesia. Dimulai dari kasus pertama di China (31/12/2019), lalu (30/1/2020) WHO mengumumkan darurat kesehatan global, dramatisnya evakuasi WNI di Wuhan, dan pada (2/3/2020) Presiden Jokowi mengumumkan dua kasus COVID-19 di Depok.

Upaya-upaya dilakukan pemerintah seperti membentuk gugus tugas, memperbanyak fasilitas kesehatan (APD, rapid test, PCR), hingga riset di perguruan maupun lembaga. “Bagaimana komunikasi penyebaran informasi pencegahan bahaya COVID-19 di berbagai media, ini yang menjadi problem kita bersama mengapa kasusnya terus naik? Ada persoalan apa di ilmu komunikasi?,” ungkap dosen Ilmu Komunikasi tersebut.

Banyaknya informasi COVID-19 dari pemerintah, media sosial, media massa yang diterima masyarakat, Dr. Liestianingsih menyebutnya Tsunami informasi COVID-19. “Tsunami informasi inilah yang membuat kita tergagap-gagap, masyarakat pun menjadi bingung, tidak percaya, resisten dan panik,” sebutnya.

Kebingungan tersebut muncul karena banyaknya istilah kesehatan baru. Misalnya, physical distancing, social distancing, dan lain-lain. Kemudian, banyak pernyataan pejabat yang berbeda-beda seperti rumor pembukaan bioskop, minyak kayu putih, dan yang terbaru sekarang masker scuba yang tidak aman.

Dari kebingungan tersebut, banyak masyarakat yang tidak percaya, melakukan tindakan di luar anjuran kesehatan, dan muncul kepanikan dengan memborong sembako, masker, APD langka dan mahal. “Ada yang menyemprot siapa saja yang masuk ke lingkungan tempat tinggal, penutupan gang, tindakan tersebut salah satu ekspresi bentuk kepanikan,” katanya.

Bagian komunikasi kesehatan adaptasi baru; Preventif, Promotif, dan perubahan perilaku. Menurut Dr. Liestianingsih perubahan perilaku menjadi target terakhir yang harus dilakukan untuk membuat angka itu landai.

“Untuk sampai ke new normal, problem kita adalah budaya, orang Indonesia terbiasa bersalaman dengan orang lain, untuk mengubah tentu tidak mudah,” imbuhnya.

Masyarakat Indonesia cenderung masyarakat komunal, suka sekali berkumpul, senang sekali untuk bertemu. Kedua, bagaimana meluruskan hoax di tengah masyarakat. “Tantangannya budaya, literasi media rendah, menjadi kesulitan kita untuk beradaptasi new normal,” ujarnya.

Karena itu, dibutuhkan pendekatan budaya melalui peran tokoh masyarakat setempat, sanksi hukum dan sanksi social yang diawasi aparat terkait. (*)

Penulis: R. Dimar Herfano Akbar

Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu