Angkat Festival Tungguk Tembakau, Mahasiswa UNAIR Raih Penghargaan di Ajang Internasional

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Aisyah Amalia Ramadanti mengikuti ajang Global Culture Corner 1.0 Multicultural Competencies for Global Leaders Footprints in the Heart yang dilaksanakan pada Kamis (10/09/20). (Dok. Pribadi)

UNAIR NEWS Kembali Ksatria Airlangga menorehkan prestasi di ajang internasional. Aisyah Amalia Ramadanti berhasil meraih Best Group Presentation di ajang Global Culture Corner 1.0 Multicultural Competencies for Global Leaders ‘Footprints in the Heart yang dilaksanakan pada Selasa hingga Kamis (8-10/09/20).

Kegiatan yang termasuk dalam serangkaian program ex-change internasional tersebut digelar oleh Universiti Teknologi Malaysia (UTM) bekerja sama dengan Asia Technological University Network (ATU-NET). Kegiatan tersebut diikuti oleh 30 peserta dari 7 negara termasuk Universitas Airlangga (UNAIR) mewakili Indonesia.

Danti, sapaan akabnya, menuturkan bahwa grupnya mengambil topik Cultural festivities and celebrations, menyajikan materi mengenai Festival Panen di negara masing-masing anggota. Festival Tungguk Tembakau dipilihnya sebagai bahan presentasi dan mengantarkannya mendapat kesempatan menyampaikan pidato.

Alhamdulillah aku dapat award Best Group Presentation di acara ini, dan dikasih kesempatan buat mewakili UNAIR untuk menyampaikan speech dalam acara ini,” tutur mahasiswa Ilmu Politik tersebut.

Dengan waktu yang cukup singkat, Danti menyampaikan bahwa persiapan materi dilakukan dari malam setelah technical meeting mengenai festival panen apa yang akan dipilih untuk dipresentasikan. Selain itu, ia juga riset mengenai sejarah, kultur, berlangsungnya festival, adat-adat tradisional yang masih dipertahankan, dan masih banyak lagi.

“Dari riset untuk menyajikan materi ini, aku jadi banyak belajar tentang kultur kebudayaan di negaraku sendiri. Aku sangat beruntung tinggal di Indonesia yang kekayaan budayanya sangat banyak dan beragam, salah satu aset yang harus dipertahankan selamanya,” tambah mahasiswa angkatan 2017 tersebut.

Sementara itu, zona waktu baginya menjadi kesulitan tersendiri dengan mengikuti waktu negara penyelenggara yang memiliki beda waktu 1 jam lebih cepat dari Indonesia. Sehingga Danti harus menyesuaikan waktu dengan anggota lainnya dengan begitu ia terlatih manajemen waktu.

Terlepas dari itu, dengan mengikuti kegiatan tersebut sambungnya, Danti belajar banyak hal antara lain. Antara lain, cara mencari sumber resources yang banyak yang kemudian dirangkum menjadi satu, cara untuk berkomunikasi dengan baik dan benar kepada orang dari negara lain, dan tata cara presentasi untuk menyampaikan penjelasan dengan tepat, serta manajemen waktu dalam kehidupan sehari-hari.

“Harapanku semoga UNAIR bisa terus mendukung dan membuka opportunity seluas-luasnya untuk mahasiswa yang pengen nyoba ex-change. Semoga UNAIR juga bisa berkolaborasi dengan universitas lain untuk menyelenggarakan acara ex-change atau internasional lainnya,” pungkasnya. (*)

Penulis : Asthesia Dhea Cantika Editor : Binti Q. Maruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu