Ingin Belajar ke Luar Negeri? Yuk, Intip Tips Persiapan Tes IELTS dari Alumni LPDP di New Zealand!

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Zahratul Kamila alumni LPDP yang telah belajar di belajar di University of Auckland. (Foto : Istimewa)

UNAIR NEWS – Kemampuan bahasa Inggris merupakan salah satu syarat penting yang dibutuhkan untuk mendaftar dan berkuliah di luar negeri. Terdapat beberapa bentuk tes kemampuan bahasa Inggris yang diakui oleh negara-negara di dunia. Salah satunya adalah International English Language Testing System atau disingkat IELTS.

Guna memfasilitasi mahasiswa untuk menambah informasi terkait persiapan berkuliah di luar negeri, BEM Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNAIR mengadakan webinar bertajuk ‘Study Overseas to New Zealand : Why & How’. Terdapat dua narasumber pada webinar tersebut, yaitu Nur Fadhilah, penerima beasiswa LPDP yang kini tengah belajar di University of Canterbury; dan Zahratul Kamila, alumni LPDP yang telah belajar di University of Auckland.

Zahratul Kamila atau Zahra menjelaskan bahwa terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam belajar bahasa Inggris untuk persiapan tes IELTS. Di antaranya adalah vocabulary; grammar reading dan listening; writing dan speaking; dan hal terkait lainnya.

Vocabulary

Mempelajari vocabulary dapat dilakukan dengan membaca kamus bahasa Inggris seperti cambridge advance dictionary atau oxford dictionary. Proses belajar vocabulary juga perlu mengacu pada berbagai topik keilmuan, konteks, sinonim, antonim, dan cara penggunaannya.

“Hal tersebut penting karena selain untuk mengetahui arti dari sebuah kata dalam bahasa Inggris, namun juga dapat memahami penggunaan kata tersebut,” jelas Zahra.

Grammar

Ketika mempelajari grammar, setidaknya terdapat dua hal yang perlu diperhatikan. Yaitu memahami dasar-dasar grammar dan mendalaminya dengan melakukan latihan soal.

Reading and Listening

Persiapan untuk tes bagian reading dan listening dapat dilakukan dengan latihan soal dan evaluasi secara teratur. Hal tersebut karena proses penilaian pada sesi itu dilakukan secara objektif, langsung, dan terukur. Sehingga evaluasi dapat dilakukan sendiri setiap kali selesai mengerjakan latihan soal.

Writing and Speaking

Berbeda dengan reading dan listening, pada sesi writing dan speaking penilaian bersifat cukup objektif. Biasanya dinilai oleh seorang assessor untuk melihat apakah kemampuan speaking dan writing peserta layak mendapat skor berapa.

Menurut Zahra, proses belajar yang paling baik untuk meningkatkan kemampuan writing dan speaking adalah dengan terus berlatih. Selain itu, juga perlu meminta second opinion dari orang lain untuk menilai kemampuan kita. Jangan hanya diri sendiri yang menilai.

“Makin banyak latihan, makin bagus karena kemampuan ini (writing dan speaking) akan sangat penting saat berkuliah seperti pada saat presentasi atau membuat esai,” terang Zahra.

Lainnya

Hal lain yang perlu dilatih adalah manajemen waktu, ketelitian dan ketenangan. Hal tersebut penting karena peserta tes perlu memiliki keterampilan manajemen waktu yang baik dalam menjawab soal di setiap sesinya.

Ketelitian dan ketenangan penting untuk dimiliki karena ketika menjalani tes, pikiran dapat kacau ketika pada salah satu sesi terdapat soal yang belum terjawab atau salah menjawab. Ketika hal tersebut terjadi, peserta perlu fokus dan tenang agar dapat mengerjakan soal di sesi selanjutnya dengan baik.

“Selain melatih kemampuan bahasa Inggris, juga perlu melatih mental,” lanjutnya.

Selain itu, Zahra juga menyarankan agar calon peserta tes melakukan riset mengenai lembaga tes IELTS yang akan mereka pakai. Hal tersebut penting agar ketika tes tidak terjadi hal yang dapat merugikan peserta seperti kualitas speaker yang buruk, yang dapat berdampak pada skor listening.

Kemudian, juga perlu dipelajari target minimum yang ingin dicapai. Sehingga dapat memperkirakan skor minimal berapa saja yang harus diraih di setiap sesi tes.

Latihan dengan mengikuti kondisi tes sesungguhnya juga penting. Menurut pengalaman Zahra, ketika berlatih dengan menggunakan headset dia mendapatkan hasil yang baik selama latihan. Namun, ketika pada hari tes berlangsung, kualitas speaker yang kurang bagus membuat nilainya menurun.

Sebaliknya, ketika dia berlating sesi reading dengan menggunakan e-book, ketika ujian Zahra diuntungkan karena tesnya menggunakan kertas. Sehingga lebih mudah dan enak digunakan, sehingga nilai untuk reading bagus.

“Perlu latihan dengan kondisi yang kurang bagus, sehingga ketika hari ujian datang akan merasa lebih enak ketika mengerjakan tes,” terangnya.

Calon peserta juga perlu menyusun jadwal agar tidak terdistraksi lingkungan luar. Mereka harus disiplin belajar setiap hari agar mendapat hasil yang maksimal. (*)

Penulis : Galuh Mega Kurnia

Editor : Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu