IDSC 2020, Faisal Basri Ulas Kebijakan Ekonomi di Tengah Pandemi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Sinar Harapan

UNAIR NEWS – Pakar ilmu ekonomi politik dan dosen senior Universitas Indonesia Faisal Basri diundang sebagai narasumber pada Batch I International Development Student Conference 2020 Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNAIR 2020 (IDSC 2020 FEB UNAIR). IDSC 2020 merupakan kegiatan dari rangkaian kegiatan tahunan yang bernama Economic Week 2020. Dalam webinar yang diselenggarakan pada Sabtu siang (19/9/2020) ini, materi yang diusung oleh Faisal Basri adalah “Propitious Economic Decisions in the Midst of Unstable Conditions”.

Faisal membuka materinya dengan menjelaskan bahwa krisis ekonomi yang disebabkan oleh pandemi COVID-19 ini berbeda dengan krisis ekonomi global atau regional sebelumnya. Hal ini dikarenakan pemicu krisisnya bukan dari sektor finansial itu sendiri, melainkan dari sektor kesehatan. Jadi, ia menegaskan bahwa upaya penemuan obat penawar untuk menyembuhkan krisis ekonomi ini butuh mindset baru karena efek dari krisis ini sangat berdampak pada hampir seluruh aspek kehidupan manusia.

“Pandemi COVID-19 ini merupakan manifestasi dari konsep true ambiguity dalam teori prediksi masa depan di dunia ekonomi karena tidak ada satupun pihak yang memprediksi bahwa akan terjadi krisis ekonomi global di tahun 2020. Semuanya mengira perekonomian bakal naik tahun ini, nyatanya tidak,” papar alumni Vanderbilt University itu.

Faisal mengatakan bahwa dampak jangka pendek dari pandemi terhadap perekonomian global adalah terjadinya supply shock dan demand shock yang bersamaan. Hal ini dikarenakan sektor produksi dan konsumsi terhentikan oleh kebijakan pembatasan sosial yang diberlakukan oleh pemerintah. Ia juga memaparkan data pertumbuhan ekonomi seperti Inggris dan Perancis sebagai contoh betapa terdampaknya mereka karena pandemi. Namun anehnya, perekonomian Indonesia tidak sebegitu terdampak dan menurut Faisal, hal itu bukanlah sesuatu yang membanggakan.

“Kestabilan ekonomi kita sangat dipengaruhi oleh fakta bahwa Indonesia tidak mengimplementasikan pembatasan sosial yang ketat. Mereka memakan getahnya duluan tapi mungkin tahun depan keadaan sudah kembali normal, sedangkan kita masih berkutat dalam penanganan virus dan ekonomi kita masih stagnan seperti ini,” kritik mantan politikus Partai Amanat Nasional (PAN) itu.

Ekonom berkacamata itu kemudian menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi itu mestinya berbanding terbalik dengan pertumbuhan virus, namun menurutnya pemerintah Indonesia seakan-akan abai dengan itu dan ekonomi dilonggarkan ketika kasus masih terus naik. Faisal menambahkan bahwa apabila hal tersebut diteruskan, itu sendiri dapat merubah perilaku ekonomi masyarakat.

“Masyarakat akan dengan sendirinya merubah perilaku ekonominya karena masih langgengnya ketidakpastian. Mereka akan lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya dan cenderung untuk menabung karena mereka tak yakin kapan selesainya ini pandemi. Para pebisnis juga enggan untuk investasi di negara ini karena kondisinya belum stabil. Alokasi belanja pemerintah juga akan berubah. Jadi pelonggaran ekonomi dini ini harus segera dihentikan,” tegas Faisal.

Faisal memproposikan hipotesis bahwa apabila Indonesia memutuskan untuk melakukan pembatasan sosial yang ketat, ia optimis bahwa Indonesia dapat menyelesaikan ekonomi yang anjlok dalam waktu yang cepat. Ia mengutip prediksi Dani Rodrik, seorang ekonom asal Turki, bahwa perekonomian kedepannya akan didominasi dengan tren penyeimbangan kembali antara hiper-globalisasi dan perekonomian nasional, dengan perekonomian nasional yang akan didahulukan. Faisal menyimpulkan bahwa Indonesia memiliki perekonomian nasional yang sangat mumpuni dan fakta tersebut dapat menyembuhkan krisis ekonomi akibat pembatasan sosial tersebut.

“Data yang saya gunakan untuk mendukung pendapat tersebut adalah persentase ekspor impor dalam pendapatan tahunan Indonesia hanya sekitar 39.8% jadi tidak begitu besar. FDI (Foreign Direct Investment) di Indonesia juga hanya 5% apabila dibandingkan dengan persentase ekspor impor tersebut. Sementara di Indonesia masih memiliki 270 juta penduduk yang pasti sebagian besarnya juga merupakan konsumen. Bukannya saya anti terhadap investasi asing, tapi Indonesia ini sebenarnya hebat dan dapat mengatasi krisis ekonomi tersebut. Perekonomian negara kita masih bisa berdikari,” tutur anggota Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) itu.

Terakhir, Faisal mengutip bahwa krisis ekonomi pandemi COVID-19 ini merupakan suatu krisis yang dipenuhi dengan ketidakpastian dan kompleksitas. Oleh karena itu, ia menekankan bahwa kepastian terbaik yang dapat hadir di masa ini untuk masyarakat dan dunia perekonomian adalah kemampuan pemerintah dalam menanggulangi pandemi COVID-19 ini.

Penulis: Pradnya Wicaksana

Editor: Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu