OHSC UNAIR Ajak Publik Pahami Munculnya Emerging Infectious Disease

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Kelas Zoom tentang "The Human-Animal-Enviroment Interface in Emerging Infectious Disease". (Dok. Pribadi)

UNAIR NEWS – One Health Student Club (OHSC) Batch 1 Airlangga Disease Prevention and Research Center-One Health Collaborating Center (ADPRC-OHCC) pada Sabtu (12/9), kembali mengadakan kelas menggunakan platform aplikasi zoom. Mengusung tema “The Human-Animal-Enviroment Interface in Emerging Infectious Disease” kegiatan tersebut mengundang pemateri yaitu drh. Maria Aega Gelolodo.

Dalam kesempatan itu, drh. Maria mengatakan bahwa perubahan pada pola aktivitas manusia, agen penyakit, dan lingkungan mendorong peningkatan kasus infeksi baru. Baik itu Emerging Infectious Disease (EID) ataupun Re-emerging Infectious Disease. Transmisi penyakit, sambungnya, lebih cepat dan menimbulkan efek domino yang lebih komples.

“Fakta yang terjadi pada saat ini yaitu penyakit tidak lagi mengenal batasan dan hal tersebut menjadi tantangan kedepan dari kesehatan global yang semakin kompleks,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, dalam kesempatan tersebut ia juga mengatakan bahwa ancaman emerging pandemic tidak bisa hanya diselesaikan oleh salah satu pihak saja. Perlu kerja sama dan kolaborasi lintas sektor dan lintas disiplin keilmuan.

“Semula dunia mengklaim bahwa kita sudah bisa mengendalikan penyakit infeksius dengan penemuan antibiotik dan turunannya. Namun kenyataannya sekarang masih banyak penyakit infeksius seperti TBC, malaria dan sebagainya,” ujar dokter Maria.

Selain itu, tambahnya, bila melihat pada kondisi pandemi COVID-19 saat ini, bukan hanya mempengaruhi aspek kesehatan tetapi berdampak kepada semua sektor. Oleh karena hal tersebut perlu melakukan kolaborasi. Data WHO, lanjutnya, dari sekitar 1600 patogen pada manusia yang emerging disease (penyakit yang baru muncul), 60%-nya adalah penyakit zoonosis dan 75% adalah penyakit baru.

“Selain itu, 5% dari jumlah tersebut muncul setiap tahun,” tandasnya.

Dalam menelusuri kejadian awal munculnya penyakit EID, sambung drh. Maria, interaksi antara manusia, hewan, dan lingkungan menjadi faktor yang harus diperhatikan. Beberapa faktor yang dapat memunculkan EID yaitu berkembangnya populasi manusia yang menimbulkan perubahan pola pemenuhan kebutuhan hidup, perubahan gaya hidup akibat adanya globalisasi.

Faktor lainya itu eksplorasi hutan untuk mencari hewan eksotik, yang memungkinkan kontak dengan manusia. Sehingga dewasa ini muncul tren mengkonsumsi makanan yang berasal dari hewan eksotis atau hewan liar, yang dapat menjadi resiko berbahaya bagi manusia.

“Mutasi agen infeksi pada manusia bisa saja sangat membahayakan. Padahal di host atau di hewan aslinya agen infeksi tersebut hanya berupa flora normal yang tidak membahayakan bagi tubuhnya,” ujar penerima Awards INDOHUN Community Outreach Grant 2017 itu.

Dalam mengantisipasi EID, perlu memperhatikan faktor resiko. Kolaborasi ketiga elemen tersebut, tandasnya, sangat penting untuk meminimalisir kejadian tersebut. Selain itu, penting sekali melakukan pengawasan dan surveillance secara berkelanjutan.

“Kita perlu menyadari bahwa ketiga elemen tersebut dapat bersatu dengan adanya kesadaran akan konsep One Health, dan sampai saat ini, masih menjadi tantangan bagi berbagai sektoral, untuk menghindari ego sektoral tersebut,” pungkasnya. (*)

Penulis: Muhammad Suryadiningrat

Editor: Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu