Info-Demic Lebih Cepat Menyebar Dibanding Virus Corona

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ILUSTRASI: The Jakarta Post
ILUSTRASI: The Jakarta Post

UNAIR NEWS – Selain berjuang melawan penyebaran dari pandemi virus Corona, tantangan lain yang dihadapi masyarakatsaat iniadalah menghadapi penyebaran info-demic berita. Pengertian info-demic sendiri secara umum ialah banyaknya disinformasi berita yang tersebar luas. Tidak sedikit informasi hoaks beredar dalam situasi pandemi virus Corona sekarang ini yang menjadi sorotan utama berbagai media. Bahkan, disinformasi tersebut justru lebih dipercaya dan dapat menyebabkan kepanikan tersendiri bagi masyarakat.

Berlandas hal itu, Departemen Komunikasi Fakultas Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar webinar bertajuk “Media dan Info-Demic: Menata Berita dan Bencana Stigma Sosial”. Acara yang diadakan pada Sabtu (12/9/2020) itu mengundang tiga pemateri utama, yaitu Prof. Rachma Ida, Dra., M.Comms., PhD.; Ariyanti Kurnia Rakhmana, S.Sos.; dan Revolusi Riza Zulverdi.

Sebagai pemateri pertama, Prof. Rachma Ida, Dra., M.Comms., PhD., menjelaskan secara singkat apa itu info-demic dan contoh nyata beberapa berita yang sempat ramai menghiasi media dunia. Menurutnya, info-demic adalah banjir berita atau informasi yang sangat banyak. Dosen yang biasa disapa Prof Ida itu juga memberikan beberapa contoh judul berita yang memicu kepanikan masyarakat di awal pandemi lalu. Salah satunya adalah judul “Seorang Relawan yang Telah Disuntik Vaksin Covid-19 Di Bandung Kabarnya Positif Covid-19”.

“Judul itu tentu bisa membuat persepsi pada masyarakat bahwa vaksin dapat menularkan virus dan mereka akan takut dengan vaksin. Padahal, judulnya saja masih menggunakan diksi ‘kabarnya’ dan belum tentu yang menyebabkan positif adalah vaksin,” terangnya.

TAMPILAN Webinar FISIP UNAIR bertajuk “Media dan Info-Demic: Menata Berita dan Bencana Stigma Sosial”. Acara yang diadakan pada Sabtu (12/9/2020).

Lebih lanjut, Prof Ida juga menyebutkan bahwa info-demic dapat menunjukkan terjadinya Communal Perseption, yaitu keadaan di mana suatu informasi yang dilaporkan dan dikonsumi dapat mempengaruhi tingkah laku dan psikologi masyarakat. Banyaknya miss-informasi bisa menyebabkan manusia menjadi paranoid, ketakutan berlebih, bahkan dapat melakukan hal-hal yang mebahayakan bagi dirinya sendiri.

“Sayangnya, karena tidak memiliki standar maupun kode etik fake news, penyebaran disinformasi di berbagai media ini lebih cepat dibandingkan penyebaran virus Corona,” tambahnya.

Sementara itu, Ariyanti Kurnia Rakhmana, S.Sos., memaparkan tentang bagaimana tanggung jawab media dalam menyampaikan informasi tentang pandemi. Wartawan Jawa Pos tersebut menceritakan bahwa jurnalis sendiri sebenarnya mengalami kebingungan dalam menyampaikan berita. Mengingat, pandemi merupakan hal yang baru dialami sehingga tidak ada rumus paten bagaimana cara mencari dan mengabarkan berita.

“Media tidak punya literature apapun dalam menghadapi pandemi sehingga kami terus mencari formula baru bagaimana harusnya menyampaikan berita yang baik tanpa menimbulkan kepanikan masyarakat,” sebutnya.

Terkait dengan banyaknya fakenews yang beredar, Ariyanti –sapaan akrabnya– menyarankan kepada pembaca untuk tidak gampang menyebarkan informasi tanpa mengecek kebenaranya terlebih dahulu. Dia juga menyarankan untuk tidak meng-klik link berita tersebut, karena semakin banyak yang akses berita itu maka semakin banyak pula iklan dan dapat melanggengkan media itu sendiri.

Tidak jauh berbeda, Revolusi Riza Zulverdi sebagai wartawan CNN Indonesia juga menceritakan pengalamannya yang mengalami perubahan pola kerja selama pandemi. Mencari data yang biasanya dilakukan dengan bertemu narasumber langsung kini tidak bisa dia lakukan karena harus menjaga jarak.

“Kami juga mengalami kebingungan dalam menerapkan protokol kesehatan saat awal pandemi. Mau pake masker kain takut tidak manjur karena sering terjun ke lapangan bertemu banyak orang, tapi mau pake masker medis ya harganya sangat mahal dan sudah mulai langka saat itu,” kenangnya. (*)

Penulis: Nikmatus Sholikhah

Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu