Mulai dari Fenomena Prank hingga Konten Viral! Kenapa Kita Senang Berbagi Konten di Media Sosial?

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi penggunaan media sosial oleh milenial. (Sumber: Tribun Jateng)

Bagi kita yang mengaku kaum mileniel, memiliki akun media sosial seperti YouTube, WhatsApp, Facebook, Instagram, Twitter, atau LinkedIn merupakan sebuah keharusan. Menurut laporan We Are Social 2020, orang Indonesia memiliki rata-rata waktu akses media sosial selama 3 jam 26 menit per hari. Terdapat 163 juta pengguna aktif, dan 99 persen pengguna mengakses media sosial melalui smartphone.Data tersebut membuktikan, bahwa media sosial telah menjadi barang wajib dan merupakan bagian penting dalam kehidupan kita. Mungkin, kita akan merasa aneh jika ketinggalan berita atau informasi yang sedang viral di jagat maya. Perasaan takut, gelisah, atau panik akan ketinggalan suatu momen itu dinamakan FOMO (Fear of Missing Out).

Hampir setiap hari dari kita pasti menemukan konten berita yang sedang viral di media sosial. Misalnya, kasus viral Ferdian Paleka, yang membuat konten video di Youtube berisi prank yang membagikan sembako berisi sampah kepada sekumpulan waria di kawasan Bandung, Jawa Barat. Hasilnya, video tersebut viral dan mendapat respon kecaman dari para pengguna media sosial, karena dianggap melecehkan dan tidak manusiawi. Viralnya video tersebut karena banyak diperbincangkan dan dibagikan oleh para pengguna lain (netizen) hingga kasusnya tersebar di berbagai kanal media sosial, bahkan di stasiun televisi nasional. Fenomena  inilah yang kita sebut sebagai online sharing behavior.

Sangat tidak mengherankan, ketika kita membagikan konten online, kita telah ikut berperan membuat konten tersebut menyebar dari mulut ke mulut melalui media sosial atau biasa dikenal sebagai E-WOM (Electronic Word-of-Mouth). E-WOM memiliki efek berantai bagaikan virus yang menginfeksi satu orang ke orang lain yang membuat konten tersebut menjadi viral (Robles, J. F., Chica, M., & Cordón, Ó., 2016).Mengapa bisa terjadi? Indikasinya, karena ada dorongan dari dalam diri kita untuk ikut membagikan suatu konten di akun media sosial yang kita miliki.

Hasil studi The New York Times, Customer Insight Group, dan Latitude Research pada 2020 menemukan, bahwa secara psikologis ada lima (5) faktor yang membuat pengguna membagikan konten di media sosial. Pertama, konten yang dirasa bernilai, mencerahkan, dan menghibur. Kedua, konten yang mempertegas dan mengaktualisasikan diri sendiri. Ketiga, konten yang bisa terhubung dengan suatu kelompok. Keempat, konten yang bisa memperoleh pengakuan dari orang lain. Dan kelima, konten yang bisa mendukung sesuatu yang sedang diperjuangkan banyak orang atau merek yang mereka sukai.

Penelitian ini mencoba membuktikan dan menemukan bahwa perempuan dengan rentang usia 21-25 tahun lebih aktif menggunakan media sosial. Dari segi media sosial, mereka cenderung lebih suka Whatsapp dan Instagram, karena banyak pengguna sekaligus fitur-fitur menarik dan user-friendly. Selanjutnya, konten foto menjadi favorit untuk dibagikan, dengan isi konten yang dominan informatif dan mengandung unsur humor.

Foto merupakan media sederhana, yang sangat mudah dinikmati tanpa harus meluangkan waktu lebih untuk menonton video, atau teks untuk membaca. Hal tersebut akan mudah untuk dibagian di berbagai kanal media. Hal menarik lainnya, konten informatif paling banyak disukai dan dibagikan, karena berkaitan dengan kebutuhan akan penyelesaian atau solusi sebuah permasalahan pengguna. Misalnya, orang yang suka melakukan aktivitas investasi atau trading di pasar modal. Mereka akan sering mengakses konten berkaitan dengan pasar modal.

Berbeda lagi dengan konten yang bersifat humor dan seksual. Menurut Petrescu (2012) dan Phelps et al., (2004), konten bersifat humor lebih banyak dibagikan dibandingkan konten bersifat informatif dan seksual. Secara psikologis, mayoritas orang suka dihibur. Kejenuhan yang ditimbulkan oleh rutinitas pekerjaan atau berbagai masalah pribadi sehari-hari yang sedang dihadapi seringkali membuat orang mengakses media sosial untuk menghibur diri. Konten-konten yang lucu biasanya merupakan jenis konten yang paling menghibur para pengikut di media sosial. Golan & Zaidner (2008) juga mengatakan bahwa konten yang bersifat seksual dan humor adalah konten yang lebih mudah diterima dan paling umum digunakan untuk membuat konten online menjadi viral. Dalam penelitian ini justru, seksual menjadi konten paling tidak diminati responden untuk dibagikan di media sosial.

Lebih menarik lagi, temuan pada motivasi personal pengguna media sosial sebagai komunikasi interpersonal sangat relevan jika dikaitkan dengan Electronic Word of Mouth. Menurut konsep FIRO (Fundamental Interpersonal Relation Orientations) yang dikemukakan oleh Schutz (1966), ketika seseorang melakukan komunikasi interpersonal dan mereka saling terhubung satu sama lain (engage), maka akan muncul motivasi diri meliputi: Pertama, inclusion (kebutuhan untuk menjadi bagian dari sebuah kelompok/need for attention); Kedua, afffection (menunjukkan apresiasi dan perhatian pada anggota lain); dan Ketiga, control (kebutuhan untuk mengerahkan kekuatan dalam lingkungan sosial). Jadi, ketika kita menggunakan media sosial dan saling terhubung dengan pengguna lain, kemudia kita memberikan apresiasi atau merespon suatu konten online, dan menimbulkan motivasi personal, maka itu akan mendorong kita untuk membagikan konten tersebut kepada orang lain.

Penulis: Sri Hartini

Artikel lengkapnya dapat dilihat pada link jurnal berikut ini:

https://trijurnal.lemlit.trisakti.ac.id/jasa/article/view/3044

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu