Melihat Sisi Tak Terlihat Dari yang Tak Tampak

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Avrist Asurrance

Tidak terasa sudah 9 bulan dunia telah berjuang dalam mengatasi pandemi yang disebabkan virus SARS-CoV-2. Walaupun sudah melakukan berbagai upaya mitigasi, namun hampir tidak ada negara yang bebas dari COVID-19. Virus ini masih merupakan keluarga virus korona yang pernah ditemui sebelumnya, namun datang dengan kemasan baru, cara baru dan potensi baru sehingga tidak sepenuhnya dapat dikendalikan dengan cara-cara lama. Selain tidak terlihat, virus ini juga menular tanpa jejak, sehingga tidak jarang, ketika ditanyakan kepada para terjangkit mengenai darimana mereka tertular, sebagian besar menjawab tidak tahu. Setelah tertular dan virus masuk ke dalam tubuh, masih terdapat rentang waktu sampai timbulnya gejala, yang dinamakan masa inkubasi. Pada masa inkubasi tersebut yang sering membuat seseorang terlena, karena yang sakit sendiri tidak merasa sakit, apalagi orang lain (beberapa referensi mengistilahkan kondisi pre-simtomatik). Setelah masa inkubasi selesai, sebagian ada yang tetap tidak menunjukkan gejala, sedangkan sebagian lainnya menunjukkan gejala, baik yang disadari, disadari tapi diacuhkan, maupun tidak disadari. 

Sebanyak 80% penderita COVID-19 berada dalam kondisi asimtomatik (tanpa gejala), sampai dengan gejala ringan, sedangkan sisanya terbagi dalam kondisi yang lebih berat sampai berujung pada kematian. Disinilah permasalahan dimulai, semua sepakat bahwa kelompok  mayoritas tersebut dapat sembuh sendiri tanpa bantuan pengobatan, sehingga sebagian pendapat beranggapan sakit ini tidak berbahaya dan menjadi abai. Sedangkan permasalahannya lebih kepada potensi penularannya kepada populasi yang berisiko tinggi. Seperti yang kita ketahui bersama, sebagian besar kasus asimtomatik tersebut menjangkiti usia produktif, dimana menurut Badan Pusat Statistik tahun 2017, 35% diantaranya masih tinggal bersama orang tua bahkan sampai dengan tiga generasi dalam satu rumah. Populasi risiko tinggi tersebut apabila tertular COVID-19 rentan jatuh ke dalam kondisi yang berat. Walaupun proporsinya kecil didalam kasus COVID-19 secara keseluruhan (1-5%), namun dengan jumlah penduduk Indonesia sebanyak 270 juta jiwa, yang merupakan terbesar keempat di dunia, maka akan menjadi nominal yang besar. Disisi lain kapasitas layanan kesehatan di Indonesia terutama ruang ICU tidak tak terbatas, sehingga tidak mengherankan bila beberapa saat yang lalu santer diberitakan ruang ICU yang penuh diberbagai pusat layanan kesehatan di Indonesia.

Potensi masalah tidak berhenti sampai disana, fokus mitigasi pemerintah sampai saat ini masih terfokus pada kasus bergejala, protokol kesehatan pada era new normal lebih berpihak pada kasus bergejala, misalnya uji termogun. Tidak heran bila kasus asimtomatik relatif lebih leluasa bergerak karena secara tidak langsung mendapat label “sehat”, namun demikian memiliki potensi menularkan sebagaimana kasus bergejala. Di sisi lain kepadatan penduduk diIndonesia yang tidak merata, mayoritas berada di Pulau Jawa, di dalam Pulau Jawa sendiri tidak pula terdistribusi dengan merata karena terjadi penumpukan penduduk di kota besar. Hal ini ibarat api dalam sekam yang bila tidak diantisipasi dengan baik akan jadi ledakan kasus di beberapa saat mendatang.

Lalu bagaimana menjaring kasus asimtomatis tersebut, sebagaimana best practice di berbagai negara, sebagian besar kasus asimptomatik ditemukan pada penelusuran kontak erat, dan penapisan pada area kluster. Sehingga kemampuan dan luas cakupan pemeriksaan RT-PCR harus diperkuat tanpa dirancukan dengan pemeriksaan rapid test. Namun tidak berhenti sampai disitu, kecepatan dalam melakukan isolasi pada kasus positif sangat mempengaruhi pengendalian infectious rate COVID-19. Namun saat ini kondisi rasio lacak isolasi di Indonesia masih di angka 4, artinya dari setiap kasus COVID-19 terkonfirmasi positif hanya dilakukan pelacakan terhadap 4 orang, hal ini masih jauh dari anjuran WHO untuk melakukan pelacakan setidaknya terhadap 30 orang. 

Berdasarkan hal tersebut peneliti dari Departemen Penyakit Dalam RSUD Dr. Soetomo berhasil mempublikasikan hasil reviewnya di sebuah jurnal Internasional Scopus yaitu Systematic Reviews in Pharmacy ISSN 09758453 dengan tujuan artikel ini adalah untuk fokus mengeksplorasi kasus asimtomatik pada pasien COVID-19 dan pendekatan potensial untuk menangani kasus tersebut. Pada akhirnya, walaupun kasus asimtomatik secara klinis tidak memerlukan penanganan secara khusus namun ternyata memiliki peran yang penting dalam transmisi penyakit. Sehingga dengan meningkatkan kemampuan penapisan dan rasio lacak isolasi selain dengan program mitigasi yang telah dijalankan, diharapkan dapat mengendalikan penyebaran tersembunyi dari COVID-19. Kami berharap dengan bersama-sama melihat sisi tak terlihat dari pandemi ini, kita tidak harus mengatakan hal yang sama dengan Stephen Elop (Nokia), “Kami tidak melakukan kesalahan apapun, tiba-tiba kalah dan punah”. 

Penulis: Brian Eka Rachman

Informasi yang lebih rinci dari penelitian ini dapat dilihat pada artikel kami di Systematic Reviews in Pharmacy, berikut kami sertakan link rujukannya, https://www.sysrevpharm.org/index.php?mno=29538

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu