Diskusikan Tes Cepat Molekuler, Webinar Hima D3 TLM Jaring 3.500 Peserta

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
WEBINAR yang diselenggarakan oleh Prodi D3 Teknologi Laboratorium Medis (TLM) FV UNAIR pada Minggu (20/9/2020). (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Webinar yang diselenggarakanHima Prodi D3 Teknologi Laboratorium Medis (TLM) Fakultas Vokasi (FV) UNAIR dihadiri sebanyak 3.500 peserta. Diketahui, kegiatan itu bertajuk Seminar Ilmiah Kesehatan Tenaga Ahli Laboratorium Klinik (SIKLIK). Tepatnya digelar pada Minggu (20/9/2020) melalui ruang daring.

Bukan tanpa alasan jika banyak peserta yang terpincut menghadiri webinar tersebut. Aliya Ayu Rizqiyah selaku ketua pelaksana mengungkapkan, materi pada webinar tersebut memang sangat menarik. Selain itu, webinar tersebut juga menggandeng Satuan Kredit profesi (SKP) dan induk organisasi Ahli Teknologi Laboratorium Medis (ATLM), PATELKI.

Aliya, panggilannya, menyampaikan bahwa topik utama dibahas adalah metode Tes Cepat Molekuler (TCM). Saat ini, setidaknya terdapat tiga metode untuk mendeteksi Virus Sars-Cov2. Yakni Rapid tes, Reverse-transcriptase Polymerase Chain Reaction (RTPCR), dan TCM. 

“Ilmu serta metode diagnosis terhadap suatu penyakit terus berkembang dengan pesat. Sehingga ATLM sebagai garda terdepan dalam penegakkan diagnosis, perlu mengetahui tentang perkembangan tersebut,” ujarnya.

Mengenal TCM

Dr. Agung Dwi Widodo, dr.M.Si., M.KedKlin., Sp.MK., pemateri dalam webinar tersebut, menuturkan bahwa TCM adalah salah satu metode tes yang sensitivitasnya seperti RT-PCR. “TCM ini adalah metode lain untuk mendeteksi Virus Sars-Cov2,” ungkap Aliya.

Meski demikian, Dokter Agung mengatakan, TCM memiliki sejumlah keuntungan dan kelemahan. Keuntungannya, imbuhnya, TCM lebih cepat mendeteksi virus. Prosesnya juga sangat cepat dan lebih spesifik.

“Tes ini cepat. Kalau PCR bisa lebih dari 3 jam. Sedangkan TCM hanya hitungan menit,” tutur Dewan Pakar Satgas Covid 19 Jatim itu.

Meski demikian, untuk melakukan TCM diperlukan peralatan dan personil yang terampil. Selain itu, TCM tidak memberi peringatan jika virus masih aktif. TCM juga tidak dapat mendeteksi mereka yang telah terinfeksi dan kemudian sembuh.

“Tes ini sangat mahal dan kapasitasnya terbatas. Alatnya hanya sedikit dan tidak semua lab punya,” katanya.

Menurut dia, diagnosis Covid-19 sangat penting untuk menentukan tindakan preventif, terapi, dan prognosis serta isolasi penderita. “Ini menduduki hampir 70 persen apa yang harus kita lakukan,” pungkas Dosen Mikrobiologi dan Imunologi FK UNAIR itu.

Kata Agung, saat ini tes molecular telah banyak tersedia. Di Jawa Timur, lanjut dia, ada sekitar lebih dari 46 laboratorium molecular. “Ini adalah metode tes yang sudah sesuai dengan anjuran WHO. Saat ini kita mengarah kesini dan sudah banyak digunakan,” terangnya.

Seringkali beberapa metode tes menunjukkan hasil yang berbeda. Menurut Agung, hal itu dipengaruhi oleh sensitivitas masing-masing metode tes yang memang tidak sama. 

“Jika dari awal menggunakan PCR, saya sarankan untuk seterusnya menggunakan PCR. Karena jika beralih menggunakan TCM yang sensitivitasnya tinggi, maka bisa disebut positif lagi,” papar dia.

Pada akhir, Agung juga menyampaikan bahwa peran laboratorium diagnostik sangat penting. “Anda adalah penentu 70 persen tata laksana kasus. Kalau Anda salah, semua salah. Sebaliknya, jika Anda melakukan pekerjaan dengan baik dan jujur, maka ribuan nyawa terselamatkan,” pesannya kepada tenaga analis medis yang menghadiri webinar itu. (*)

Penulis: Erika Eight Novanty

Editor : Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu