Efek Nefrotoksisitas Pasca Kemoterapi Cisplatin Paclitaxel pada Keganasan Kepala dan Leher

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Tirto.id

Keganasan kepala dan leher merupakan penyakit yang cukup banyak di Departemen THT-KL RSUD Dr. Soetomo, didapatkan 2.119 pasien dalam lima tahun. Kasus baru keganasan kepala dan leher dilaporkan 9,32% dari seluruh pasien yang berkunjung di URJ THT-KL RSUD Dr. Soetomo pada tahun 2009 hingga 2012. Sebanyak 5% dari seluruh keganasan di Amerika Serikat adalah keganasan kepala dan leher dan ditemukan 500.000 kasus baru. Sekitar sepertiga pasien datang berobat dengan stadium dini namun dua pertiga sisanya sudah memasuki stadium lanjut sehingga pasien dengan stadium lanjut juga ditangani dengan kemoterapi selain radioterapi. Sediaan kemoterapi yang paling sering digunakan di Instalasi Rawat Inap (IRNA) Bedah Teratai RSUD Dr. Soetomo Surabaya adalah kombinasi cisplatin-paclitaxel (31%) sedangkan penggunaan kemoterapi cisplatin based mencapai 55% yang dikombinasi dengan regimen lainnya.

Nefrotoksisitas akibat cisplatin telah diketahui sejak 25 tahun yang lalu, perubahan histopatologi pada hewan coba menunjukkan nekrosis tubuler akut diiringi dengan azotemia. Gagal ginjal akut akibat cisplatin terjadi 14-100% pasien dengan insiden berdasarkan dosisnya. Insufisiensi renal yang ditandai dengan peningkatan BUN dan serum kreatinin ditemukan pada 20-30% pasien, terjadi pada hari ketiga hingga kelima pasca pemberian cisplatin. Hipomagnesemia, hipokalsemia, hipofosfatemia, dan hipokalemia biasa terjadi pada dosis ulangan cisplatin yang ditandai oleh penurunan GFR. Cisplatin menyebabkan peningkatan kreatinin secara signifikan namun peningkatan BUN tidak signifikan dibandingkan dengan kadarnya sebelum kemoterapi. Pemeriksaan serum elektrolit menunjukkan penurunan signifikan pada magnesium, kalium, fosfat dan kalsium sedangkan natrium dan klorida menunjukkan peningkatan yang signifikan. Penelitian di India melaporkan 20,5% pasien mengalami peningkatan serum kreatinin secara signifikan pada 48 jam pasca kemoterapi cisplatin. Penelitian lainnya di Amerika melaporkan 81% pasien yang mendapat kemoterapi kombinasi cisplatin-paclitaxel mengalami penurunan klirens kreatinin sedangkan pasien yang mendapat cisplatin saja hanya 29%. Bagaimana efek nefrotoksisitas pada pasien yang mendapat kemoterapi cisplatin paclitaxel di IRNA Bedah Teratai RSUD Dr. Soetomo Surabaya?

Penelitian mengenai hal ini telah dilakukan dengan menilai GFR, BUN, serum kreatinin, magnesium dan kalium sebagai efek nefrotoksisitas. Penilaian dilakukan sebelum dan sepuluh hari pasca kemoterapi cisplatin-paclitaxel. Sebanyak 35 pasien didapatkan pada penelitian ini dengan distribusi usia terbanyak adalah 46-55 tahun (42,86%) dan sebanyak 68,57% merupakan laki-laki. Faktor risiko terjadinya nefrotoksisitas yaitu perempuan, usia tua, merokok, hipoalbuminemia, dan insufisiensi renal. Usia diatas 40 tahun memiliki risiko penurunan fungsi ginjal 10% dan tiap satu dekade diperkirakan terjadi penurunan fungsi ginjal sebesar 10 ml/mnt/1,73m2 sehingga kelompok usia ini lebih rentan terhadap efek samping obat. Keganasan kepala leher terbanyak pada penelitian ini adalah karsinoma nasofaring (71,42%). Hasil penelitian ini menunjukkan nilai GFR sebelum dan sesudah kemoterapi mengalami penurunan secara signifikan, kadar BUN dan serum kreatinin mengalami peningkatan secara signifikan. Hal ini sesuai dengan teori bahwa insufisiensi renal yang ditandai dengan peningkatan serum kreatinin terjadi setelah 5 hari pasca pemberian cisplatin namun gagal ginjal dapat terjadi tanpa peningkatan serum kreatinin. Kadar magnesium dan kalium secara signifikan mengalami penurunan dibanding sebelum kemoterapi pada penelitian ini. Hipomagnesemia dan hipokalemia terjadi akibat gagalnya reabsorbsi magnesium dan kalium di ginjal.

Nefrotoksisitas terbukti pada pasien dengan keganasan kepala leher yang mendapat kemoterapi cisplatin-paclitaxel namun hingga saat ini cisplatin masih menjadi pilihan karena efektifitasnya.

Penulis: Des Dwi Putra, Soeprijadi, Bakti Surarso
Informasi detail dari tulisan ini dapat dilihat pada: http://medicopublication.com/index.php/ijfmt/article/view/3133/2928

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu