Kiat Sukses Penerima Beasiswa MSD Animal Health/WVA Veterinary Student Scholarship Program 2020

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Suwaibatul Annisa mahasiswa Pendidikan Dokter Hewan UNAIR angkatan 2017 menjadi satu-satunya mahasiswa Indonesia yang berhasil mendapatkan beasiswa dari MSD Animal Health/WVA Veterinary Student Scholarship Program 2020. (Dok. Pribadi)

UNAIR NEWS – Suwaibatul Annisa atau yang akrab disapa Ica, mahasiswa Pendidikan Dokter Hewan UNAIR angkatan 2017 tersebut berhasil menjadi satu-satunya mahasiswa Indonesia yang berhasil mendapatkan beasiswa dari MSD Animal Health/WVA Veterinary Student Scholarship Program 2020. Dari program tersebut, Ica mendapatkan bantuan dana pendidikan sebesar 5000 dollar.

“Rencananya biaya tersebut akan digunakan untuk upgrade karir saya di dunia kedokteran hewan dan untuk meningkatkan pengalaman akademik saya dengan magang atau mengikuti konferensi,” ucap Ica.

Salah satu bagian yang paling berkesan bagi Ica ketika mengajukan beasiswa tersebut adalah pada tahap persiapan. Selain menyiapkan transkrip nilai dan surat keterangan aktif, Ica juga perlu meminta surat rekomendasi dari dosen dan dekan dan membuat personal statement. Pada tahap pembuatan personal statement tersebut, Ica dapat melakukan refleksi diri mengenai apa yang akan sudah dia lakukan dan akan dia lakukan.

Menurut Ica, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengajukan beasiswa. Yaitu jangan takut mencoba, jangan melakukan sesuatu mendekati waktu deadline, membaca dan memahami persyaratan program, menyiapkan surat rekomendasi dengan baik, dan membuat personal statement.

Recommendation Letter

Surat rekomendasi biasanya ditulis atau dibuat oleh dosen, dekan, atau profesor di fakultas tempat mahasiswa menuntut ilmu. Ica merekomendasikan agar mahasiswa meminta surat rekomendasi tersebut pada dosen atau profesor yang pernah bekerja sama dalam satu proyek sebelumnya. “Pilih dosen yang benar-benar kenal dan pernah bekerja sama dengan kita,” ucap Ica.

Selain itu, mahasiwa juga perlu meminta tolong dosen terkait agar menulis surat rekomendasi dengan menggunakan kata kerja bukan kata sifat. Sebagai contoh, pada surat rekomendasi sebaiknya tidak ditulis ‘Ica adalah mahasiswa yang rajin dan pekerja keras’ melainkan ‘Ica pernah berhasil mengorganisir kelas praktikum selama bergabung di departemen saya’.

“Bahasa surat rekomendasi juga harus jelas, unik, sederhana, namun berdampak,” lanjutnya.

Personal Statement

Pada pembuatan statement, mahasiswa perlu menceritakan kegiatan yang pernah dilakukan. Biasanya, terdapat beberapa hal yang perlu dituliskan dalam personal statement. Di antaranya adalah menceritakan kelebihan individu, aktivitas studi, keadaan finansial, dan potensi di masa depan. Untuk itu, mahasiswa perlu mengetahui passion mereka.

Kadang mahasiswa juga diminta untuk menuliskan tiga kontribusi yang telah mereka lakukan, tujuan karir mereka, serta peran bidang studi atau karir mereka di negara. Sehingga, mahasiswa perlu mengenali diri sendiri, potensi diri, dan bidang pekerjaan yang akan mereka geluti.

Salah satu cara untuk menemukan passion dan tujuan karir adalah dengan mencoba-coba. Mencoba segala hal sehingga tahu mana yang membuat individu merasa enjoyatau tidak, mana yang bisa diusahakan atau tidak bisa diusahakan.

“Lakukan sekarang mumpung masih muda. Coba semua hal agar tahu mana yang membuat enjoy atau tidak, mana yang bisa diusahakan atau tidak,” terang Ica.

Dalam mempersiapkan persyaratan untuk mengajukan beasiswa. Ica juga sempat mengalami hambatan. Yaitu ketika meminta surat rekomendasi dekan dari kemahasiswaan.

Menurutnya, beberapa beasiswa taraf internasional dan nasional memiliki perbedaan format dalam penulisan recommendation letter. Program beasiswa yang diikuti oleh Ica tersebut mempersyaratkan agar recommendation letter ditulis dalam bentuk esai, namun format dari kemahasiswaan fakultasnya adalah hanya dengan menyertakan nama dan nomor induk mahasiswa (NIM) mahasiswa.

“Karena recommendation letter memerlukan KOP, maka butuh waktu untuk berdiskusi dengan pihak kemahasiswaan agar mau mengubah format tersebut menjadi bentuk esai,” terang Ica.

Tantangan lain adalah dalam hal bahasa. Program beasiswa internasional mengharuskan beberapa dokumen dalam bentuk bahasa inggris. Untuk itu, mahasiswa perlu memiliki kemampuan bahasa inggris yang baik. Sehingga, mahasiswa perlu mengasah kemampuan bahasa inggris sedini mungkin.

“Persiapan berkas dan persyaratan pengajuan beasiswa jangan mendekati tenggat waktu deadline karena hal tersebut bisa membuat kita kehilangan kesempatan ketika melewati tenggat waktu,” pungkasnya. (*)

Penulis : Galuh Mega Kurnia

Editor : Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu