Perbandingan Efektivitas Desloratadin dengan Loratadin pada Pasien Rinitis Alergi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh HonestDocs.id

Rinitis alergi (RA) adalah penyakit inflamasi mukosa hidung yang diperantarai oleh immunoglobulin E (IgE) setelah paparan alergen. Sitokin utama pada patofisiologi RA adalah interleukin 4 (IL-4) yang berperan pada pembentukan IgE dan mampu menarik eosinofil. Sitokin IL-2, IL-4, IL-13 dan TNF-α terbukti lebih tinggi kadarnya secara signifikan pada bilasan hidung dibandingkan kadarnya dalam serum. Gejala utama RA yaitu bersin, hidung tersumbat, pilek dan hidung gatal sedangkan gejala pada mata, telinga dan lendir di tenggorok dapat pula menyertai. Penilaian keparahan RA menggunakan skor gejala hidung total (SGHT).

Loratadin adalah antihistamin H1 yang tidak sepenuhnya mampu mengatasi gejala RA sehingga sering dikombinasi dengan obat lain. Keparahan RA yang masih tinggi menarik minat para peneliti untuk membandingkan efektivitas loratadin dengan obat lainnya. Desloratadin adalah metabolit aktif dari loratadin yang diketahui lebih poten afinitasnya terhadap reseptor H1 daripada loratadin. Desloratadin berdasarkan penelitian sebelumnya terbukti dapat digunakan sebagai single therapy untuk mengatasi gejala RA terutama hidung tersumbat dan menurunkan kadar IL-4 pada bilasan hidung. Gejala alergi lain seperti urtikaria juga dapat diterapi dengan desloratadin. Penelitian in vitro menyebutkan afinitas desloratadin terhadap reseptor H1 lebih kuat 50-194 kali daripada loratadin, cetirizine dan fexofenadin.

Penelitian randomized controlled trial membandingkan efektivitas desloratadin dengan loratadin pada pasien RA telah dilakukan di Divisi Alergi Imunologi Unit Rawat Jalan (URJ) THT-KL RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Efektivitas obat pada penelitian ini dinilai dengan penurunan SGHT dan kadar IL-4 pada bilasan hidung. Pasien RA pada penelitian ini dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok eksperimen yang diberi desloratadin 5 mg/hari dan kelompok kontrol yang diberi loratadin 10 mg/hari. Rentang usia pasien RA pada penelitian ini adalah 21-58 tahun. Skor gejala hidung total dan bilasan hidung dinilai sebelum terapi dan hari ke-15 terapi. Pasien yang mengkonsumsi obat lain selama penelitian dikeluarkan dari penelitian ini.

Jumlah pasien RA terbanyak pada penelitian ini adalah pasien dengan RA intermiten sedang-berat sebanyak 75%. Rerata penurunan SGHT pada kelompok eksperimen adalah 7,67±1,77 sedangkan pada kelompok kontrol 2,42±1,62 sehingga desloratadin lebih efektif dalam menurunkan SGHT daripada loratadin pada pasien RA. Desloratadin dan loratadin memiliki farmakokinetik yang sama namun desloratadin 60 kali lebih selektif berikatan dengan reseptor H1. Penurunan SGHT pada desloratadin dibandingkan dengan loratadin telah diteliti pula oleh QingJia, et al., pada tahun 2014.

Kadar IL-4 dari bilasan hidung pada penelitian ini tidak berbeda pada kedua kelompok. Penelitian sebelumnya menyatakan penurunan kadar IL-4 pada kelompok desloratadin dibandingkan levocetirizin pasca 4 minggu terapi. Penelitian Bocsan, et al., (2015) juga menyatakan penurunan kadar IL-4 dari bilasan hidung pasien RA seasonal pasca 2 minggu terapi dan pasien RA perennial pasca 4 minggu terapi. Cara pengambilan bilasan hidung juga dapat mempengaruhi hasil penelitian. Scadding, et al. (2012) mengambil bilasan hidung dengan memprovokasi hidung pasien terlebih dahulu dengan alergen, berbeda dengan penelitian ini. Mediator inflamasi selain IL-4 yang berperan pada patofisiologi RA tidak diperiksa pada penelitian ini. Beberapa penelitian menyatakan tidak terdapat hubungan antara SGHT dengan inflamasi hidung pada pasien RA.

Kesimpulan penelitian ini adalah desloratadin dapat dipertimbangkan sebagai alternatif terapi rinitis alergi untuk menurunkan skor gejala hidung total.

Penulis: Luh Putu Dena, Dwi Reno Pawarti, Bakti Surarso

Informasi detail dari tulisan ini dapat dilihat pada: http://medicopublication.com/index.php/ijfmt/article/view/3183/2977

(View of The Effectiveness Comparison of Desloratadine and Loratadine in Reducing Total Nasal Symptom Score and the Level of Interleukin 4 in the Nasal Secretions of Allergic Rhinitis Patients)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu