Memahami Kematian Neonatal di Wilayah Perkotaan Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Catatan kematian neonatal di Indonesia pada tahun 2017 menunjukkan prestasi yang memprihatinkan. Pada level dunia, Indonesia menempati ranking tertinggi ke-delapan. Informasi dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2017 mencatat bahwa kematian neonatal di Indonesia berada pada kisaran 15 kematian per 1.000 kelahiran hidup.

Secara global, UNICEF merilis data kematian neonatal berada pada kisaran 18 kematian per 1.000 kelahiran hidup. Sementara WHO merilis pernyataan bahwa 47% kematian yang terjadi pada balita seringkali berlangsung pada periode perinatal. Informasi ini menunjukkan bahwa  periode neonatal, dua puluh delapan hari pertama kehidupan, adalah waktu yang paling rentan untuk kelangsungan hidup anak.

Beberapa penelitian terbaru menemukan bahwa di Indonesia akses masyarakat ke pelayanan kesehatan di wilayah perkotaan cenderung lebih baik daripada masyarakat yang tinggal di wilayah pedesaan. Meski memiliki akses kesehatan lebih baik, bukan berarti masyarakat yang tinggal di wilayah perkotaan tidak memiliki masalah. Akses ke pelayanan kesehatan masih rendah, terutama bagi masyarakat miskin. Berdasarkan latar belakang tersebut maka artikel ini disusun untuk menganalisis variabel yang berhubungan dengan kematian neonatal di wilayah perkotaan di Indonesia. Hasil studi ini krusial bagi pengambil kebijakan kesehatan untuk memahami faktor-faktor yang dapat mempengaruhi neonatal death, sehingga memiliki langkah yang tepat untuk upaya akselerasi penurunan angka neonatal death.

Artikel ini disusun berdasarkan hasil analisis yang memanfaatkan data sekunder dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2017. Dengan stratifikasi dan multistage random sampling, diambil sampel 17.265 perempuan usia 15-49 tahun di perkotaan dengan kelahiran hidup dalam 5 tahun terakhir. Pada tahap akhir data dianalisis dengan menggunakan uji Regresi Logistik Biner.

Hasil analisis menemukan bahwa perempuan paling kaya memiliki kemungkinan 0,602 kali untuk mengalami kematian neonatal dibanding perempuan paling miskin di wilayah perkotaan Indonesia. Perempuan primipara memiliki kemungkinan 0,526 kali untuk mengalami kematian neonatal dibanding perempuan grande multipara di wilayah perkotaan Indonesia. Perempuan multipara memiliki kemungkinan 0,636 kali untuk mengalami kematian neonatal dibanding perempuan grande multipara di wilayah perkotaan Indonesia. Sementara perempuan yang melakukan antenatal care ≥ 4 kali memiliki kemungkinan 0,237 kali untuk mengalami kematian neonatal dibanding perempuan yang melakukan antenatal care < 4 times di wilayah perkotaan Indonesia.

Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa ada 3 variabel yang mempengaruhi kematian neonatal di wilayah perkotaan di Indonesia. Ketiga variabel tersebut adalah status sosio-ekonomi, paritas, dan antenatal care.

Penulis: Ratna Dwi Wulandari

Artikel dapat ditemukan pada tautan berikut:

https://www.scopus.com/record/display.uri?eid=2-s2.0-85088234583&origin=resultslist&sort=plf-f&src=s&st1=Laksono&st2=agung+dwi&nlo=1&nlr=20&nls=count-f&sid=2e09024c65ad86848554d4de591d293a&sot=anl&sdt=aut&sl=39&s=AU-ID%28%22Laksono%2c+Agung+Dwi%22+56429657100%29&relpos=6&citeCnt=0&searchTerm=

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu